<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045</id><updated>2011-11-26T20:37:46.841-08:00</updated><title type='text'>Rakim's Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-1212258575070487241</id><published>2008-06-09T17:37:00.000-07:00</published><updated>2008-06-09T17:40:31.405-07:00</updated><title type='text'>Tugas Kelompok dari Ir. Moh.Adriyanto, MSM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;                  Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan  ini berkembang dengan pesat, sehingga hal ini mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi yang lain  diantaranya melalui jaringan internet.&lt;br /&gt;                  Salah satu bidang yang mendapat dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan. Berbagai cara telah dikenalkan serta digunakan dalam proses belajar mengajar (PBM) dengan harapan pengajaran guru akan lebih berkesan  dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga mutu pendidikan seiring dengan  perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;                  Perkembangan teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan lain-lain. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehinggga mendapatkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi pelajar, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi, karena tidak terfokus pada teks dari buku. Kemampuan teknologi multimedia yang telah terhubung internet akan semakin menambah kemudahan dalam mendapatkan informasi  untuk kepentingan pembelajaran.&lt;br /&gt;                  Kondisi di SMP Yayasan Pupuk Kaltim dalam mengikuti perkembangan teknologi multimedia mengalami tahapan-tahapan permasalahan. Secara umum masalah awalnya adalah mengenai sarananya semisal LCD, OHP, TV, Komputer berjaringan, Internet dan DVD . Permasalahan awal telah terselesaikan munculah permasalahan berikutnya dari sisi pengunanya yaitu Bapak/Ibu guru belum siap untuk mengikuti perkembangan teknologi multimedia ini. Sebenarnya multimedia pembelajaran ini tidak hanya peralatan elektronik yang telah disebutkan diatas, jika Bapak/Ibu guru mau berusaha keras untuk memanfaatkan apa yang ada dilingkungannya untuk bahan atau alat yang dapat membantu dalam proses pembelajaran itu sudah cukup dikatakan mengikuti perkembangan teknologi multimedia pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULTI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;1.      PENGERTIAN MULTIMEDIA&lt;br /&gt;Menurut Wikipedia Indonesia ensiklopedia berbahasa Indonesia pengertian multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool)  dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat bernavigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Sedangkan Jamaluddin dan Zaidatun  menerangkan bahwa multimedia sebagai proses komunikasi interaktif berasaskan teknologi komputer yang menggabungkan penggunaan unsur-unsur media dalam persembahan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM MULTIMEDIA&lt;br /&gt;Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam multimedia yang baik adalah :&lt;br /&gt;a.             Pengoperasian yang mudah dan familiar&lt;br /&gt;b.            Mudah untuk install ke computer yang akan digunakanan&lt;br /&gt;c.             Media pembelajaran yang interaktif dan komunikatif&lt;br /&gt;d.            Sistem pembejaran yang mandiri artinya siswa dapat belajar dengan mandiri baik disekolah maupun dirumah tanpa bimbingan dari guru.&lt;br /&gt;e.             Sedapat mungkin dengan biaya yang ringan dan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      JENIS-JENIS MULTIMEDIA&lt;br /&gt;Berdasarkan kegunaannya multimedia pembelajaran ada 2 macam yaitu:&lt;br /&gt;a.       Multimedia presentasi pembelajaran . &lt;br /&gt;      Multimedia presentasi pembelajaran adalah alat bantu guru dalam proses pembelajaran dikelas dan tidak menggantikan guru secara keseluruhan. Contohnya Microsoft Power Point.&lt;br /&gt;b.      Multimedia pembelajaran mandiri.&lt;br /&gt;                  Multimedia pembelajaran mandiri adalah sofware pembalajaran yang dapat dimanfaatkan oleh siswa secara mandiri tanpa bantuan guru. Multimedia pembelajaran mandiri harus dapat memadukan explicit knowledge dan tacit knowledge , mengandung fitur assemen untuk  latihan,ujian  dan simulasi termasuk tahapan pemecahan masalah.Contohnya Macromedia Authorware atau Adobe Flash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERLUNYA MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;                  Didalam kegiatan proses belajar mengajar (PBM) sering kali dihadapkan pada materi yang abstrak dan diluar pengalaman siswa sehari-hari,sehingga  materi ini sulit untuk diajarkan oleh guru dan dipahami oleh siswa..Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dalam  proses belajar mengajar. Visualisasi pada proses pembelajaran berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia diharapkan membuat visualisasi lebih menarik.&lt;br /&gt;Edgar Dale dalam Rahardjo (1991) menggambarkan pentingya visualisasi dan verbalistis dalam pengalaman belajar yang disebut “Kerucut pengalaman Edgar Dale” dikemukakan bahwa ada suatu kontinuum dari konkrit ke abstrak antara pengalaman langsung, visual dan verbal dalam menanamkan suatu konsep atau pengertian. Semakin konkrit pengalaman yang diberikan akan lebih menjamin terjadinya proses belajar. Namun, agar terjadi efisiensi belajar maka diusahakan agar pengalaman belajar yang diberikan semakin abstrak (“go as low on the scale as you need to ensure learning, but go as high as you can for the most efficient learning”). Raharjo (1991 menyatakan bahwa visualisasi mempermudah orang untuk memahami suatu pengertian.&lt;br /&gt;Dalam hal ini computer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multideminsional secara interaktif. Visualisasi tersebut akan mempermudah dalam memilih, mensintesa dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahami. Multimedia hanya salah satu sarana yang mempermudah proses belajar mengajar tetapi belum tentu sesuai untuk menyajikan semua pokok bahasan dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMANFAATAN  MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;1.            Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif&lt;br /&gt;2.            Mampu menimbulkan rasa senang selama PBM berkangsung sehingga akan menambah motivasi siswa.&lt;br /&gt;3.            Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung sehingga tercapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;4.            Mampu menvisualisasikan materi yang abstrak.&lt;br /&gt;5.            Media penyimpanan yang relative gampang dan fleksibel&lt;br /&gt;6.            membawa obyek yang sukar didapat atau berbahaya ke dalam lingkungan belajar&lt;br /&gt;7.            menampilkan obyek yang terlalu besar kedalam kelas&lt;br /&gt;8.            menampilkan obyek yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOLUSI PENGGUNAAN  MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Memanfaatkan media yang ada disekitar kita disesuaikan kemampuan yang kita miliki.&lt;br /&gt;2.      Perlunya sarana dan prasarana yang mendukung PBM baik sarana tradisional maupun yang modern.&lt;br /&gt;3.      Guru yang memiliki kualitas kompetensi akademik dan profesional yang tinggi atau memadai dibidang teknologi modern yang diterapkan pada proses pembelajaran.&lt;br /&gt;4.      Mengubah budaya para pendidik dari mengajar menjadi belajar.&lt;br /&gt;5.      Memberikan kegiatan semacam lokakarya, diskusi kelompok, MGMP guna menambah pengetahuan tentang penggunaan teknologi multimedia dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;6.      DIKNAS kota harus bertanggung jawab untuk pengembangan SDM para guru tentang teknologi multimedia ini serta terus memantau perkembangan serta peningkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selengkap dan secanggih apa pun prasarana dan sarana pendidikan, tanpa didukung oleh mutu guru yang baik, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;Secara subtantif-teoretis, taraf prestasi atau kualitas pendidikan dikategorikan baik didasari atas prestasi atau tingkat kecerdasan siswa yang secara umum baik; siswa akan berprestasi atau cerdas tidak terlepas dari prestasi atau kecerdasan yang dimiliki gurunya; guru akan berprestasi atau cerdas terkait dengan prestasi atau kecerdasan yang dimiliki dosennya (gurunya ketika menimba ilmu ); dosen akan berprestasi atau cerdas bergantung kepada fasilitas atau sarana yang dimiliki institusinya, baik saat mendalami ilmu maupun ketika melaksanakan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Bambang Aryan Soekisno, Pengembangan ICT Dalam Pembelajaran di SMA, Bogor, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ouda Teda Ena, Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Perkembangan Kurikulum Kementerian Pendidikan Malaysia, Produksi Multimedia, 2000&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Multimedia"&gt;http://ms.Wikipedia.org/wiki/Multimedia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsel Ruben Payong, 2001, Beberapa Masalah dalam Pembelajaran Multimedia, Harian Sinar Harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-1212258575070487241?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/1212258575070487241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=1212258575070487241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/1212258575070487241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/1212258575070487241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/tugas-kelompok-dari-ir-mohadriyanto-msm.html' title='Tugas Kelompok dari Ir. Moh.Adriyanto, MSM'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-4886405690728728127</id><published>2008-06-09T05:39:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:40:21.771-07:00</updated><title type='text'>PERMASALAHAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PERMASALAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      PENGERTIAN RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Rumusan masalah merupakan hal yang penting dalam penelitian karena rumusan masalah akan dijawab dalam temuan penelitian.  Suatu masalah dapat dikatakan masalah jika seseorang berusaha untuk memecahkannya sampai berhasil. Rumusan masalah yang baik haruslah bersifat direksional, artinya masalah harus memberikan indikasi atau pemecahan yang bersifat langsung terhadap variabel yang akan diteliti. Dalam penulisan sebuah rumasan masalah hendaknya disusun secara singkat, padat, jelas dan dituangkan dalam  bentuk kalimat tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      Pengertian rumusan masalah&lt;br /&gt;·         Menurut Pariata Westra (1981 : 263 ) bahwa “Suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”&lt;br /&gt;·         Menurut Sutrisno Hadi ( 1973 : 3 ) “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah ialah  celah antara apa yang diharapkan dan fakta yang ditemukan di lapangan, dimana pernyataan atau pertanyaan yang menjadi fokus seorang peneliti untuk bekerja dalam sebuah penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Sejarah permasalahan&lt;br /&gt;1.      Alasan - alasan mengapa masalah perlu diselidiki&lt;br /&gt;2.      Masalah masalah empiris dari pengalaman dan peninjauan studi yang sama&lt;br /&gt;3.      Teori permasalahan pokok dari teori yang ada&lt;br /&gt;4.      Sumber sumber masalah : celah antara rencana dan kenyataan, penolakan, persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam membuat rumusan masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan pada variabel yang ditetapkan, rumusan pertanyaan yang lebih spesifik&lt;br /&gt;Menggunakan kalimat pertanyaan (research question)&lt;br /&gt;Pertanyaan penelitian harus bisa diukur dan jelas&lt;br /&gt;Menyatakan dimensi tempat, waktu dan objek&lt;br /&gt;Dijawab dalam bab penemuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      MACAM-MACAM RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;Penelitian pada tingkat eksplanasi ( artinya memberikan keterangan terhadap variable-variabel yang akan di teliti tentang objek penelitian melalui data yang dikumpulkan ) dibagi tiga yaitu diskripsi, komperatif dan asosiatif. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan penelitian diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.       Permasalahan yang bersifat deskriptif yaitu permasalahan yang tidak membandingkan dan menghubungkan dengan variable lain hanya menggambarkan variable saja. Penelitian tingkat eksplanasi paling sederhana adalah diskriptif.  Misalnya seorang peneliti ingin mengetahui dalam masalah produktifitas karyawan, disiplin pegawai, minat pegawai, tingkat motivasi kerja pegawai, peran pimpinan, kemampuan kerja pegawai,prestasi belajar, tingkat keberhasilan, analisis pembayaran pajak dan lain –lain. Masing-masing  hanya berkenaan dengan satu variable saja, dan tidak menghubungkan atau membandingkan dengan variable lain, penelitian diskriptif hanya menggambarkan tentang sampel atau populasi. Penelitian bentuk diskriptif ini hasilnya tidak dapat digunakan generalisasi pada populasi ataupun tidak dapat digunakan untuk mengontrol pada populasi.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;1.      Seberapa banyak hasil panen padi di kota Kebumen ?&lt;br /&gt;2.      Seberapa banyak hasil panen udang windu di Kabupaten Sidoarjo ?&lt;br /&gt;3.      Seberapa tinggi motivasi kerja karyawan PT. Dzurnain ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Permasalahan bersifat komparatif adalah permasalahan yang menggambarkan perbedaan karakteristik dari dua variable atau lebih. &lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;1.      Adakah perbedaan kemampuan kerja  pegawai antara perusahaan Pertamina denganPerusahaan Pertamina di Jakarta.&lt;br /&gt;2.      Adakah perbedaan kualitas belajar mahasiswa tugs belajar dengan mahasiswa izin belajar dalam pelajaran statistik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Permasalahan bersifat asosiatif adalah permasalahan yang menghubungkan atau pengaruh antara dua variable atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut sifat hubungannya terdiri dari tiga jenis yaitu :&lt;br /&gt;1.      Hubungan simetris ialah hubungan yang bersifat kebersamaan antara dua variable atau lebih. Adapun menurut sifat hubungannya terdiri dari dua jenis yaitu :&lt;br /&gt;a.       Adalah hubungan antara poster tubuh seseorang dengan gaya kepemimpinan ?&lt;br /&gt;b.      Adakah hubungan antara keaktifan mengikuti kegiatan organisasi dengan tingginya prestasi belajar ?&lt;br /&gt;2.      Hubungan sebab akibat ( kausal ) ialah hubungan yang bersifat mempengaruhi antara dua variable atau lebih.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a.       Seberapa besar pengaruh tambahan gaji pegawai terhadap disiplin kerja pegawai ?&lt;br /&gt;b.      Seberapa besar pengaruh pupuk terhadap hasil panen padi ?&lt;br /&gt;3.      Hubungan interaktif ialah hubungan antara dua variable atau lebih yang bersifat saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;a.       Adakah hubungan antara pemberian insentif dengan kinerja pegawai ?&lt;br /&gt;b.      Adakah hubungan antar pendidikan, sikap dan kepribadian dengan keterampilan kerja ?&lt;br /&gt;Untuk penelitian deskriptif, rumusan masalah perlu dibuat lebih dari satu, karena tujuan penelitian ialah untuk memberikan penjelasan “Mengapa dan bagaimana “ suatu variable diamati. Sedangkan untuk penelitian korelasi dan asosiatif cukup memerlukan satu rumusan masalah. Jika rumusan masalah dalam penelitian korelasi dan asosiatif akan dibuat lebih dari satu maka rumusan masalahnya dibuat dalam bentuk masalah pokok, kemudian dibuat ke dalam sub-sub masalah.&lt;br /&gt;3.      ANALISIS PERMASALAHAN&lt;br /&gt;Ringkasan tinjauan variabel  yang diselidiki&lt;br /&gt;Identifikasi variabel dalam pelaksanaan yang beralasan&lt;br /&gt;Peninjauan dan ilustrasi seharusnya merujuk pada sumber yang teoritis  dan empiris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      BATASAN &amp;amp; LAHAN PERMASALAHAN&lt;br /&gt;Spesifik hanya pada variabel yang diselidiki dalam bentuk diskripsi operasional  &lt;br /&gt;Argumen yang logika mengapa pembatasan harus rasional&lt;br /&gt;Rumusan alasan yang ditetapkan pada variabel yang tepat dan sesuai dengan sejarah permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      BENTUK  PERTANYAAN PENELITIAN YANG BAIK (GOOD RESEARCH QUESTION)&lt;br /&gt;Feasible : jawaban pertanyaan harus merujuk pada sumber yang pasti/nyata, jelas dan efisien&lt;br /&gt;Clarity : mengembangkan persepsi dan konsepsi yang sama untuk semua pembaca&lt;br /&gt;Significance : kontribusi pengembangan ilmu pengetahuan  dan pemecahan masalah&lt;br /&gt;Ethnic : tidak berhubungan dengan suku, moral, kepercayaan , nilai nilai dan agama&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-4886405690728728127?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/4886405690728728127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=4886405690728728127' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/4886405690728728127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/4886405690728728127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/permasalahan.html' title='PERMASALAHAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-648264659889673078</id><published>2008-06-09T05:38:00.003-07:00</published><updated>2008-06-09T05:41:51.622-07:00</updated><title type='text'>BELAJAR BERJARINGAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;BELAJAR BERJARINGAN&lt;br /&gt;KELAS LOKAL BERWAWASAN GLOBAL&lt;br /&gt;Mengapa Virtual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·         Perubahan dari pendidikan terpusat menjadi Tersebar.&lt;br /&gt;·         Fleksibilitas dalam ruang dan waktu.&lt;br /&gt;·         Bahan ajar yang disajikan dalam multimedia dengan suara dan gambar yang dinamis, tidak membosankan, serta padat informasi.&lt;br /&gt;·         Selfpace learning:&lt;br /&gt;Kecepatan belajar ditentukan oleh diri sendiri bukan oleh kemampuan yang diseragamkan dalam kelas.&lt;br /&gt;·         Selfmotivated learning:&lt;br /&gt;Memacu kemampuan belajar mandiri.&lt;br /&gt;·         Perubahan dari teacher centric (guru sebagai pusat pembelajaran) menjadi learner centric/murid sebagai pusat pembelajaran.&lt;br /&gt;·         Perubahan dari entry barrier (seleksi ketat) menjadi output quality standard (lulusan berkualitas stardard). Bukan masuknya yang dipersulit, tapi lulusannya yang harus memenuhi standard kualitas. Sementara lamanya belajar tergantung motivasi, kecerdasan, dan usaha masing-masing peserta didik.&lt;br /&gt;·         Interaksi antara pengajar dan peserta-didik dilakukan tidak hanya dengan tatap-muka, tetapi juga melalui surat-menyurat elektronis, sehingga meningkatkan kemampuan baca-tulis.&lt;br /&gt;sumber: Justiani Maulani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Belajar Mengajar (PBM) konvensional mulai ditinggalkan. Interaksi belajar yang mengharuskan tatap muka antara siswa dan guru tidak diperlukan lagi. Kelengkapan sarana prasarana sekolah secara fisik yang seringkali menjadi hambatan dalam dunia pendidikan Indoensia mulai tidak diperlukan dengan hadirnya “belajar berjaringan di dunia maya”lewat internet.&lt;br /&gt;            Pendidikan di Indonesia pada umunya masih berupa sistem pendidikan konvensional. Pendidikan masih terpusat pada pendidikan formal dengan kurikulum nasional. Lambat laun Indonesia pun harus beralih kepada pendidikan “berjaringan” di dunia maya lewat pasilitas koneksi internet. Sehingga walaupun kelas-kelas belajar di lokal Indonesia tetapi dengan wawasan global internasional dengan fasilitas pembelajaran “berjaringan”.&lt;br /&gt;            Fasilitas kelas virtual dapat menggantikan sarana prasarana belajar konvensional. Seperti; Layar komputer atau layar mungil ponsel, tidak memerlukan prasyarat kehadiran fisik, Dosen bisa jadi sedang duduk di sebuah kampus di Inggris tatkala sang mahasiswa di Indonesia tekun menyimak kuliahnya di layar monitor secara berjaringan lewat internet&lt;br /&gt;Kelas virtual adalah cara baru kuliah yang lebih mutakhir, seluruh aktifitas dilakukan dalam media multimedia.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;·         Tatap muka dengan dosen melalui fasilitas konferensi video (video conference) atau layar mungil ponsel lewat fasilitas teknologi 3G.&lt;br /&gt;·         Grup diskusi dilakukan secara serempak dalam fasilitas maya di internet bisa melalui konferensi video, chating, mailng list atau forum.&lt;br /&gt;·         Materi kuliah disajikan dalam bentuk picture, video striming, power point atau simulator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Belajar “Online” di Dunia Maya:&lt;br /&gt;·         Kampus di dunia maya, mahasiswa di seantero dunia, didoseni para professor jempolan dari seluruh dunia.&lt;br /&gt;·         Belajar via jaringan menyajikan fleksibilitas ruang dan waktu. Peserta bisa tetap kuliah tanpa harus meninggalkan,misalnya pekerjaan kantor. Belajar dimana saja, kapan saja. Meski skejul kuliah terkesan dinomorduakan e-learning memberikan peluang belajar lebih efektif. ''Orang lebih cepat pintar.''&lt;br /&gt;·         Jalur dunia maya membuka katup penyumbat. Memungkinkan mahasiswa online belajar dan berdiskusi dengan teman-teman dari seluruh dunia. Sekaligus bertanya langsung kepada pakar-pakar top di belahan benua lain, baik lewat group discussion ataupun konsultasi privat melalui e-mail dan internet messenger.&lt;br /&gt;·         Fasilitas multimedia, juga memberi peluang mahasiswa memperoleh materi pelajaran yang jauh lebih kaya ketimbang buku-buku teks tradisional. Contohnya tatkala kita belajar fisika. Di layar monitor, gerakan gelombang bisa disimulasikan dalam tiga dimensi. Suara gelombang bisa dimunculkan bersamaan. ''Bukan cuma dituliskan di white board,'' .&lt;br /&gt;·         kuliah secara virtual terbukti ampuh membuka sumbat-sumbat perasaan negative mahasiswa lebih punya nyali untuk bertanya. Jika saat kuliah di kelas cenderung ogah mengacungkan tangan,''Di ruang virtual, bisa leluasa bertanya,''. Perasaan 'malu-malu kucing' raib seketika manakala perkuliahan dilakoni tanpa kehadiran sang dosen secara fisik atau teman-teman kuliah--yang barangkali sering usil.&lt;br /&gt;·         Lewat internet, setiap warga berpeluang memperoleh materi pengajaran yang sama-sama qualified tanpa pandang bulu. Internet, pada akhirnya, menjadi salah satu alat demokratisasi pendidikan. ''Semua orang berpeluang mendapatkan pendidikan berkualitas sekaligus lebih murah,''. Tak perlu lagi gedung-gedung bertingkat--pemicu melambungnya biaya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala Belajar “Berjaringan” di Indonesia&lt;br /&gt;·         Konsep belajar berjaringan sebuah daya tarik yang magnetik, meski itu baru secara teoritik karena pada kenyataannya, negeri kita  masih diganjal kendala ketersediaan infrastruktur. Belum seluruh wilayah Indonesia dihampari jaringan internet ber-bandwith besar. Dan, lalu lintas transportasi data berkapasitas gemuk--seperti materi kuliah video conference--sulit dilakukan.&lt;br /&gt;·         Tidak semua masyarakat Indonesia mengerti dan bisa mengakses internetItu sebetulnya tanggung jawab pemerintah. Dalam kerangka Millenium Development Goal sudah dipastikan bahwa telekomunikasi harus menjadi infrastruktur publik. Adalah tugas masing-masing pemerintah mendemokratisasikan akses internet untuk setiap warganegara. Di negara-negara lain sudah gratis. Di sini, Telkomnya bukannya diarahkan untuk publik malah diarahkan ke korporasi.&lt;br /&gt;·         Belajar di universitas virtual amat fleksibel. Tidakkah ini menjadi bumerang. Ada yang bilang mahasiswa Indonesia tidak disiplin?&lt;br /&gt;Justru konsep seperti ini membuat orang disiplin. Satu hari saja kita nggak masuk ke kelas virtual, komputernya langsung mencatat. Berapa lama kita belajar di kelas virtual juga langsung dicatat. Termasuk, berapa menit kita bisa menyelesaikan soal ujian. Sangat disiplin. Saya bisa umumkan kuis dibuka sampai minggu depan. Tanggal sekian jam sekian. Lewat dari itu mahasiswa yang nggak ikut kuis, nggak bisa ngomel. Seperti itu yang dimaksud kedisiplinan.&lt;br /&gt;            Contoh-contoh Universitas Virtual: Ada puluhan, jika bukan ratusan, lembaga pendidikan tinggi di mancanegara yang mulai menyuguhkan sistem belajar on-line. Ada yang seratus persen on-line, ada pula yang mengombinasikannya dengan tatap muka di kampus, seperti:&lt;br /&gt;·         Universitas of Phoenix online di Amerika Serikat&lt;br /&gt;·         Universitas Virtual Syria&lt;br /&gt;·         Universitas Virtual Kanada&lt;br /&gt;·         Universitas Virtual Hongkong, dll.&lt;br /&gt;Pada masa yang akan datang pendidikan berjaringan (Online) tidak hanya anggapan atau cerita pendidikan di negara-negara maju saja, tetapi akan menjadi pilihan-pilihan pembelajaran dan kebutuhan para peserta didik dan guru termasuk di Indoensia. Belajar berjaringan memerlukan fasilitas internet.&lt;br /&gt;Internet merupakan salah satu keajaiban dunia yang baru versi lembaga privat asal Swiss, New7wonder, diumumkan New Seven Wonders of the World dalam perayaan megah yang dihelat di Portugal—USA. Internet, sejak migrasinya dari Pentagon ke dunia sipil pada  dasawarsa 1990-an, telah menciptakan revolusi di pelbagai ranah kehidupan, termasuk pendidikan.&lt;br /&gt;Globalisasi adalah salah satu alasan. Atas nama globalisasi,  alangkah relevannya mengarusutamakan sistem belajar on-line. Bahkan melembagakannya lewat universitas virtual. Universitas on-line ini, ditujukan mencetak lulusan-lulusan berstandar global. Sebab,''Seiring globalisasi, kelak hanya akan ada satu standar (di dunia kerja). Yakni standar global,''.&lt;br /&gt;Dan, cuma ada satu 'jalan ekspres' meraih predikat ini: Membuka akses terhadap sumber-sumber pengetahuan berstandar global. Ini dimungkinkan lewat jalur universal internet. ''Para mahasiswa (universitas virtual) dapat bertanya langsung dengan para the best brain in the world,''.&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, kehadiran sistem belajar berjaringan menjadi kian relevan menimbang masih jomplangnya distribusi pendidikan berkualitas antara masyarakat mampu dan tidak mampu. Yang miskin masuk sekolah kumuh dan tetap bodoh, sementara yang kaya duduk di sekolah bonafid dan semakin pintar. Keberadaan belajar berjaringan sangat diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.  Perkembangan daya dukung sarana prasarana belajar berjaringan diharapkan lambat laun mengarah ke kemajuan dengan konsentrasi pemerintah untuk membatu pemecahan permasalahan pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;(Disusun dari berbagai sumber untuk memenuhi tugas Mata Kuliah TIK dalam Pendidikan Program Pasca Sarjana Kependidikan Universitas Mulawarman)&lt;br /&gt;Oleh : Drs. Rakim (NIM.0805136192)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi Web :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Judul      :  Universitas Virtual&lt;br /&gt;Alamat   :  &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran%20detail.asp?id=333536&amp;amp;kat%20id=3"&gt;http://www.republika.co.id/koran detail.asp?id=333536&amp;amp;kat id=3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis   :  Justiani Maulani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Judul      :  Global di Kelas Lokal&lt;br /&gt;Alamat   :  &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran%20detail.asp?id=333536&amp;amp;kat%20id=3"&gt;http://www.republika.co.id/koran detail.asp?id=333536&amp;amp;kat id=3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis   :  Justiani Maulani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Judul      :   Virtual University: Real Learning&lt;br /&gt;Alamat  :&lt;a href="http://www.whirligig.com.au/GlobalEducatorWeb/articles/MoodieGavin2000.pdf"&gt;http://www.whirligig.com.au/GlobalEducatorWeb/articles/MoodieGavin2000.pdf&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis    :  Gavin Moodie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-648264659889673078?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/648264659889673078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=648264659889673078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/648264659889673078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/648264659889673078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/belajar-berjaringan.html' title='BELAJAR BERJARINGAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-1343130480182768784</id><published>2008-06-09T05:38:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:39:33.233-07:00</updated><title type='text'>PENULISAN LAPORAN PENELITIAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PENULISAN LAPORAN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Tahap terakhir yang merupakan tahap paling penting dalam proses pelaksanaan penelitian adalah tahap menulis laporan hasil penelitian. Betapapun pentingnya teori dan hipotesis suatu penelitian, atau betapapun hati-hati dan telitinya rancangan dan pelaksanaan penelitian itu, atau bagaimanpun hebatnya penemuan-penemuan penelitian itu, semuanya akan kecil hasilnya apabila hasil penellitian itu tidak dilaporkan secara tertulis. Penelit membutuhkan komunikasi dengan pihak lain sehingga pengalaman penelitiannya dapat menambah perbendaharaan untuk kepentingan perkembangn ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Bentuk, isi, dan cara melaporkan hasil penelitian akan menentukan bagaiman proses penyebaran pengalaman penelitian dapat berlangsung secara semestinya didalalm masyarakat luas.&lt;br /&gt;Untuk berhasilnya penyebaran pengalaman penelitian,peneliti perlu mempertimbangkan beberapa pertanyaan dasar seperti : apa yang akan dilaporkan, siapa yang akan menerima laporan, dengan jalan apa laporan itu disebarluaskan, apa pengaruh penyebaran laporan itu?.&lt;br /&gt;Pertimbangan pertama dalam seni menyusun laporan adalah menentukan siapa yang menjadi konsumuen dari laporan itu. Dalam proses laporan dan pihak pembaca hasil laporan itu&lt;br /&gt;Bentuk, bahasa, dan cara menyusun laporan penting juga dipertimbangkan, yaitu sejauh mungkin diusahakan agar isi laporan dapat dipahami oleh pihak pembaca hasil laporan itu. Dalam pelaporan hasil penelitian berdasarkan data statistik, penggunaan tabel dan diagram merupakan alat yang berguna dalam menyajikan dan menjelaskan data yang berhasil dikumpulkan&lt;br /&gt;Akhirnya, pentingnya penellitian itu tergantung pada bagaimana penemuan-penemuan itu didiskusikan dan ditafsirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Jika suatu penelitian sudah selesai dilakukan, maka peneliti harus membuat laporan hasil penelitian dalam bentuk tertulis. Laporan penelitian merupakan bentuk pertanggungjawaban. Ada berbagai versi laporan hasil penelitian tergantung dari lembaga ataupun pakar mana yang menulisnya. Sekalipun demikian ada benang merah dalam isi penulisan laporan, yaitu terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut:&lt;br /&gt;Laporan terdiri atas : Bagian I berisi Pendahuluan; Bagian II berisi Metodologi yang digunakan; Bagian III berisi Hasil Penelitian dan Bagian V berisi Kesimpulan dan Saran.&lt;br /&gt;2 Beberapa Model Bentuk Laporan&lt;br /&gt;2.1 Laporan Hasil Penelitian Bisnis: Laporan hasil penelitian&lt;br /&gt;contohnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.      Judul&lt;br /&gt;2.      Ringkasan Ekskutif (abstrak)&lt;br /&gt;3.      Daftar Isi&lt;br /&gt;4.      Pendahuluan&lt;br /&gt;5.      Isi Laporan yang mencakup:&lt;br /&gt;a.       Metodologi&lt;br /&gt;b.      Hasil Penelitian&lt;br /&gt;c.       Batasan-Batasan&lt;br /&gt;6.      Kesimpulan dan Saran&lt;br /&gt;7.      Apendiks yang mencakup:&lt;br /&gt;a.       Instrumen Koleksi Data&lt;br /&gt;b.      Tabel-Tabel&lt;br /&gt;c.       Bahan-Bahan Pendukung yang Cocok Lainnya&lt;br /&gt;(Cosenza, 1985:449)&lt;br /&gt;Secara lebih detil dapat diterangkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Judul mengidentifikasi subyek laporan hasil penelitian&lt;br /&gt;Ringkasan Eksekutif berisi ringkasan hasil laporan secara keseluruhan biasanya membicarakan hasil temuan penelitian, metode yang digunakan serta kesimpulannya&lt;br /&gt;Daftar Isi berisi tentang judul-judul dan sub-judulnya pokok-pokok bahasan seluruh isi laporan hasil penelitian&lt;br /&gt;Pendahuluan berisi tentang informasi latar belakang yang dibutuhkan oleh pembaca agar dapat memahami isi hasil penelitian. Dalam bagian ini diterangkan tujuan penelitian dan informasi tambahan lainnya yang akan menuntun pembaca untuk dapat memahami isi hasil penelitian&lt;br /&gt;Isi menguraikan tentang detil-detil pokok penelitian mencakup&lt;br /&gt;1) metodologi apa yang digunakan dalam melakukan penelitian tersebut,&lt;br /&gt;2) hasil penelitian sebenarnya,&lt;br /&gt;3) pernyataan adanya keterbatasan yang ada dalam penelitian tersebut.&lt;br /&gt;Metodologi terutama mendiskusikan tentang metode dan prosedur yang digunakan dalam mengumpulkan dan menganalisa data. Pada bagian metodologi ini peneliti harus menguraikan semua hal yang berkaitan dengan penggunaan metode dan prosedur pengumpulan dan analisa data secara detil sehingga pembaca dapat melihat kualitas hasil penelitian tersebut melalui cara-cara peneliti menggunakan metode dan prosedur dalam melakukan kegiatan penelitian tersebut.&lt;br /&gt;Pada bagian hasil penelitian peneliti harus dapat secara jelas menggambarkan temuan-temuan pokok penelitian yang dipaparkan secara logic dan mudah dipahami oleh pembaca misalnya dengan menggunakan bantuan grafik, table atau gambar.&lt;br /&gt;Pada bagian batasan hasil penelitian peneliti menuliskan pernyataan mengenai batasan-batasan studi, yang biasanya menguraikan secara eksplisit bahwa peneliti ingin mendapatkan hasil penelitian yang sempurna, tetapi pada kenyataannya tujuan tersebut tidak akan pernah tercapai. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan kelemahan-kelemahan hasil penelitiannya kepada para pembacanya agar mereka menyadari adanya kelemahan-kelemahan dalam studi tersebut.&lt;br /&gt;Kesimpulan dan Saran pada bagian ini peneliti harus mampu menggambarkan rasional atau alasan ilmiah dari mana kesimpulan itu dihasilkan. Langkah-langkah dalam menyusun kesimpulan harus diterangkan tahapannya secara detil sehingga pembaca dapat mengetahui dari mana asal kesimpulannya; sehingga peneliti memberikan saran-saran sebagaimana yang ditulisnya.&lt;br /&gt;Apendiks berisi semua informasi dan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan penelitian tersebut, misalnya instrumen untuk mengumpulkan data, table-table penghitungan komputer dan bahan-bahan lain yang sesuai dan digunakan dalam penelitian tersebut.&lt;br /&gt;2.2 Laporan Hasil Ilmiah (Umum): Laporan hasil penelitian ilmiah (umum) contohnya akan diambil dari ketentuan Lembaga Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai berikut:&lt;br /&gt;SISTEMATIKA LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN&lt;br /&gt;Lembar Identitas dan Pengesahan&lt;br /&gt;Ringkasan dan Summary&lt;br /&gt;Prakata&lt;br /&gt;Daftar tabel&lt;br /&gt;Daftar Gambar&lt;br /&gt;Daftar Lampiran&lt;br /&gt;Bab I. Pendahuluan&lt;br /&gt;Bab II. Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;Bab III. Tujuan dan Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Bab IV. Metode Penelitian&lt;br /&gt;Bab V. Hasil dan Pembahasan&lt;br /&gt;Bab VI. Kesimpulan dan Saran&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Lampiran&lt;br /&gt;(termasuk instrumen penelitian, personalia tenaga peneliti beserta kualifikasinya, dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;1.      S. Margono, Drs. Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta. 2007&lt;br /&gt;2.      &lt;a href="http://www.depkes.go.id/"&gt;www.depkes.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3.      www. Kupalima.wordpress.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-1343130480182768784?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/1343130480182768784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=1343130480182768784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/1343130480182768784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/1343130480182768784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/penulisan-laporan-penelitian.html' title='PENULISAN LAPORAN PENELITIAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-3440064044178899114</id><published>2008-06-09T05:37:00.000-07:00</published><updated>2008-06-09T05:38:01.297-07:00</updated><title type='text'>METODE PENILITIAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;METODE PENILITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.    PENGERTIAN METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              Metode adalah suatu kerangka kerja untuk melakukan tindakan, atau suatu kerangka berfikir menyusun gagasan, yang beraturan, terarah dan terkonteks, yang relevan dengan maksud dan tujuan. Secara ringakas, metode adaalah suatu sistem untuk melalukan suatu tindakan.&lt;br /&gt;Karena berupa sistem maka metode merupakan seperangkat unsur-unsur yang membentuk satu kesatuan.&lt;br /&gt;      Unsur-unsur metode adalah wawasan intelektual, konsep, cara pendekatan (approach) persoalan, dan rancang bangun atas data (database).&lt;br /&gt;Wawasan intelektual berkenaan dengan nalar, tanggap rasa (sensation), pemahaman (perception), pengalaman, dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Konsep adalah hasil proses intelektul berpa kejadian imajinatif untuk memperluas dan menambah pemahaman sehingga dapat dibentuk gagasan baru yang dapat menganalisis persoalan secara lebih cermat.&lt;br /&gt;Cara berkenaan dengan pola berfikir.&lt;br /&gt;Alas data adalah cerminan citra tentang “kenyataan” yang dimiliki seorang peneliti, atau pemahaman peneliti tentang “kenyataan”. Alas data dirancang bangun sedemikian rupa agar semua data yang terkumpul dapat dialokasikan kepada keddukan atau fungsi yang sepadan menurut maksud dan tujuan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Penelitian (research ) adalah suatu kegiatan mengkaji (study) secara tiliti dan teratur dalam suatu bidang ilmu menurut kaidah tertentu. Kaidah yang dianut adalah kaidah metode.&lt;br /&gt;Mengkaji adalah suatu usaha memperoleh atau menambah pengetahuan. Jadi, meneliti dilakukan untuk memperkaya dan meningkatkan kefahaman tentang sesuatu.&lt;br /&gt;      Dalam penelitain ada kegiatan penyelidikan (investigation), yaitu mencari fakta secara teliti dan teratur menurut kaidah tertentu untuk menjawab suatu pertanyaan . Jadi penyelidikan dilakukan unutk menjelaskan sesuatu.&lt;br /&gt;              Pada dasarnya, penyelidikan dinyatakan selesai setelah  berhasil menemukan penyebab kejadian. Suatu penelitian baru dianggap selesai setelah berhasil menetapkan faktor atau latar belakang penggerak atau pengendali penyebab atau pelaku kejadian. Jadi, suatu penelitian menjangkau persoalan secara lebih jauh atau lebih mendalan daripada penyelidikan. Oleh karena penelitian selalu mengungkapkan  faktor penyebab maka penelitian menjadi sumber ilmu.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, tanpa penelitian tidak akan ada ilmu dan ilmu hanya dapat tumbuh dan berkembang jika didorong dan didukung dengan penelitian.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;              Dari penjelasan diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa metode penelitian adalah kegiatan mengkaji suatu masalah secara teliti dan teratur, dengan cara menyusun gagasan yang terarah dan terkonsep untuk memecahkan permasalahan yang hidup dan berguna bagi masyarakat atau peneliti itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.  KATEGORI PENELITIAN BERDASARKAN METODE&lt;br /&gt;     Berdasarkan metode, penelitian dapat dibedakan menjadi :      &lt;br /&gt;Penelitian Historis&lt;br /&gt;Pengertian metode penelitian historis&lt;br /&gt;  Metode penelitian historis merupakan salah satu penelitian mengenai pengumpulan dan evalasi data secara sistematik berkaitan dengan kejadian masa lalu untuk  menguji hipotesis yang berhubungan dengan penyebab , pengaruh atau perkembangan kejadian yang mungkin membantu dengan memberikan informasi pada kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan datang&lt;br /&gt;Sumber-sumber data dalam penelitian historis&lt;br /&gt;1)      Sumber-sumber primer, yaitu data yang diperoleh dari cerita para pelaku peristiwa itu sendiri, dan atau saksi mata yang mengetahui  perisiwa tersebut&lt;br /&gt;2)      Sumber inormasi sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari sumber lain yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langakh penelitian historis&lt;br /&gt;Pada umumnya dalam penelitian historis mencakup beberapa langkah penting yaitu :&lt;br /&gt;1)      Menentukan permasalahan penelitian yang diharapkan mempunyai manfaat ganda, yaitu bermanfaat bagi masyarakat dan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;2)      Menyatakan tujuan penelitian,  hipotesis and reseach question yang akan memberikan arah dan fokus penelitian.&lt;br /&gt;3)      Mengumpulkan data ternasuk di dalamnya menetapkan populasi, besarnya sampel,dan metode pengumpulan data.&lt;br /&gt;4)      Evaluasi data dengan menggunakan kritik eksternal maupun internal&lt;br /&gt;5)      Melaporkan hasil penelitian kepada masyarakat, termasuk melengkapi komponen-komponen penelitian dan mengkomunikasikan ke dalam jurnal ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Penelitian Deskriptif&lt;br /&gt;Pengertian metode penelitian deskriptif&lt;br /&gt;        Metode  penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan  objek sesuai denga apa adanya.&lt;br /&gt;        Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.&lt;br /&gt;Langkah-langkah penelitian deskriptif&lt;br /&gt;1)      Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif.&lt;br /&gt;2)      Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas&lt;br /&gt;3)      Menentukan tujuan dan manfaat penelitian&lt;br /&gt;4)      Melkukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan&lt;br /&gt;5)      Menentukan kerangka berfikir dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.&lt;br /&gt;6)      Mendesain metode penelitian yang hendak dignakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrument pengumpul data, dan menganalisis data.&lt;br /&gt;7)      Mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistik yang relevan.&lt;br /&gt;8)      Membuat laporan penelitian.&lt;br /&gt;Penelitian Ekspermen&lt;br /&gt;Pengertian metode  penelitian eksperimen&lt;br /&gt;       Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang paling produktif, karena jika penelitain tersebut dilakuakn dengan baik, dapat menjawab hipotesis yang umumnya berkaitan dengan hubungan sebab akibat.&lt;br /&gt;       Penelitian eksperimen pada prinsipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat.&lt;br /&gt;       Konsep penelitain eksperimen dimulai dengan pengertian yang sederhana misalnya tentang pertanyaan yang berkaitan  dengan bagaimanakah hubungan satu atau lebih variabel dalam suatu kondisi tertentu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seorang peneliti pada umumnyya akan mengembangkan satu atau lebih hipotesis yang menyatakan hubungan yang diharapkanm membuat desain penelitian, mencari dan mengorganisasi data, untuk kemudian menganalisis dan akhirnya memperoleh jawaban hipotesis di atas.&lt;br /&gt;Langkah-langkah penelitian eksperimen&lt;br /&gt;1)      Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan&lt;br /&gt;2)      Mengidentifikasi permasalahan&lt;br /&gt;3)      Melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan divinisi operasional dan variabel.&lt;br /&gt;4)      Menbuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan :&lt;br /&gt;·         mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen.&lt;br /&gt;·         Menentukan cara untuk mengontrol mereka&lt;br /&gt;·         Memilih desain riset yang tepat&lt;br /&gt;·         Menentukan populasi, memilih sampel yang mewakili dan memilih sejumlah subjek penelitian&lt;br /&gt;·         Membagi subjek ke dalam kelompok control maupun kelompok eksperimen.&lt;br /&gt;·         Membuat instrument yang sesuai, memvalidasi instrumen dan melakukan pilot study agar memperoleh instrument yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.&lt;br /&gt;·         Mengidentifikasi prosedur pengumpluan data, dan menentukan hipotesis.&lt;br /&gt;5)      Melakukan eksperimen&lt;br /&gt;6)      Mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen&lt;br /&gt;7)      Mengorganisasi dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan&lt;br /&gt;8)      Membuat analisis data dengan teknik statistik yang relevan&lt;br /&gt;9)      Membuat laporan penelitian eksperimen&lt;br /&gt;Metode penelitian ex-postfacto&lt;br /&gt;Pengertian metode penelitian ex-postfacto&lt;br /&gt;        Penelitian ex postfacto merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini keterikatan antara variabel bebas dengan variabel bebas, maupun antara variabel bebas dengan variabel terikat, sudah terjadi secara alami, dan peneliti dengan setting tersebut ingin melacak kembali jika dimungkinkan apa yang menjadi faktor penyebabnya.&lt;br /&gt;Langkah-langkah penelitian ex postfacto&lt;br /&gt;1)      Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode ex-postfacto&lt;br /&gt;2)      Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas&lt;br /&gt;3)      Menentukan tujuan dan manfaat penelitian&lt;br /&gt;4)      Melakuan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan penelitian&lt;br /&gt;5)      Menentukan kerangka berfikir, pertanyaan penelitian, dan hipotesis penelitian.&lt;br /&gt;6)      Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel ,teknik sampling, menentukan instrument pengumpul data, dan menganalisis data.&lt;br /&gt;7)      Mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistik yang relevan.&lt;br /&gt;8)      Membuat laporan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.   KESIMPULAN&lt;br /&gt;Dari keempat metode penelitian yang telah  di bahas diatas dapat diambil kesimplan bahwa  hampir semua  metode penelitian pada dasarnya memiliki karakteristik sebagai berikut :&lt;br /&gt;Adanya tujuan penelitian yaitu untuk memberikan arah atau target yang akan dicapai&lt;br /&gt;Adanya kegiatan mengumpulkan data&lt;br /&gt;Mencakup kegiatan yang terencana dan sistematis&lt;br /&gt;Menggunakan analisis logis, yaitu yang bersifat objektif dan universal&lt;br /&gt;Mempertimbangkan aspek pengembangan teori dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Mengandung unsur observasi yaitu pengamatan terhadap objek dan subjek yang diteliti.&lt;br /&gt;Melakukan pencatatan terhadap gejala yang muncul yang berasal dari objek atau subjek yang diteliti.&lt;br /&gt;Melakukan kontrol sehingga variabel lain yang tidak di harapkan tidak berintervensi terhadap variabel yang telah direncanakan&lt;br /&gt;Memerlukan validasi instrumen yaitu alat ukur yang valid dan universal serta tidak terpengaruh oleh faktor waktu dan tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ary, D.,Jacob, L.C. and Razavieh, A. 1985. Intoduction to research in education. New York; Hold, Rinehart and Winston.&lt;br /&gt;Gay, L.R. 1983. Educational Research Competencies for Analysis &amp;amp; Aplication. Ohio: A Bel &amp;amp; Howell Company.&lt;br /&gt;Gulo, W. 2003,Metodologi Penelitian, Jakarta, Grasindo.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://digg.com/general_sciences/list_of_resource_for_research_writing"&gt;http://digg.com/general_sciences/list_of_resource_for_research_writing&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://one.indoskripsi.com/skripsi/judul-skripsi-jurusan/pendidikan-ekonomi"&gt;http://one.indoskripsi.com/skripsi/judul-skripsi-jurusan/pendidikan-ekonomi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/metodologi-%20%20%20%20%20%20%20%20penelitian/sistematika-usulan-penelitian-tindakan-kelas"&gt;http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/metodologi-        penelitian/sistematika-usulan-penelitian-tindakan-kelas&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Sukardi,2003, Metodologi Penelitian Pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-3440064044178899114?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/3440064044178899114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=3440064044178899114' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/3440064044178899114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/3440064044178899114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/metode-penilitian.html' title='METODE PENILITIAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-2375423487947379960</id><published>2008-06-09T05:35:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:37:11.184-07:00</updated><title type='text'>DESAIN PENELITIAN</title><content type='html'>DESAIN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang  penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.&lt;br /&gt;Agar tercapai pembuatan desain yang benar, maka peneliti perlu menghindari sumber potensial kesalahan dalam proses penelitian secara keseluruhan. Kesalahan-kesalahan tersebut ialah:&lt;br /&gt;a.    Kesalahan Dalam Perencanaan&lt;br /&gt;Kesalahan dalam perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam menyusun desain yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat terjadi pula bila peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan masalah akan menghasilkan infromasi yang tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang diteliti. Cara mengatasi kesalahan ini ialah mengembangkan proposal yang baik dan benar yang secara jelas menspesifikasikan metode dan nilai tambah penelitian yang akan dijalankan.&lt;br /&gt;b.   Kesalahan Dalam Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Kesalahan dalam pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam proses pengumpulan data di lapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Untuk menghindari hal tersebut data yang dikoleksi harus merupakan represntasi dari populasi yang sedang diteliti dan metode pengumpulan datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara mengatasi kesalahan ini ialah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain penelitian yang sudah dirancang dalam proposal.&lt;br /&gt;c.    Kesalahan Dalam Melakukan Analisa&lt;br /&gt;Kesalahan dalam melakukan analisa dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih cara  menganalisa data. Selanjutnya, kesalahan ini disebabkan pula adanya kesalahan dalam memilih teknik analisa yang sesuai dengan masalah dan data yang tersedia. Cara mengatasi masalah ini ialah buatlah justifikasi prosedur analisa yang digunakan untuk menyimpulkan dan memanipulasi data.&lt;br /&gt;d.   Kesalahan Dalam Pelaporan&lt;br /&gt;Kesalahan dalam pelaporan terjadi jika peneliti membuat kesalahan dalam menginterprestasikan hasil-hasil penelitian. Kesalahan seperti ini terjadi pada saat memberikan makna hubungan-hubungan dan angka-angka yang diidentifikasi dari tahap analisa data. Cara mengatasi kesalahan ini ialah hasil analisa data diperiksa oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai masalah hasil penelitian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;DESAIN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.                Pengertian Desain  Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain artinya rencana, tetapi apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat berarti pula pola, potongan, bentuk, model, tujuan dna maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1976:177), Desain Penelitian menurut William M.K. Trochim (2006) “Research design can be thought of as the structure of research -- it is the "glue" that holds all of the elements in a research project together.” Sedangkan Lincoln dan Guba (1985:226) mendefinisikan rancangan penelitian sebagi usaha merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing.&lt;br /&gt;Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.&lt;br /&gt;Dalam penelitian eksperimental, desain penelitian disebut desain eksperimental. Desain eksperimen dirancang sedemikian rupa guna meningkatkan validitas internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;Suharsimi Arikunto (1998:85-88) mengkategorikan desain eksperimen murni menjadi 8 yaitu control group pre-test post test, random terhadap subjek, pasangan terhadap subjek, random pre test post test , random terhadap subjek dengan pre test kelompok kontrol post test kelompok eksperimen, tiga kelompok eksperimen dan kontrol, empat kelompok dengan 3 kelompok kontrol, dan desain waktu. &lt;br /&gt;Sutrisno Hadi (1982:441) mengkategorikan desain eksperimen menjadi enam yaitu simple randomaized, treatment by levels desaigns, treatments by subjects desaigns, random replications desaigns, factorial designs, dan groups within treatment designs. Sedangkan Ibnu Hadjar (1999:327) membedakan desain penelitian eksperimen murni menjadi dua yaitu pre test post test kelompok kontrol dan post tes kelompok kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.                             Macam-Macam Desain Penelitian&lt;br /&gt;Dalam penelitian eksperimen murni, desain penelitian yang populer digunakan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.    Control Group Post test only design atau post tes kelompok kontrol&lt;br /&gt;Desain ini subjek ditempatkan secara random kedalam kelompok-kelompok dan diekspose sebagai variabel independen diberi post test. Nilai-nilai post test kemudian dibandingkan untuk menentukan keefektifan tretment.&lt;br /&gt;Desain ini cocok untuk digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau pre tes mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen demikian akan berpengaruh pada perlakuan.&lt;br /&gt;b.    Pre test post test control group design atau pre tes post tes kelompok kontrol&lt;br /&gt;Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok kontrol).&lt;br /&gt;Berdasarkan desain penelitian yang disusun, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :&lt;br /&gt;a.       Desain penelitian kualitatif non standar&lt;br /&gt;Desain penelitian dalam paradigma positivistik kuantitatif bersifat terstandar, artinya ada aturan yang sama yang harus dipenuhi oleh peneliti untuk mengadakan penelitian dalam bidang apapun juga. Pelaksanaan penelitian dimulai dari adanya masalah, membatasi obyek penelitian, mencari teori dan hasil penelitian yang relevan, mendesain metode penelitian, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, ada yang menambah dengan implikasi, saran dan atau rekomendasi. Sebelum data diolah, perlu diuji terlebih dulu validitas dan reliabilitasnya, baik dari segi konstrak teori, isi maupun empiriknya. Sistematika penulisan sudah terstandar, yaitu: Bab I. Pendahuluan (latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan/batasan masalah, dst.). Bab II. Kajian teori atau kajian pustaka (kajian teori yang sesuai dengan masalah yang diteliti, hasil penelitian yang relevan, kerangka pikir, hipotesis/pertanyaan penelitian). Bab III. Metode penelitian (Desain, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, instrumen dan teknik analisis data). Bab IV. Hasil penelitian. Bab V. Kesimpulan (ada yang menambah, implikasi, keterbatasan penelitian dan saran).Desain penelitian kualitatif non standar sebetulnya menggunakan standar seperti kuantitatif tetapi bersifat flesibel (tidak kaku). Dengan kata lain model ini merupakan modifikasi dari model penelitian paradigma positivistik kuantitatif dengan menyederhanakan sistematika ataupun menyatukan bebarapa bagian dalam bab yang sama, misalnya memasukkan metode penelitian dalam bab I . Desain penelitian kualitatif non standar ini digunakan untuk penelitian kualitatif dalam paradigma positivistik dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa&lt;br /&gt;b.      Desain penelitian kualitatif tentatif&lt;br /&gt;Model ini sama sekali berbeda dari model-model di atas. Desain penelitian terstandar dan non standar disusun sebelum peneliti terjun ke lapangan dan dijadikan sebagai acuan dalam mengadakan penelitian, sedangkan desain penelitian tentatif disusun sebelum ke lapangan juga tetapi setelah peneliti memasuki lapangan penelitian, desain penelitian dapat berubah-ubah untuk menyesuaikan dengan kondisi realitas lapangan yang dihadapi. Acuan pelaksanaan penelitian tidak sepenuhnya tergantung pada desain yang telah disusun sebelumnya, tetapi lebih memperhatikan kondisi realitas yang dihadapi.  &lt;br /&gt;Dalam desain penelitian terstandar maupun non standar dapat dibakukan dengan istilah-istilah: masalah, kerangka teori, metode penelitian, analisis dan kesimpulan dan lainnya. Model tentatif  menggunakan dasar sistematika yang berbeda. Sistematika model ini unit-unitnya atau bab-babnya disesuaikan dengan sistematika substantif obyeknya.&lt;br /&gt;C.    Tipe-Tipe Desain Penelitian&lt;br /&gt;Secara garis besar ada dua macam tipe desain, yaitu: Desain Ex Post Facto dan Desain Eskperimental. Faktor-faktor yang membedakan kedua desain ini ialah pada desain pertama tidak terjadi manipulasi varaibel bebas sedang pada desain yang kedua terdapat adanya manipulasi variable bebas. Tujuan utama penggunaan desain yang pertama ialah bersifat eksplorasi dan deskriptif; sedang desain kedua bersifat eksplanatori (sebab akibat). Jika dilihat dari sisi tingkat pemahaman permasalahan yang diteliti, maka desain ex post facto menghasilkan tingkat pemahaman persoalan yang  dikaji pada tataran permukaan sedang desain eksperimental dapat menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih mendalam. Kedua desain utama tersebut mempunyai sub-sub desain yang lebih khusus. Yang termasuk dalam kategori pertama ialah studi lapangan dan survei. Sedang yang termasuk dalam kategori kedua ialah percobaan di lapangan (field experiment) dan percobaan di laboratorium (laboratory experiment)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Sub Desain Ex post Facto&lt;br /&gt;a.    Studi Lapangan:&lt;br /&gt;Studi lapangan merupakan desain penelitian yang mengkombinasikan antara pencarian literature (Literature Study), survei berdasarkan pengalaman dan / atau studi kasus dimana peneliti berusaha mengidentifikasi variable-variabel penting dan hubungan antar variable tersebut dalam suatu situasi permasalahan tertentu. Studi lapangan umumnya digunakan sebagai sarana penelitian lebih lanjut dan mendalam.&lt;br /&gt;b.      Survei&lt;br /&gt;Desain survei tergantung pada penggunaan jenis kuesioner. Survei memerlukan populasi yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata. Semakin samplenya besar, survei semakin memberikan hasil yang lebih akurat. Dengan survei seorang peneliti dapat mengukap masalah yang banyak, meski hanya sebatas dipermukaan. Sekalipun demikian, survei bermanfaat jika peneliti menginginkan informasi yang banyak dan beraneka ragam. Metode survei sangat popular karena banyak digunakan dalam penelitian bisnis. Keunggulan survei yang lain ialah mudah melaksanakan dan dapat dilakukan secara cepat. &lt;br /&gt;2.      Sub Desain Desain Eksperimental&lt;br /&gt;a.       Eksperimen Lapangan&lt;br /&gt;Desain eksperimen lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan latar yang realistic dimana peneliti melakukan campur tangan dan melakukan manipulasi terhadap variabel bebas. &lt;br /&gt;b.      Eksperimen Laboratorium&lt;br /&gt;Desain eksperimen laboratorium menggunakan latar tiruan dalam melakukan penelitiannya. Dengan menggunakan desain ini, peneliti melakukan campur tangan dan manipulasi variable-variabel bebas serta memungkinkan penliti melakukan kontrol terhadap aspek-aspek kesalahan utama.&lt;br /&gt;3.      Desain Spesifik Ex Post Facto dan Eksperimental&lt;br /&gt;Sebelum membicarakan desain spesifik Ex Post facto dan eksperimental, system notasi yang digunakan perlu diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X: Digunakan untuk mewakili pemaparan (exposure) suatu kelompok yang diuji terhadap suatu perlakuan eksperimental pada variable bebas yang kemudian efek pada variable tergantungnya akan diukur.&lt;br /&gt;O: menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi terhadap variable tergantung yang sedang diteliti pada individu, kelompok atau obyek tertentu.&lt;br /&gt;R: menunjukkan bahwa individu atau kelompok telah dipilih dan ditentukan secara random untuk tujuan-tujuan studi.&lt;br /&gt;a.      Ex Post Facto&lt;br /&gt;Sebagaimana disebut sebelumnya bahwa dalam desain Ex Post Facto tidak ada manipulasi perlakukan terhadap variable bebasya maka system notasinya baik studi lapangan atau survei hanya ditulis dengan O atau O lebih dari satu. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Contoh 1: Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua populasi, yaitu Perusahaan A dan Perusahaan B, maka notasinya:&lt;br /&gt;      O1&lt;br /&gt;        O2&lt;br /&gt;Dimana O1 merupakan kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan A dan O2  merupakan kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2: Secara random kita meneliti 200 perusahaan dari populasi 1000 perusahaan mengenai system penggajiannya. Survei dilakukan dengan cara mengirim kuesioner pada 200 manajer, maka konfigurasi desainnya akan seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;(R)   O1   &lt;br /&gt;Dimana O1   mewakili survei  di  200 perusahaan dengan memberikan kuesioner kepada 200 manajer yang dipilih secara random (R ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sample yang sama kita teliti secara berulang-ulang, misalnya selama tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut, maka notasinya adalah:&lt;br /&gt;      (R)     O3  dimana O1    merupakan observasi yang pertama, O2   merupakan observasi yang kedua dan O3 merupakan observasi yang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Desain-Desain Eksperimental&lt;br /&gt;Desain eksperimental dibagai menjadi dua, yaitu: pre-eksperimental (quasi-experimental) dan desain eksperimental sebenarnya (true experimental). Perbedaan kedua tipe desain ini terletak pada konsep kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.1. One Shot Case Study&lt;br /&gt;Desain eksperimental yang paling sederhana disebut One Shot Case Study . Desain ini digunakan untuk meneliti pada satu kelompok dengan diberi satu kali perlakuan dan pengukurannya dilakukan satu kali. Diagramnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;         X O&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.2. One Group Pre-test – Post-test Design&lt;br /&gt;Desain kedua disebut One Group Pre-test – Post-test Design yang meupakan perkembangan dari desain di atas. Pengembangannya ialah dengan cara melakukan satu kali pengukuran didepan (pre-test) sebelum adanya perlakuan (treatment) dan setelah itu dilakukan pengukuran lagi (post-test). Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;         O1 X O2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada desain ini peneliti melakukan pengukuran awal pada suatu obyek yang diteliti, kemudian peneliti memberikan perlakuan tertentu. Setelah itu pengukuran dilakukan lagi untuk yang kedua kalinya. Desain tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk lainnya, yaitu: desain time series”. Jika pengukuran dilakukan secara beulang-ulang dalam kurun waktu tertentu. Maka desainnya menjadi seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         O1 O2  O3 X O4 O5 O6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada desain time series, peneliti melakukan pengukuran di depan selama 3 kali berturut, kemudian dia memberikan perlakuan pada obyek yang diteliti. Kemudian peneliti melakukan pengukuran selama 3 kali lagi setelah perlakuan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.3. Static Group Comparison&lt;br /&gt;Desain ketiga adalah Static Group Comparison yang merupakan modifikasi dari desain b. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih sebagai obyek penelitian. Kelompok pertama mendapatkan perlakuan sedang kelompok kedua tidak mendapat perlakuan. Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kelompok pembanding / pengontrol. Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;X O1&lt;br /&gt;    O2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.4. Post Test Only Control Group Design&lt;br /&gt;Desain ini merupakan desain yang paling sederhana dari desain eksperimental sebenarnya (true experimental design), karena responden benar-benar dipilih secara random dan diberi perlakuan serta ada kelompok pengontrolnya. Desain ini sudah memenuhi criteria eksperimen sebenarnya, yaitu dengan adanya manipulasi variable, pemilihan kelompok yang diteliti secara random dan seleksi perlakuan. Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         ( R )     X O1&lt;br /&gt;( R )          O2&lt;br /&gt;Maksud dari desain tersebut ialah ada dua kelompok yang dipilih secara random. Kelompok pertama diberi perlakuan sedang kelompok dua tidak. Kelompok pertama diberi perlakuan oleh peneliti kemudian dilakukan pengukuran; sedang kelompok kedua yang digunakan sebagai kelompok pengontrol tidak diberi perlakukan tetapi hanya dilakukan pengukuran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.5. Pre-test – Post – test Control Group Design&lt;br /&gt;Desain ini merupakan pengembangan design d di atas. Perbedaannya terletak pada baik kelompok pertama dan kelompok pengontrol dilakukan pengukuran didepan (pre-test). Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         ( R )     O1 X O2&lt;br /&gt;( R )      O3   O4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.6.  Solomon Four Group Design&lt;br /&gt;Desain ini merupakan kombinasi desain Post Test Only Control Group Design  dan Pre-test – Post – test Control Group Design yang merupakan model desain  ideal untuk melakukan penelitian eksperimen terkontrol. Peneliti dapat menekan sekecil mungkin sumber-sumber kesalahan karena adanya empat kelompok yang berbeda dengan enam format pengkuran. Desainya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         ( R )     O1 X O2&lt;br /&gt;( R )      O3   O4&lt;br /&gt;         ( R )         X O5&lt;br /&gt;( R )             O6   &lt;br /&gt;Maksud desain tersebut ialah: Peneliti memilih empat kelompok secara random. Kelompok pertama yang merupakan kelompok inti diberi perlakuan dan dua kali pengukuran, yaitu di depan (pre-test) dan sesudah perlakuan (post-test). Kelompok dua sebagai kelompok pengontrol tidak diberi perlakuan tetapi dilakukan pengukuran seperti di atas, yaitu: pengukuran  di depan (pre-test) dan pengukuran sesudah perlakuan (post-test). Kelompok ketiga diberi perlakuan dan hanya dilakukan satu kali pengukuran sesudah dilakukan perlakuan (post-test) dan kelompok keempat sebagai kelompok pengontrol kelompok ketiga hanya diukur satu kali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.                   Desain Eksperimental Tingkat Lanjut&lt;br /&gt;c.1. Desain Random Sempurna (Completely Randomised Design)&lt;br /&gt;Desain ini digunakan untuk mengukur pengaruh suatu variable bebas yang dimanipulasi terhadap variable tergantung. Pemilihan kelompok secara random dilakukan untuk mendapatkan kelompok-kelompok yang ekuivalen&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Kasus: Pihak direksi suatu perusahaan ingin mengetahui pengaruh tiga jenis yang berbeda dalam memberikan instruksi yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Untuk tujuan penelitian ini dipilih secara random tiga kelompok  masing-masing beranggotakan 25 orang  Instruksi untuk kelompok pertama diberikan secara lisan, untuk kelompok kedua secara tertulis dan untuk kelompok ketiga instruksinya tidak spesifik. Ketiga kelompok diberi waktu sekitar 15 menit untuk memikirkan situasinya. Kemudian ketiganya diberi test obyektif untuk mengetahui seberapa baik mereka memahami pekerjaan yang akan dilakukan.  Formulasi masalah kasus ini ialah: Apakah manipulasi variable bebas mempengaruhi pemahaman para pegawai bawahan dalam melaksanakan pekerjaan mereka?&lt;br /&gt;Desain Penelitiannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;                Kelompok Eksperimental       Kelompok Pengontrol&lt;br /&gt;Instruksi&lt;br /&gt;A1. (Lisan)&lt;br /&gt;A2. (Tertulis)&lt;br /&gt;A3. Tidak Spesifik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X11&lt;br /&gt;X21&lt;br /&gt;X31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X25,1&lt;br /&gt;X12&lt;br /&gt;X22&lt;br /&gt;X32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X25,2&lt;br /&gt;X13&lt;br /&gt;X23&lt;br /&gt;X33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X25,3&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;x.1&lt;br /&gt;x.2&lt;br /&gt;x.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.2.  Desain Blok Random (Randomised Block Design)&lt;br /&gt;Desain ini merupakan penyempurnaan Desain Random Sempurna di atas. Pada desain sebelumnya perbedaan yang terdapat pada masing-masing individu tidak diperhatikan, sehingga menghasilkan kelompok-kelompok yang mempunyai anggota yang bereda-beda karaketrsitiknya. Agar desain yang kita buat dapat menghasilkan output yang baik, maka diperlukan memilih anggota kelompok (responden) yang berasal dari populasi yang mempunyai karakteristik yang sama. Oleh karena itu peneliti harus dapat mengidentifikasi beberapa sumber utama perbedaan-perbedaan yang dimaksud secara dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Desainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;Kelompok Eksperimental   Kelompok Pengontrol&lt;br /&gt;                  -------------------------------   ---------------------------&lt;br /&gt;Instruksi:   a1. (Lisan)   a2. (Tertulis)   a3. (Tanpa Instruksi)              Rata-&lt;br /&gt;Blok                                                                                                    Rata&lt;br /&gt;(Departemen)                                                                                      Blok&lt;br /&gt;B1&lt;br /&gt;B2&lt;br /&gt;B3&lt;br /&gt;B4&lt;br /&gt;B5&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;X1.&lt;br /&gt;X2.&lt;br /&gt;X3.&lt;br /&gt;X4.&lt;br /&gt;X5.&lt;br /&gt;Rata2&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;x.1&lt;br /&gt;x.2&lt;br /&gt;x.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain di atas dapat diterangkan sebagai berikut: Pada saat studi dilakukan dengan menggunakan desain sebelumnya, para anggota dari tiga kelompok berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Keterbedaan latar belakang anggota merupakan suatu ganngguan atau yang disebut sebagai variable pengganggu. Untuk itu perlu dilakukan penyamaan para anggota dari masing-masing  kelompok. Caranya ialah dengan menciptakan blok yang berfungsi untuk mendapatkan anggota kelompok yang sama. Dalam kasus ini blok ditentukan didasarkan pada departemen (bagian) dimana para anggota kelompok berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pekerja yang berasal dari departemen yang sama dibagi menjadi lima berdasarkan department masing-masing. Kemudian masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan yang sama, yaitu kelompok pertama mendapatkan instruksi lisan, kelompok kedua mendapatkan instruksi tertulis dan kelompok ketiga instruksi tidak spesifik. Dengan menggunakan desain ini maka peneliti akan dapat melihat dampak-dampak yang disebabkan oleh system blok per departemen serta interaksi  instruksi atas ketiga kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.3. Desain Latin Square (The Latin Square Design)&lt;br /&gt;Desain ini digunakan untuk mengontrol dua variable pengganggu secara sekaligus. Berkaitan dengan kasus di atas, masih terdapat satu variable pengganggu lainnya, yaitu “kemampuan para pekerja”. Variabel kemampuan para pekerja kita bagi menjadi tiga tingkatan, yaitu: kemampuan tinggi, kemampuan menengah dan kemampuan rendah. Ketiga tingkatan variable kemampuan tersebut kemudian kita tempatkan pada baris dan kolom model Latin Square. Desain ini terdiri dari tiga baris dan tiga kolom. Kemudian secara random diambil 3 pegawai dari masing-masing departemen.&lt;br /&gt;Desainnya adalah seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Para Pekerja&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Blok&lt;br /&gt;c1 Tinggi&lt;br /&gt;c2 Menengah&lt;br /&gt;c3. Rendah&lt;br /&gt;Rata2&lt;br /&gt;B1&lt;br /&gt;B2&lt;br /&gt;B3&lt;br /&gt;(a1) x1&lt;br /&gt;(a2) x2&lt;br /&gt;(a3) x3&lt;br /&gt;(a2) x1&lt;br /&gt;(a3) x2&lt;br /&gt;(a1) x3&lt;br /&gt;(a3) x1&lt;br /&gt;(a1) x2&lt;br /&gt;(a2) x3&lt;br /&gt;X1..&lt;br /&gt;X2..&lt;br /&gt;X3..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.4. Desain Factorial&lt;br /&gt;Desain factorial digunakan untuk mengevaluasi dampak kombinasi dai dua atau lebih perlakuan terhadap variable tergantung. Pada kasus di bawah ini, analisa factorial diaplikasikan dengan menggunakan desain random sempurna dengan format 3 baris dan 3 kolom.&lt;br /&gt;Kasus penelitiannya adalah sebagai berikut: peneliti ingin melihat dua variable bebas, yaitu variable “tingkat kontras” dan “panjang baris” sebuah iklan. Tingkat kontras dimanipulasi menjadi “rendah”, “medium” dan “tinggi’; sedang panjang baris dimanipulasi menjadi “5 inchi’, “7 inchi” dan “12 inchi”. Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat Kontras&lt;br /&gt;Panjang Baris&lt;br /&gt;B1. Rendah&lt;br /&gt;B2. Medium&lt;br /&gt;B3. Tinggi&lt;br /&gt;Rata-Rata Perlakuan&lt;br /&gt;A1. 5 inchi&lt;br /&gt;A2. 7 inchi&lt;br /&gt;A3. 12 inchi&lt;br /&gt;X1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X3&lt;br /&gt;x..1&lt;br /&gt;x..2&lt;br /&gt;x..3&lt;br /&gt;Rata-Rata            x.1.           x.2.                  x.3.&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada table desain di atas X1 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 5 inchi dan tingkat kontras warna rendah; X2 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 7 inchi dan tingkat kontras warna medium dan X3 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 12 inchi dan tingkat kontras warna tinggi. Dari format di atas kita akan mendapatkan 9 kombinasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.          Fungsi Desain Pemelitian&lt;br /&gt;Fungsi Desain (rancangan) Penelitian adalah :&lt;br /&gt;1.            Sebagai cetak biru (blue print) bagi peneliti&lt;br /&gt;      Seorang peneliti sosial menghadapi banyak kendala jika dia memulai penelitiannya tanpa suatu rencana penelitian tertentu. Untuk meminimalkan masalahnya, ada beberapa keputusan yang harus dibuat sebelum memulai penelitiannya. Sebagai contoh jika dia memilih untuk meneliti sejumlah orang secara lengsung, beberapa pertimbangan yang mungkin ada:&lt;br /&gt;a.        suatu diskripsi tentang populasi yang dituju yang informasinya ingin diperoleh,&lt;br /&gt;b.         beberapa metode sampling yang dipergunakan  untuk memperoleh unsur- unsurnya,&lt;br /&gt;c.         Ukuran sampel ,&lt;br /&gt;d.         Prosedur-prosedur pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan  informasi yang dibutuhkan,&lt;br /&gt;e.        Cara –cara yang mungkin untuk menganalisis dan yang telah terkumpul,&lt;br /&gt;f.         Akan atau tidaknya menggunakan uji statistik dan jika menggunakan yang mana.&lt;br /&gt;2.            Menetapkan batas-batas dari kegiatan penelitian dan memungkinkan peneliti menyalurkan energinya dalam beberapa arah yang spesifik.&lt;br /&gt;3.            Untuk mengantisifikasi masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pelaksanaan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    Kesimpulan&lt;br /&gt;Riset yang baik perlu dirancang aktivitas dan sumberdayanya dengan baik pula.&lt;br /&gt;Rancangan riset atau desain riset adalah rencana dari struktur riset yang mengarahkan proses dan hasil riset sedapat mungkin menjadi valid, objektif, efisien dan efektif.&lt;br /&gt;Riset yang baik memiliki tingkat kekuatan pengujian (power of the test) yang tinggi, yang dapat ditingkatkan dengan:&lt;br /&gt;1.                        Meningkatkan ukuran sampel&lt;br /&gt;2.                        Memperkecil alpha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     Saran&lt;br /&gt;Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Black A James &amp;amp; Dean J. Champion, Metode dan Masalah Penelitian  Sosial, 1999, PT Refika Aditama, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furchan Arief, Pengantar Penelitian Pendidikan,1982, Usaha Nasional, Surabaya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-2375423487947379960?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/2375423487947379960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=2375423487947379960' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/2375423487947379960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/2375423487947379960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/desain-penelitian.html' title='DESAIN PENELITIAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-6289539537161003407</id><published>2008-06-09T05:34:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:35:50.741-07:00</updated><title type='text'>TEKNIK SAMPLING</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;TEKNIK SAMPLING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi.&lt;br /&gt;       Berbagai alasan yang masuk akal mengapa peneliti tidak melakukan sensus antara lain adalah,&lt;br /&gt;a)    populasi demikian banyaknya sehingga dalam prakteknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti;&lt;br /&gt;b)    keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus telah puas jika meneliti sebagian dari elemen penelitian;&lt;br /&gt;c)    bahkan kadang, penelitian yang dilakukan terhadap sampel bisa lebih reliabel daripada terhadap populasi – misalnya, karena elemen sedemikian banyaknya maka akan memunculkan kelelahan fisik dan mental para pencacahnya sehingga banyak terjadi kekeliruan. (Uma Sekaran, 1992);&lt;br /&gt;d)     demikian pula jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam populasi menjadi tidak masuk akal, misalnya untuk meneliti kualitas jeruk dari satu pohon jeruk  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Agar hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam artian masih bisa mewakili karakteristik populasi,  maka cara penarikan sampelnya harus dilakukan secara seksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama teknik sampling atau teknik pengambilan sampel .     &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;      Populasi atau universe adalah sekelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan obyek penelitian. Jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap satu produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Jika yang diteliti adalah laporan keuangan perusahaan “X”, maka populasinya adalah keseluruhan laporan keuangan perusahaan “X” tersebut, Jika yang diteliti adalah motivasi pegawai di departemen “A” maka populasinya adalah seluruh pegawai di departemen “A”. Jika yang diteliti adalah efektivitas gugus kendali mutu (GKM) organisasi “Y”, maka populasinya adalah seluruh GKM organisasi “Y”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Elemen/unsur adalah setiap satuan populasi. Kalau dalam populasi terdapat 30 laporan keuangan, maka setiap laporan keuangan tersebut adalah unsur atau elemen penelitian. Artinya dalam populasi tersebut terdapat 30 elemen penelitian. Jika populasinya adalah pabrik sepatu, dan jumlah pabrik sepatu 500, maka dalam populasi tersebut terdapat 500 elemen penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat sampel yang baik&lt;br /&gt;       Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan.&lt;br /&gt;Pertama : Akurasi atau ketepatan , yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan  adalah populasi.&lt;br /&gt;Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa “there is no systematic variance” yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis&lt;br /&gt;      Contoh systematic variance yang banyak ditulis dalam buku-buku metode penelitian adalah jajak-pendapat (polling) yang dilakukan oleh Literary Digest (sebuah majalah yang terbit di Amerika tahun 1920-an) pada tahun 1936. (Copper &amp;amp; Emory, 1995, Nan lin, 1976). Mulai tahun 1920, 1924, 1928, dan tahun 1932 majalah ini berhasil memprediksi siapa yang akan jadi presiden dari calon-calon presiden yang ada. Sampel diambil berdasarkan petunjuk dalam buku telepon dan dari daftar pemilik mobil. Namun pada tahun 1936 prediksinya salah. Berdasarkan jajak pendapat, di antara dua calon presiden (Alfred M. Landon dan Franklin D. Roosevelt), yang akan menang adalah Landon, namun meleset karena ternyata Roosevelt yang terpilih menjadi presiden Amerika.&lt;br /&gt;       Setelah diperiksa secara seksama, ternyata Literary Digest membuat kesalahan dalam menentukan sampel penelitiannya . Karena semua sampel yang diambil adalah mereka yang memiliki telepon dan mobil, akibatnya pemilih yang sebagian besar tidak memiliki telepon dan mobil (kelas rendah) tidak terwakili, padahal Rosevelt lebih banyak dipilih oleh masyarakat kelas rendah tersebut. Dari kejadian tersebut ada dua pelajaran yang diperoleh : (1), keakuratan prediktibilitas dari suatu sampel tidak selalu bisa dijamin dengan banyaknya jumlah sampel; (2) agar sampel dapat memprediksi dengan baik populasi, sampel harus mempunyai selengkap mungkin karakteristik populasi (Nan Lin, 1976).&lt;br /&gt;Kedua : Presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita  dengan karakteristik populasi. Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.&lt;br /&gt;         Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku (standard error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi (, makin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin  bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ). Dengan contoh di atas tadi, mungkin saja perbedaan rata-rata di antara populasi dengan sampel bisa lebih sedikit, jika sampel yang ditariknya ditambah. Katakanlah dari 50 menjadi 75.&lt;br /&gt;Di bawah ini digambarkan hubungan antara jumlah sampel dengan tingkat kesalahan seperti yang diuarakan oleh Kerlinger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       besar&lt;br /&gt;        kesa-&lt;br /&gt;        lahan               &lt;br /&gt;                         kecil&lt;br /&gt;                                      kecil           besarnya sampel          besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran sampel&lt;br /&gt;         Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang penting manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang menggunakan analisis kuantitatif. Pada penelitian yang menggunakan analisis kualitatif, ukuran sampel bukan menjadi nomor satu, karena yang dipentingkan alah kekayaan informasi. Walau jumlahnya sedikit tetapi jika kaya akan informasi, maka sampelnya lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;         Dikaitkan dengan besarnya sampel, selain tingkat kesalahan, ada lagi beberapa faktor lain yang perlu memperoleh pertimbangan yaitu,&lt;br /&gt;(1) derajat keseragaman, (2) rencana analisis, (3) biaya, waktu, dan tenaga yang tersedia . (Singarimbun dan Effendy, 1989). Makin tidak seragam sifat atau karakter setiap elemen populasi, makin banyak sampel yang harus diambil.  Jika rencana analisisnya mendetail atau rinci maka jumlah sampelnya pun harus banyak. Misalnya di samping ingin mengetahui sikap konsumen terhadap kebijakan perusahaan, peneliti juga bermaksud mengetahui hubungan antara sikap dengan tingkat pendidikan. Agar tujuan ini dapat tercapai maka sampelnya harus terdiri atas berbagai jenjang pendidikan SD, SLTP. SMU, dan seterusnya.. Makin sedikit waktu, biaya , dan tenaga yang dimiliki peneliti, makin sedikit pula sampel yang bisa diperoleh. Perlu dipahami bahwa apapun alasannya, penelitian haruslah dapat dikelola dengan baik (manageable).&lt;br /&gt;          Misalnya, jumlah bank yang dijadikan populasi penelitian ada 400 buah. Pertanyaannya adalah, berapa bank yang harus diambil menjadi sampel agar hasilnya mewakili populasi?. 30?, 50? 100? 250?. Jawabnya tidak mudah. Ada yang mengatakan, jika ukuran populasinya di atas 1000, sampel sekitar 10 % sudah cukup, tetapi jika ukuran populasinya sekitar 100, sampelnya paling sedikit 30%, dan kalau ukuran populasinya 30, maka sampelnya harus 100%.&lt;br /&gt;          Ada pula yang menuliskan, untuk penelitian deskriptif, sampelnya 10% dari populasi, penelitian korelasional, paling sedikit 30 elemen populasi, penelitian perbandingan kausal, 30 elemen per kelompok, dan untuk penelitian eksperimen 15 elemen per kelompok (Gay dan Diehl, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992)  memberikan pedoman penentuan jumlah sampel sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.    Sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen&lt;br /&gt;2.    Jika sampel dipecah lagi ke dalam subsampel (laki/perempuan, SD?SLTP/SMU, dsb), jumlah minimum subsampel harus 30&lt;br /&gt;3.    Pada penelitian multivariate (termasuk analisis regresi multivariate) ukuran sampel harus beberapa kali lebih besar (10 kali) dari jumlah variable yang akan dianalisis.&lt;br /&gt;4.    Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, dengan pengendalian yang ketat, ukuran sampel bisa antara 10 s/d 20 elemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krejcie dan Morgan (1970) dalam Uma Sekaran (1992) membuat daftar yang bisa dipakai untuk menentukan jumlah sampel sebagai berikut (Lihat Tabel)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi (N)&lt;br /&gt;Sampel (n)&lt;br /&gt;Populasi (N)&lt;br /&gt;Sampel (n)&lt;br /&gt;Populasi (N)&lt;br /&gt;Sampel (n)&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;220&lt;br /&gt;140&lt;br /&gt;1200&lt;br /&gt;291&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;230&lt;br /&gt;144&lt;br /&gt;1300&lt;br /&gt;297&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;240&lt;br /&gt;148&lt;br /&gt;1400&lt;br /&gt;302&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;152&lt;br /&gt;1500&lt;br /&gt;306&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;260&lt;br /&gt;155&lt;br /&gt;1600&lt;br /&gt;310&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;32&lt;br /&gt;270&lt;br /&gt;159&lt;br /&gt;1700&lt;br /&gt;313&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;280&lt;br /&gt;162&lt;br /&gt;1800&lt;br /&gt;317&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;290&lt;br /&gt;165&lt;br /&gt;1900&lt;br /&gt;320&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;44&lt;br /&gt;300&lt;br /&gt;169&lt;br /&gt;2000&lt;br /&gt;322&lt;br /&gt;55&lt;br /&gt;48&lt;br /&gt;320&lt;br /&gt;175&lt;br /&gt;2200&lt;br /&gt;327&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;52&lt;br /&gt;340&lt;br /&gt;181&lt;br /&gt;2400&lt;br /&gt;331&lt;br /&gt;65&lt;br /&gt;56&lt;br /&gt;360&lt;br /&gt;186&lt;br /&gt;2600&lt;br /&gt;335&lt;br /&gt;70&lt;br /&gt;59&lt;br /&gt;380&lt;br /&gt;191&lt;br /&gt;2800&lt;br /&gt;338&lt;br /&gt;75&lt;br /&gt;63&lt;br /&gt;400&lt;br /&gt;196&lt;br /&gt;3000&lt;br /&gt;341&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;66&lt;br /&gt;420&lt;br /&gt;201&lt;br /&gt;3500&lt;br /&gt;346&lt;br /&gt;85&lt;br /&gt;70&lt;br /&gt;440&lt;br /&gt;205&lt;br /&gt;4000&lt;br /&gt;351&lt;br /&gt;90&lt;br /&gt;73&lt;br /&gt;460&lt;br /&gt;210&lt;br /&gt;4500&lt;br /&gt;354&lt;br /&gt;95&lt;br /&gt;76&lt;br /&gt;480&lt;br /&gt;214&lt;br /&gt;5000&lt;br /&gt;357&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;500&lt;br /&gt;217&lt;br /&gt;6000&lt;br /&gt;361&lt;br /&gt;110&lt;br /&gt;86&lt;br /&gt;550&lt;br /&gt;226&lt;br /&gt;7000&lt;br /&gt;364&lt;br /&gt;120&lt;br /&gt;92&lt;br /&gt;600&lt;br /&gt;234&lt;br /&gt;8000&lt;br /&gt;367&lt;br /&gt;130&lt;br /&gt;97&lt;br /&gt;650&lt;br /&gt;242&lt;br /&gt;9000&lt;br /&gt;368&lt;br /&gt;140&lt;br /&gt;103&lt;br /&gt;700&lt;br /&gt;248&lt;br /&gt;10000&lt;br /&gt;370&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;108&lt;br /&gt;750&lt;br /&gt;254&lt;br /&gt;15000&lt;br /&gt;375&lt;br /&gt;160&lt;br /&gt;113&lt;br /&gt;800&lt;br /&gt;260&lt;br /&gt;20000&lt;br /&gt;377&lt;br /&gt;170&lt;br /&gt;118&lt;br /&gt;850&lt;br /&gt;265&lt;br /&gt;30000&lt;br /&gt;379&lt;br /&gt;180&lt;br /&gt;123&lt;br /&gt;900&lt;br /&gt;269&lt;br /&gt;40000&lt;br /&gt;380&lt;br /&gt;190&lt;br /&gt;127&lt;br /&gt;950&lt;br /&gt;274&lt;br /&gt;50000&lt;br /&gt;381&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;132&lt;br /&gt;1000&lt;br /&gt;278&lt;br /&gt;75000&lt;br /&gt;382&lt;br /&gt;210&lt;br /&gt;136&lt;br /&gt;1100&lt;br /&gt;285&lt;br /&gt;1000000&lt;br /&gt;384&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;         Sebagai informasi lainnya, Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250. Bahkan jika sampelnya di atas 500, tidak direkomendasikan untuk menerapkan uji statistik. (Penjelasan tentang ini dapat dibaca di Bab 7 dan 8 buku Basic Statistics for Social Research, Second Edition)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik-teknik pengambilan sampel&lt;br /&gt;       Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).&lt;br /&gt;         Dua jenis teknik pengambilan sampel di atas mempunyai tujuan yang berbeda. Jika peneliti ingin hasil penelitiannya bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif dan diambil secara acak. Namun jika peneliti tidak mempunyai kemauan melakukan generalisasi hasil penelitian maka sampel bisa diambil secara tidak acak. Sampel tidak acak biasanya juga diambil jika peneliti tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi. Contohnya, jika yang diteliti populasinya adalah konsumen teh botol, kemungkinan besar peneliti tidak mengetahui dengan pasti berapa jumlah konsumennya, dan juga karakteristik konsumen. Karena dia tidak mengetahui ukuran pupulasi yang tepat, bisakah dia mengatakan bahwa 200 konsumen sebagai sampel dikatakan “representatif”?. Kemudian, bisakah peneliti  memilih sampel secara acak, jika tidak ada informasi yang cukup lengkap tentang diri konsumen?. Dalam situasi yang demikian, pengambilan sampel dengan cara acak tidak dimungkinkan, maka tidak ada pilihan lain kecuali sampel diambil dengan cara tidak acak atau nonprobability sampling, namun dengan konsekuensi hasil penelitiannya tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Jika ternyata dari 200 konsumen teh botol tadi merasa kurang puas, maka peneliti tidak bisa mengatakan bahwa sebagian besar konsumen teh botol merasa kurang puas terhadap the botol.&lt;br /&gt;         Di setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Probability/Random Sampling.&lt;br /&gt;       Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Yang dimaksud dengan  kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “ tersebut selengkap mungkin. Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut.  Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.&lt;br /&gt;        Di samping sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau  undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana&lt;br /&gt;Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen  populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Selama perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :&lt;br /&gt;Susun “sampling frame”&lt;br /&gt;Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil&lt;br /&gt;Tentukan alat pemilihan sampel&lt;br /&gt;Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan&lt;br /&gt;Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya :&lt;br /&gt;Siapkan “sampling frame”&lt;br /&gt;Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki&lt;br /&gt;Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum&lt;br /&gt;Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.&lt;br /&gt;Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka  untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer.&lt;br /&gt;Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Cluster Sampling atau Sampel Gugus&lt;br /&gt;Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur :&lt;br /&gt;1.    Susun sampling frame berdasarkan gugus – Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen.&lt;br /&gt;2.    Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel&lt;br /&gt;3.    Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak&lt;br /&gt;4.    Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     4. Systematic Sampling atau Sampel Sistematis&lt;br /&gt;Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”.  Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada  ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya :&lt;br /&gt;5.    Susun sampling frame&lt;br /&gt;6.    Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil&lt;br /&gt;7.    Tentukan K (kelas interval)&lt;br /&gt;8.    Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random – biasanya melalui cara undian saja.&lt;br /&gt;9.    Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih.&lt;br /&gt;10. Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Area Sampling atau Sampel Wilayah&lt;br /&gt;Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Kalimantan Timur atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya :&lt;br /&gt;1.    Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Kalimantan Timur) – Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa.&lt;br /&gt;2.    Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten ?, Kotamadya?, Kecamatan?, Desa?)&lt;br /&gt;3.    Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya.&lt;br /&gt;4.    Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.&lt;br /&gt;5.    Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak&lt;br /&gt;        Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.&lt;br /&gt;1.    Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.&lt;br /&gt;Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling – tidak disengaja – atau juga captive sample  (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini,  hasilnya ternyata kurang obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Purposive Sampling&lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling&lt;br /&gt;Judgment Sampling&lt;br /&gt;Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”.&lt;br /&gt;Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik. (Cooper dan Emory, 1992).&lt;br /&gt;Quota Sampling&lt;br /&gt;Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja.&lt;br /&gt;Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60%  dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Snowball Sampling – Sampel Bola SaljuCara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-6289539537161003407?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/6289539537161003407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=6289539537161003407' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/6289539537161003407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/6289539537161003407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/teknik-sampling.html' title='TEKNIK SAMPLING'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-7784782141351284334</id><published>2008-06-09T05:33:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:34:13.757-07:00</updated><title type='text'>Penyusunan Instrumen</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Penyusunan Instrumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Instrumen&lt;br /&gt;Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen ini dapat berupa kuesioner (daftar pertanyaan), formulir observasi, formulir-formulir lain yang berkaitan dengan pencatatan data dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Penyusunan Instrumen&lt;br /&gt;Mencari informasi dari dari kepustakaan mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan judul tulisan.&lt;br /&gt;Menentukan jenis penelitian yang akan dilakukan (kualitatif atau kuantitatif)&lt;br /&gt; Uji reliabilitas dan validitas instrument&lt;br /&gt;Reliabilitas istilah yang dipakai untuk menunjukan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih (Singarimbun Masri, 1989: 122).&lt;br /&gt;Suatu alat ukur dikatakan mempunyai reliabilitas tinggi atau dapat dipercaya jika alat ukur itu mantap dalam artian stabil, dapat diandalkan dan dapat diramalkan. Suatu alat ukur yang mantap tidak berubah-ubah pengukurannya dan dapat diandalkan karena penggunaan alat ukur tersebut berkali-kali akan memberikan hasil yang serupa.&lt;br /&gt;Menguji indeks reliabilitas dapat diuji dengan menggunakan beberapa tehnik. Teknik kesesuaian, teknik korelasi, tehnik belah dua.&lt;br /&gt;Validitas menunjukan sejauh mana alat pengukur dapat mengukur apa yang ingin diukur ( Singarimbun Masri, 1989: 124). Macam validitas : validitas konstrak, validitas isi, validitas eksternal, validitas prediktif, validitas budaya, validitas muka.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan validitas, desain percobaan harus diarahkan  kepada peningkatan validitas eksternal dan validitas internal dari suatu percobaan. Untuk ini ada tiga prinsip dasar yang perlu diketahui yaitu : replikasi, randomisasi (berhubungan dengan validitas eksternal) dan kontrol internal (yang berhubungan dengan validitas internal).&lt;br /&gt;Replikasi adalah pengulangan dari percobaan dasar.  Randomisasi adalah pengambilan secara acak yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample. Kontrol internal adalah banyaknya perimbangan, bloking, dan pengelompokan dari unit-unit percobaan yang digunakan dalam percobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis  Instrumen&lt;br /&gt;1. Test            Yang dimaksud dengan metode tes adalah suatu metode yang digunakan untuk mengetahui pengetahuan yang dimiliki seseorang dengan menggunakan soal – soal isian dengan batasan tertentu.             Tes digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok dan sebagainya yang telah dipilih dengan sempurna dan standart tertentu.Metode tes yang digunakan pada ini adalah ulangan harian yang dilakukan pada akhir siklus guna memperoleh data yang diinginkan.&lt;br /&gt;2.  Angket /Kuisioner            Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan mengajukan suatu daftar pertanyaan tertulis kepada sejumlah individu dan individu yang diberi daftar pertanyaan tersebut diminta untuk memberikan jawaban secara tertulis pula. Pada penelitian ini digunakan sejumlah angket langsung dan tertutup. Dikatakan angket langsung, karena individu yang diberi agket tersebut adalah orang yang diinginkan langsung datanya yaitu siswa. Dikatakan angket tertutup, karena pertanyaan – pertanyaan dalam angket sudah disediakan alternatif – alternatif jawaban dan siswa tinggal memilih salah satu jawaban tersebut. Pada penelitian ini metode angket digunakan untuk mengetahui pendapat siswa terhadap pelajaran matematika terutama pada pokok bahasan Logika Matematika. Sedang angket yang digunakan adalah angket  langsung dan tertutup .&lt;br /&gt;3. Observasi.Didalam pengertian psikologi, observasi atau yang disebut dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi mengobservasi adalah pengamatan langsung melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Disini guru sebagai peneliti melakukan pengamatan terhadap segala fenomena yang muncul dalam setiap siklus. Kehadiran guru sebagai penelitidan kolaborator tidak diketahui obyek penelitian, karena observasi yang dilakukan adalah obserasi partisipasif dalam bentuk team teaching. Teknik observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dengan menggunakan format yang sudah disiapkan sehingga kolaborator  (check list) pada lembar observasi.(Ö) tinggal memberi tanda.&lt;br /&gt;4. Wawancara&lt;br /&gt;Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. Dalam proses ini, hasil wawancara ditentukan oleh beberapa factor yang berinteraksi dan mempengaruhi arus informasi.Faktor-faktor tersebut ialah pewawancara, responden, topic penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan, dan situasi wawancara.&lt;br /&gt; 5. Student’t Evaluation of Educational Quality&lt;br /&gt;Instrumen SEEQ (Student’s Evaluation of Educational Quality) dikembangkan oleh Marsh (1982) dan dirancang untuk mengukur keefektifan pengajaran, dan pada dasarnya mengukur mutu interaksi antara fakultas dengan mahasiswa terutama selama berada di kelas dan pada saat mentransfer informasi dari fakultas kepada mahasiswa atau memotivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;6. Servperf&lt;br /&gt;             Instrumen SERVPERF dikembangkan sebagai kritik terhadap instrumen SERVQUAL (Cronin &amp;amp; Taylor, 1992) dan digunakan untuk mengukur kinerja mutu layanan dalam industri jasa. Beberapa peneliti bidang pendidikan mengadopsi SERVPERF untuk digunakan dalam bidang pendidikan diantaranya Baron (2000), Holdford &amp;amp; Reinders (2001).&lt;br /&gt;7. Adult Classroom Environment Scale&lt;br /&gt;Adult Classroom Environment Scale (ACES). Darkenwald dan Valentine (1986), mencatat kurangnya data penelitian dalam lingkungan psikososial pembelajaran di kelas untuk pendidikan orang dewasa. Menurut mereka ditemukan banyak fakta bahwa skala lingkungan pembelajaran di kelas yang ada dirancang hanya untuk kelas-kelas pada sekolah dasar dan menengah dan itu tentu tidak valid untuk penelitian yang ditujukan untuk pendidikan orang dewasa.&lt;br /&gt;8. Cucei&lt;br /&gt;Instrumen CUCEI . Fraser et al. (1996) telah mengembangkan suatu instrumen lingkungan pembelajaran di kelas di tingkat universitas atau sekolah tinggi, yakni kuisener College and University Classroom Environment Inventory disingkat CUCEI. Sebagai mana instrumen yang sejenis merupakan skala yang dapat memprediksi hasil belajar siswa dengan apa yang terjadi pada lingkungan pembelajaran di kelas, dan juga mencerminkan pandangan baru dalam belajar secara kognitif.&lt;br /&gt;Wihic&lt;br /&gt;Instrumen WIHIC. Fraser et al. (1996) telah mengembangkan suatu instrumen lingkungan pembelajaran yang baru, yakni kuisener ‘What is Happening in this Class’ (Apa yang sedang terjadi di Kelas ini) disingkat WIHIC. Instrumen ini merupakan skala yang dapat memprediksi hasil belajar siswa dengan apa yang terjadi pada lingkungan pembelajaran di kelas, dan juga mencerminkan pandangan baru dalam belajar secara kognitif&lt;br /&gt;Contoh-contoh instrumen&lt;br /&gt;1.      Tes&lt;br /&gt;Untuk mengetahui pengetahuan seseorang tentang globalisasi dan lingkungan teknologi, bisa diajukan tes sebagai berikut :&lt;br /&gt;a)      Apa saja penyebab globalisasi itu ?&lt;br /&gt;b)      Identifikasikan hasil karya dan pemikiran yang sudah melembaga dalam masyarakat kita !&lt;br /&gt;c)      Apa saja pengaruh globalisasi itu terhadap budaya atau kehidupan masyarakat kita ?&lt;br /&gt;d)     Apa prediksi  anda tentang budaya masrakat masa depan !&lt;br /&gt;e)      Teknologi apa dan apa peranannya dalam proses globalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Angket&lt;br /&gt;Contoh angket tingkat kepuasan kerja seorang karyawan dalam perusahaan&lt;br /&gt;Variabel   : Kepuasan Kerja&lt;br /&gt;Jawaban   :               SM           : Sangat Memuaskan                                (5)&lt;br /&gt;                                M             : Memuaskan                           (4)&lt;br /&gt;                                CM          : Cukup memuaskan                                (3)&lt;br /&gt;                                KM          : Kurang Memuaskan                               (2)&lt;br /&gt;                                TM          : Tidak memuaskan                 (1)&lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;Butir Pertanyaan&lt;br /&gt;Pendapat Saudara&lt;br /&gt;SM&lt;br /&gt;M&lt;br /&gt;CM&lt;br /&gt;KM&lt;br /&gt;TM&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Tingkat Kehadiran anda dalam bekerja selama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Perasaan anda dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Suasana Lingkungan kerja anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Hubungan anda dengan atasan anda selama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Pendapat anda mengenai kegiatan yang diadakan oleh perusahaan  seperti Saff Outing, training, employee of month selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Tingkat partisipasi anda dalam kegiatan yang dilakukan perusahaan selama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Anda bermaksud untuk bertahan di perusahaan ini selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Observasi&lt;br /&gt;Contoh lembar observasi  “Sekolah Sehat”&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Uraian&lt;br /&gt;Ada&lt;br /&gt;Tidak&lt;br /&gt;Keadaan&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Tempat Sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;UKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Kantin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Toilet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Wastafel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Wawancara&lt;br /&gt;Wawancara tentang modal dasar personal menjadi guru&lt;br /&gt;a.        Latar belakang orientasi menjadi guru&lt;br /&gt;1)       Semula coba-coba lalu suka&lt;br /&gt;2)       Karena alasan tak jelas&lt;br /&gt;3)       Pilihan profesi terakhir&lt;br /&gt;4)       Pilihan tidak sengaja&lt;br /&gt;5)       ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.        Komitmen Profesional personal&lt;br /&gt;1)       Mengajar = profesi match guna&lt;br /&gt;2)       Meraih kepuasan batin&lt;br /&gt;3)       Enjoy menjalani profesi guru&lt;br /&gt;4)       Motivasi mengajar tinggi&lt;br /&gt;5)       ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.        Kultur Kepribadian dasar&lt;br /&gt;1)       Konsisten jadi teladan&lt;br /&gt;2)       Idealistis dan rasionalis&lt;br /&gt;3)       Bijaksana, adil seimbang&lt;br /&gt;4)       Selalu butuh membaca&lt;br /&gt;5)       ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.        Kultur akademik&lt;br /&gt;1)       Motivasi prestasi tinggi&lt;br /&gt;2)       Konsisten jaga disiplin&lt;br /&gt;3)       Nalar ilmiah – intelektual&lt;br /&gt;4)       Menerapkan teori dan ilmu&lt;br /&gt;5)       …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.        Kultur global&lt;br /&gt;1)       Wawasan selalu terbaru&lt;br /&gt;2)       Berpikir dinamis – actual&lt;br /&gt;3)       Profesional meningkat&lt;br /&gt;4)       Berpikir Global – Futuristik&lt;br /&gt;5)       ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      SEEQ&lt;br /&gt;Variabel   :&lt;br /&gt;Jawaban   :               SS            : Sangat Setuju                         (5)&lt;br /&gt;                                S              : Setuju                                    (4)&lt;br /&gt;                                CS            : Cukup Setuju                         (3)&lt;br /&gt;                                TS            : Tidak Setuju                          (2)&lt;br /&gt;                                STS          : Sangat Tidak Setuju               (1)&lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;Butir Pertanyaan&lt;br /&gt;Pendapat Saudara&lt;br /&gt;SS&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;CS&lt;br /&gt;TS&lt;br /&gt;STS&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Antusiasm (Antusias dosen dalam pengajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Organization&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Group Interaction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Individual Rapport&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Breadth of Coverage&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Grading examination (berkaitan dengan ujian dan penilaian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Reading / Assigments (berkaitan dengan pemberian tugas dan rujukan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Workload / Difficulty (beban kerja / kesulitan yang dihadapi mahasiswa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      SERVPERF&lt;br /&gt;Jawaban   :               SS            : Sangat Setuju                         (5)&lt;br /&gt;                                S              : Setuju                                    (4)&lt;br /&gt;                                CS            : Cukup Setuju                         (3)&lt;br /&gt;                                TS            : Tidak Setuju                          (2)&lt;br /&gt;                                STS          : Sangat Tidak Setuju                               (1)&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;Butir Pertanyaan&lt;br /&gt;Pendapat Saudara&lt;br /&gt;SS&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;CS&lt;br /&gt;TS&lt;br /&gt;STS&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Tangible (berkaitan dengan penampilan fisik lembaga, peralatan, staf, dan sarana komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Reliability (berkaitan dengan kemampuan staf lembaga untuk memberikan layanan sebagaimana yang dijanjikan, terpercaya, akurat dan konsisten).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Responsiveness (kemauan untuk membantu pelanggan (mahasiswa) dan memberikan layanan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Assurance  (kemampuan staf lembaga untuk memberikan kepercayaan kepada pelanggan (mahasiswa) melalui rasa hormat dan pengetahuan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Emphaty (perhatian staf lembaga yang diberikan kepada pelanggan (mahasiswa) secara individu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      ACES&lt;br /&gt;Jawaban   :               SS            : Sangat Setuju                         (5)&lt;br /&gt;                                S              : Setuju                                    (4)&lt;br /&gt;                                CS            : Cukup Setuju                         (3)&lt;br /&gt;                                TS            : Tidak Setuju                          (2)&lt;br /&gt;                                STS          : Sangat Tidak Setuju                               (1)&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;Butir Pertanyaan&lt;br /&gt;Pendapat Saudara&lt;br /&gt;SS&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;CS&lt;br /&gt;TS&lt;br /&gt;STS&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Affiliation sejauh mana para siswa saling berhubungan secara positif satu setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Teacher Support sejauh mana guru memberikan bantuan, dorongon, tampak bersahabat, dan memberikan perhatian kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Task Orientation sejauh mana guru tetap berfokus pada tugas dan presentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Personal Goal Attainment sejauh mana guru sangat luas memberikan peluang untuk siswa untuk mengejar minat mereka secara individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Organization and Clarity sejauh mana kegiatan kelas disampaikan dengan jelas dan diorganisir dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Student Influence sejauh mana guru mengajar dengan berpusat pada siswa dan mempersilahkan para siswa untuk berpartisipasi dalam memutuskan rencana pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Involvement seberapa jauh kepuasan siswa dipenuhi dan berpartisipasi dengan aktif dan menaruh perhatian dalam suatu kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      CUCEI&lt;br /&gt;Jawaban   :               SS            : Sangat Setuju                         (5)&lt;br /&gt;                                S              : Setuju                                    (4)&lt;br /&gt;                                CS            : Cukup Setuju                         (3)&lt;br /&gt;                                TS            : Tidak Setuju                          (2)&lt;br /&gt;                                STS          : Sangat Tidak Setuju               (1)&lt;br /&gt;                                                                                                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;Butir Pertanyaan&lt;br /&gt;Pendapat Saudara&lt;br /&gt;SS&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;CS&lt;br /&gt;TS&lt;br /&gt;STS&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Personalisation : beberapa hal yang berkaitan dengan perhatian Dosen kepada mahasiswa, seperti mudah ditemui (approachable), suka menolong (helpful), mau mendengarkan (responsive), mampu menjelaskan (able to explain), mudah dihubungi (accessibility)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Innovation : beberapa hal yang berkaitan dengan pengajaran (lectures), penilaian (assessment), sumber belajar dan pendekatan cara mengajar (resources and teaching approaches),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Student Cohesion : sejauh mana mereka saling memahami, saling menolong dan memberikan dorongan antara seorang mahasiswa dengan mahasiswa yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Task Orientation : sejauh mana para mahasiswa memandang semua kegiatan pembelajaran penting, seperti menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Dosen dan tetap berfokus pada pelajaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Cooperation : sejauh mana para mahasiswa bekerja sama dan bukannya bersaing satu sama lain dalam tugas-tugas yang diberikan pada suatu pelajaran, Individualisation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Equity : sejauh mana para mahasiswa diperlakukan setara, atau sederajad oleh Dosen dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      WIHIC&lt;br /&gt;Variabel   :&lt;br /&gt;Jawaban   :               SS            : Sangat Setuju                         (5)&lt;br /&gt;                                S              : Setuju                                    (4)&lt;br /&gt;                                CS            : Cukup Setuju                         (3)&lt;br /&gt;                                TS            : Tidak Setuju                          (2)&lt;br /&gt;                                STS          : Sangat Tidak Setuju               (1)&lt;br /&gt;                                                                                                  &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt;                            Butir Pertanyaan                         &lt;br /&gt;Pendapat Saudara&lt;br /&gt;SS&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;CS&lt;br /&gt;TS&lt;br /&gt;STS&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Kekompakan Siswa (Student Cohesiveness) : sejauh mana mereka saling memahami, saling menolong dan memberikan dorongan antara satu siswa dengan siswa yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Dukungan Guru (Teacher Support) : sejauh mana para guru membantu siswa, bersahabat, percaya dan menaruh perhatian pada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Keterlibatan Siswa (Involvement) : sejauh mana para siswa mempunyai minat dan perhatian, berpartisipasi dalam diskusi, serius mengikuti dan menikmati proses pembelajaran di kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Arahan Tugas (Task Orientation) : sejauh mana para siswa memandang semua kegiatan pembelajaran penting, seperti menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru dan tetap berfokus pada pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Penyelidikan (Investigation) : sejauh mana ketrampilan, proses pemeriksaan, dan menggunakan mereka ditekankan dalam memecahkan masalah dan penyelidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Kerjasama (Cooperation) : sejauh mana para siswa bekerja sama dan bukannya bersaing satu sama lain dalam tugas-tugas yang diberikan pada suatu pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Kesetaraan (Equity) : sejauh mana para siswa diperlakukan setara, atau sederajad oleh guru dalam proses pembelajaran Kesetaraan (Equity) : sejauh mana para siswa diperlakukan setara, atau sederajad oleh guru dalam proses pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-7784782141351284334?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/7784782141351284334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=7784782141351284334' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/7784782141351284334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/7784782141351284334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/penyusunan-instrumen.html' title='Penyusunan Instrumen'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-7586604737712009935</id><published>2008-06-09T05:31:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:32:57.252-07:00</updated><title type='text'>PENGERTIAN VARIABEL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;PENGERTIAN VARIABEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian merupakan kegiatan menguji hipotesis, yaitu menguji kecocokan antara teori dengan fakta empirik di dunia nyata. Hubungan nyata ini lazim dibaca dan dipaparkan dengan bersandar kepada variabel, sedangkan hubungan nyata lazim dibaca dengan memperhatikan data tentang variabel itu.&lt;br /&gt;Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif). Variabel merupakan pengelompokan secara logis dari dua atau lebih atribut dari objek yang diteliti. Atribut itu misalnya : Tidak sekolah, tidak tamat SD, tidak tamat SMP. Maka variabelnya adalah tingkat pendidikan dari objek penelitian itu. Variabel tingkat pendidikan merangkum semua atribut tadi.&lt;br /&gt;Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata vary dan able yang berarti “berubah” dan “dapat”. Jadi kata variabel berarti dapat berubah. Oleh sebab itu setiap variabel dapat diberi nilai, dan nilai itu berubah-ubah. Nilai itu berupa nilai kuntitatif  maupun kualitatif. Ukuran kuantitatif maupun kualitatif suatu variabel adalah jumlah dan derajat atributnya.&lt;br /&gt;Dilihat dari segi nilainya, variabel dibedakan menjadi dua, yaitu variabel diskrit dan variabel kontinu.. Variabel diskrit nilai kuantitatifnya selalu berupa bilangan bulat, Variabel kontinu nilai kuantitatifnya bisa berupa pecahan. Apabila diambil dua bilangan bulat yang wajar sebagai nilai variabel, terdapat tak hingga banyaknya angka-angka yang mungkin menjadi nilai dari variabel yang sedang diukur itu. Ini jika digambarkan akan memberi kesan bahwa nilai-nilai variabel itu bersambung atau kontinu.&lt;br /&gt;Data adalah hasil pengukuran atau penghitungan nilai-nilai suatu variabel. Yang dimaksud dengan pengolahan data pada prinsipnya adalah upaya penyajian dan pembacaan hubungan-hubungan yang ada antarvariabel. Menurut Narbuko dan Ahmadi, hubungan antarvariabel dapat berupa: (a) Hubungan simetris, yaitu hubungan variabel yang satu tidak disebabkan oleh yang lainnya. (b) Hubungan timbal balik, yaitu hubungan suatu variabel dapat menjadi sebab dan akibat dari variabel lainnya, (c) Hubungan asimetris, yaitu hubungan variabel satu mempengaruhi variabel lainnya..&lt;br /&gt;Yang termasuk hubungan variabel simetris: Pertama,  kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Misalnya: Kalau “mengerjakan cepat selesai” sedang “hasilnya tepat”, maka kedua variabel tersebut merupakan indikator dari seorang yang intelegen”. Hal ini dapat diartikan kalau “karena cepat” lalu “hasilnya tepat” atau sebaliknya; “jantung yang berdenyut semakin cepat sering dibarengi keluarnya keringat tanda kecemasan“ namun demikian, tidak kdapat dikatakan “jantung yang berdebar cepat menyebabkan tangannya berkeringat” dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kedua, variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama; meningkatkan pelayanan kesehatan dibarengi pula dengan bertambahnya pesawat udara. Kedua variabel tidak saling mempengaruhi, tetapi keduanya merupakan akibat dari peningkatan pendapatan.  Ketiga, kedua variabel lsaling berkaitan secara fungsional, “dimana yang satu beradayang ;lainnya pun pasti di sana”. “Di mana ada guru, di sana ada murid”, di mana ada majikan, di sana ada buruh”. Kemmpat, “hubungan yang kebetulan semata-mata”. Seorang bayi ditimbang lalu mati keesokan harinya. Berdasarkan kepercayaan, kedua peristiwa tersebut dianggap berkaitan, tetapi di dalam penelitian empiris tidak dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal karena ditimbang.&lt;br /&gt;Hubungan timbal balik disini bukanlah hubungan, di mana tidak dapat ditentukan variabel yang menjadi sebab dan variabel lyang menjadi akibat. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah apabila suatu waktu, variabel x mempengaruhi variabel Y, sedang pada waktyu yang lain, variabel Y  mempengaruhi variabvel X. Contohnya “ penanaman modal mendatangkan keuntungan dan pada gilirannya keuntungan akan memungk9nkan penanaman modal. Jelasnya: ‘variabel terpengaruh dapat menjadi variabel pengaruh”.&lt;br /&gt;Dalam hubungan asimetris ini ada beberapa ketentuan hubungan sebagai berikut: Pertama, hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan yang demikian itulah merupakan salah satu hubungan kausal, yang lazim dipengaruhi para ahli. Contonya, seorang insinyur pertanian mengamati adanya pengaruh pupuk terhadap buah yang dihasilkannya; seorang psikolog meneliti pengaruh kerasnya musik terhadap tingkah konsentrasi. Seorang pendidik mengamati pengaruh metode mengajar terhadap prestasi belajar para siswa.&lt;br /&gt;Kedua, hubungan antara disposisi dan respon. Disosisi adalah kecenderungan untuk menunjukkan respons t ertentu dalam situasi tertentu,  bila ‘stimulus” datangnya pengaruh dari luar dirinya, sedangkan “disposisi” berada dalam diri seseorang. Contoh: Sikap kebiasaan, nilai, dorangan, kemampuan, dan lain sebagainya. Suatu respon sering diukur dengan mengamati tingkah laku seseorang, misalnya: pemakaian konstrasepsi,  migrasi, perilaku inivasi dan sebagainya.. Ketiga hubungan antara diri individu dan disosisi atau tingkah laku. Artinya ciri di sini adalah sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan, seperti seks, suku bangsa, kebangsaan, [pendidikan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Keempat, hubungan antara parekondisi yang perlu de4ngan akibat tetentu. Contoh: agar pedagang kesil dapat memperluas usahanya diperlukan antara lain persyaratan pinjaman bank yang lunak, hubungan antara kerja keras dengan keberhasilan jumlah jam belajar dengan nilai yang diperoleh. Kelima, hubungan yang imanen antara dua variabel. Di dalam hubungan ini terdapat jalinan yang erat antara variabel satu dengan variabel yang lain. Jelasnya: apabila variabel yang satu berubah, maka variabel yang lain ikut berubah. Contonya hubungan antara semakin besarnya syatu organisasi dengan semakin rumitnya peraturan yang ada. Keenam, hubungan antara tujuan (ends) dan cara (means). Contonya: penelitian tentang hubungan antara kerja keras dan keberhasilan. Jumlah jam belajar dengan nilai yang diperoleh pada waktu ujian, besarnya penanaman modal dengan hasil keuntungan..&lt;br /&gt;Pengukuran Variabel&lt;br /&gt;Pengukuran variabel adalah penting bagi setiap penelitian sosial, karena dengan pengukuran itu penelitian dapat menghubungan kosep yang abstrak dengan realitas. Proses pengukuran mengandung empat kegiatan pokok sebagai berikut: Pertama, menentukan indikator untuk dimensi-dimensi variabel penelitian.. Variabel penelitian sosial pada umumnya memiliki lebih dari satu dimensi. Semakin lengkap dimensi yang digunakan dari satu variabel yang dapat diukur akan semakin baik hasil pengukurannya. Kedua menentukan masing-masing dimensi. Ukunan ini dapat berupa item (pertanyaan) yang relevan dengan dimensinya. Ketiga, menentukan ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran apakah tingkat ukuran nominal oardinal, interval atau rasio. Keempat, menguji tingkat validitas dan areliabilitas sebagai kriteria alat pengukuran yang baik. Alat pengukur yang baik, apabila alat itu dapat mengungkap relaita itu dengan tepat.&lt;br /&gt;Merumuskan definisi operasional variabel-variabel.&lt;br /&gt;            Setelah variabel-variabel diidentifikasikan, dan diklasifikasikan,  maka variabel-variabel tersebut perlu didefinisikan secara operasional (Bridgman, 1972).  Penyusunan definisi operasional ini perlu, karena difinisi operasional itu akan menunjuk alat pengambil data, mana yang cocok untuk dipergunakannya. Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan, yang dapat diamati (diobservasi), konsep yang dapat diamati, atau diobservasi merupakan hal sangat penting, karen hal yang dapat diamati itu embuka kemungkina bagi oarang lain, selain peneliti sendiri uantuk dilaksanakan, juga oarang lain dapat melakukan hal yang serupa, sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk kdiuji kembali oleh oarang lain.&lt;br /&gt;            Cara menyususn definisi operasional dapat bermacam-macam, yaitu: (1) yang mnekankan kegiatannya, apayang perlu dilakukan. Contoh frustasi adalah keadaan yang timbul sebagai akibat tercegahnya pencapaian hal sangat diinginkan yang sudah hampir tercapai. Lapar adalah keadaan individu yang timbul setelah ia tidak makan selama 24 jam. Definisi ini adalah yang menekankan perasi atau manipulasi apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan keadaan atau hal yang didefinisikan, terutama berguna untuk mendefinisikan “variabel bebas”.  (2) yang menekankan bagaimana kegiatan itu dilakukan. Conto: orang cerdas adalah orang yang tinggi kemampuannya dalaml memecahkan masalah, tinggi kemampuannya dalam menggunakan bahasa dan bilangan. Dosen yang otoriter adalah dosen yang menuntut mahasiswanya melakukn hal lyang dapat seperti yang digariskannya, suka memberi komando, dan mengutamakan khubungan formal dengan mahasiswanya. (3) yang menekankan sifat-sifat statis hal yang didefinisikan. Contoh: mahasiswa yang cerdas yaitu mahasiswa yang m,empunyai ingatan yang baik, mempunyai perbendaharaan yang baik, mempunyai perbendaharaan kata yang luas, mempunyai kemampuan berpikir baik, mempunyai kemampuan berhitung baik.&lt;br /&gt;            Ekstraversi adalah kecenderungan lebih suka ada dalam kelompok daripada seorang diri. Setelah membuat definisi operasional sebagaimana contoh-contoh tersebut di atas, selanjutnya poeneliti menunjuk kepada “alat” yang dipergunakan untuk mengambil data-datanya. Setelah definisi operasional variabel-variabel penelitian selesai dirumuskan, maka prediksi yang terkandung dalam hipotesis telah dioperasionalisasikan. Jadi peneliti telah meneliti prediksi tentang kaitan berbagai variabael penelitiannya itu secara oprasional dan siap diuji melalui data empiris.&lt;br /&gt;Variabel Antara&lt;br /&gt;            Setelah asumsi dasar di dalam ilmu pengetahuan adalah, bahwa gejala sesuatu harus ada sebab musababnya dan tidak begitu saja terjasdi dengan sendirinya. Khusus di dalam ilmu sosial, setiap fenomena dipengaruhi oleh serangkaian sebab musabab. Oleh katrena itu setiap kita menentukan sebab dari suatu fenomena, selalu akan timbul pertanyaan, apakah sebab yang l;ainnya? Apakah sebab yang pertama berpengaruh langsung pada fenomena tersebut, ataukah tidak langsung dan melalui sebab yang lainnya? Pertanyaan yang terkhir ini mengantarkan kitra ke suatu faktor penguji yang penting, yaitu “variabel antara”.&lt;br /&gt;Untuk mengatur rangkaian sebab musabab suatu fenomena, tentu saja lewat pengamatan serta akal sehatlah di samping teori-teori  yang menjadi pedoman. Namun, di dalam arangkaian sebab akibat itu, suatu variabel akan disebut “variabel antara” apabila, dengan masuknya variabel tersebut hubungan statistik yang mula nampak antara dua variabell menjadi lemah atau bahkan lenyap. Hal ini disebabkan oleh hubungan yang semula nampak antara kedua variabel pokok bukanlah suatu hubungan yang langsung, tetapi melalui hubungan variabel yang lain. (Danim menyebut variabel pengaruh adalah variabel bebas, variabel terpengaruh adalah variabel terikat)&lt;br /&gt;BVariabel Antara&lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;Variabel Pengaruh&lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;Variabel Terpengaruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Garis putus-putus berarti mungkin berhubungan langsung, mungkin tidak&lt;br /&gt;Untuk dapat menentukan bahwa diantara tiga kelompok variabel terdapat variabel antara diperlukan tiga hubungan asimetris: A dan B, B dan B, A dan C.&lt;br /&gt;Contoh variabel antara&lt;br /&gt;Variabel Pengaruh&lt;br /&gt;Variabel Antara&lt;br /&gt;Variabel Terpengaruh&lt;br /&gt;Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Perusahaan&lt;br /&gt;Integrasi dalam masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik buruh&lt;br /&gt;Bunuh diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli sosiologi, agama hanya akan mempengaruhi frekuensi bunuh diri karena agama erat hubungannnya dengan integrasi seseorang di dalam masyarakat. Kebiasaan membaca menunjukkan hubungan yang positif dengan umur, tetapi hanya melalui suatu variabel antara, yaitu pendidikan: seorang lanjut usia yang tidak sekolah tidak akan lebih banyak membaca dibandingkan pada masa mudanya. Sebuah teori sumber daya manusia membuat hipotesis bahwa perusahaan asing dan perusahaan besar membayar upah lebih tinggi akrena mempeperjakan buruh dengan karakteristrik yang menjamin produktivitas perusahaan, (misalnya berpendidikan tinggi, terampil, dan perpengalaman).&lt;br /&gt;            Contoh tersebut di atas menunjukkan dua kemungkinan: (a) variabel pengaruh dapat melalui variabel antara. (b) Dapat langsung mempengaruhi variabel terpengaruh.&lt;br /&gt;Variabel Anteseden&lt;br /&gt;            Variabel anteseden mempunyai kesamaan dengan variabel antara, yakni merupakan hasil yang lebih mendalam dari penelusuran hubungan kausal antara variabel. Perbedaannya, “variabel antara” menyusut diantara variabel pokok, sedangkan variabel anteseden mendahululi variabel pengaruh.&lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;Variabel Anteseden&lt;br /&gt;B&lt;br /&gt;Variabel Pengaruh&lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;Variabel Terpengaruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realilta hubungan antara dua variabel sebenarnya merupakan penggalan dari sebuah jalinan sebab akibat yang cukup panjang. Oleh karena itu, setiap usaha untuk mencari jalinan yang lebih jauh, seperti halnya dengan variabel antisenden – akan memperkaya pengertian kita tentang fenomena yang sedang diteliti.&lt;br /&gt;Contoh variabel anteseden:&lt;br /&gt;Kita memlilki data yang menunjukkan bahwa apabila pendidikan seseorang rendah, pengetahuan politiknyapun rendah. Jadi yang hendak diterangkan adalah hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan politik.&lt;br /&gt;Skema hubungannya sebaga berikut:&lt;br /&gt;pendidikan&lt;br /&gt;Pengetahuan politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan politik&lt;br /&gt;Status sosial ekonomi orang tuaDalam memperjelas hubungan ini kadang=-kadang perlu ditelusuri variabel apa yang mempengaruhi pendidikan. Status sosial ekonomi orang tua, dalam teori, sering dipandang sebagai variabel yang mempengaruhi pendidikan seseorang. Dengan demikian, kita dapat membuat postulat bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya variabel anteseden ini menambah pengetahuan kita tentang hubungan antara pendidikan dan pengetahuan politik. Dengan demikian kita katakan: “Latar belakang keluarga seseorang (status sosial ekonomi orang tua) menentukan tingkat pendidikannya dan pendidikannya menentukan tingkat pengetahuan politiknya”.&lt;br /&gt;            Kerangka teori serta akal sehatlah yang pertama-tama menentukan apakah suatu variabel dapat dipertimbangkan sebagai variabel anteseden. Untuk dapat diterima sebagai variabel anteseden, syarat-syaratnya sebagai berikut: (a) ketika variabel harus saling berbubungan: variabel anteseden dan variabel pengaruh, variabel anteseden dan variabel terpengaruh, variabel pengaruh dan variabel terpengaruh. (b) apabila variabel anteseden dikontrol, hubungan antara variabel pengaruh dan variabel terpengaruh tidak lengkap. Dengan kata lain: variabel anteseden tidak mempengaruhi hubungan antara kedua variabel pokok, (c) apabila variabel pengaruh dikontrol, hubungan antara variabel anteseden dan variabel lterpengaruh harus lengkap. (Masri Singarimbun, 1982).&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;            Variabel penelitian ditentukan oleh landasan teoritisnya dan kejelasannya ditegaskan oleh hipoteses penelitian. Menurut fungsinya variabel penelitian dibedakan menjadi: Variabel tergantung (terikat), variabel bebas, variabel intervening, variabel moderator, variabel kendali, dan variabel rambang.&lt;br /&gt;            Sedang menurut datanya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi: variabel nominal, variabel ordinal, variabel interval, dan variabel rasio. Variabel menurut nilainya dibedakan menjadi variabel diskrit dan variabel kontinu.&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bridgman, P. W. 1972. The Logic of Modern Physics.  New York: M.C. Milan&lt;br /&gt;Danim, S. 2007. Metode Penelitian: Untuk Ilmu-Ilmu Perilaku&gt; Jakarta: Bumi Aksara&lt;br /&gt;Narbuko, C. dan Ahmadi, A. 2007. Metodologi Penelitian: Memberi Bekal Teoritis kepada Mahasiswa tentang Metodologi Penelitian serta Diharapkan dapat Melaksanakan Penelitian  dengan Langkah-Langkah yang Benar. Jakakrta Bumi aksara&lt;br /&gt;Singarimbun, Masri. 1984. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-7586604737712009935?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/7586604737712009935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=7586604737712009935' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/7586604737712009935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/7586604737712009935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/pengertian-variabel.html' title='PENGERTIAN VARIABEL'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-5450731055022494494</id><published>2008-06-09T05:30:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:31:48.197-07:00</updated><title type='text'>Mengukur Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mengukur Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Validitas&lt;br /&gt;Sifat valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari apa yang kita inginkan.  Jika pada suatu kesempatan kita ingin memperoleh tinggi suatu meja, penggaris merupakan alat ukur yang valid, karena dengan alat ini kita akan dapatkan berapa centi meter tinggi meja tersebut. Meteran gulung juga alat yang valid. Selain itu, pengukuran dengan jengkal tangan juga merupakan cara yang bisa dilakukan. Namun tidak demikian halnya jika kita gunakan termometer badan.  Bagaimana kita bisa memperoleh tinggi meja hanya dengan sebuah termometer?&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain kita menginginkan pengukuran tinggi terhadap tingkat keseahteraan keluarga. Bagaimana cara mengukur tingkat kesejahteraan keluarga? Berbagai variabel mungkin digunakan untuk itu, sebut saja: pendapatan keluarga, pengeluaran keluarga, pendidikan anak, dan tingkat gizi anggota keluarga.  Kesemuanya bisa kita ajukan dan debatkan sebagai “alat” yang valid untuk tujuan yang diinginkan.  Bagaimana halnya dengan pertanyaan berapa rata-rata lama meononto TV anggota keluarga tersebut? Apakah itu adalah ‘alat” yang valid? Untuk menjawab ini, coba jawab dulu dua pertanyaan berikut:&lt;br /&gt;1.              Apakah keluarga yang rata-rata menonton TV lebih besar, memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi?&lt;br /&gt;2.              Atau sebaliknya, apakah keluarga yang lebih sedikit menonton TV adalah keluarga yang lebih sejahtera?&lt;br /&gt;Jika Anda menjawab TIDAK untuk kedua pertanyaan tersebut, maka itu pertanyaan berapa rata-rata lama menonton TV anggota keluarga bukanlah “alat” yang valid untuk mengukur kesejahteraan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ukuran validitas untuk sebuah kuesioner adalah apa yang disebut sebagai validitas konstruk (construct validity).  Dalam pemahaman ini, sebuah kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan untuk mengukur suatu hal, dikatakan valid jika setiap butir pertanyaan yang menyusun kuesioner tersebut memiliki keterkaitan yang tinggi.  Misalkan saja untuk kuesioner yang digunakan mengukur kesejahteraan keluarga, maka butir-butir penyusunnya semuanya menuju ke satu titik, yaitu pengukuran kesejahteraan.&lt;br /&gt;Ukuran keterkatian antar butir pertanyaan ini umumnya dicerminkan oleh korelasi jawaban antar pertanyaan.  Pertanyaan yang memiliki korelasi rendah dengan butir pertanyaan yang lain, dinyatakan sebagai pertanyaan yang tidak valid.&lt;br /&gt;Metode yang sering digunakan untuk memberikan penilaian terhadap validitas kuesioner adalah korelasi produk momen (moment product correlation, Pearson correlation) antara skor setiap butir pertanyaan dengan skor total, sehingga sering disebut sebagai inter item-total correlation.  Formula yang digunakan untuk itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;xij       = skor responden ke-j pada butir pertanyaan i&lt;br /&gt;xi        = rata-rata skor butir pertanyaan i&lt;br /&gt;tj        = total skor seluruh pertanyaan untuk responden ke-j&lt;br /&gt;t         = rata-rata total skor&lt;br /&gt;ri        = korelasi antara butir pertanyaan ke-i dengan total skor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bentuk tabel, struktur data yang digunakan untuk mengukur validitas dengan cara di atas adalah:&lt;br /&gt;Responden&lt;br /&gt;Pertanyaan 1&lt;br /&gt;Pertanyaan 2&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Pertanyaan k&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;X11&lt;br /&gt;X21&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Xk1&lt;br /&gt;t1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;X12&lt;br /&gt;X22&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Xk2&lt;br /&gt;t2&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;….&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n&lt;br /&gt;X1n&lt;br /&gt;X2n&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Xkn&lt;br /&gt;tn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X1&lt;br /&gt;X2&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Xk&lt;br /&gt;t&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat keputusan valid atau tidaknya sebuah pertanyaan, yang digunakan adalah nilai ri.  Semakin besar nilai ri (ingat nilai ri berkisar antara  –1 dan 1), maka semakin valid pertanyaan tersebut.  Sebaliknya jika ri semakin kecil.  &lt;br /&gt;Mengukur Reliabilitas&lt;br /&gt;Sifat reliable (terandal) dari sebuah alat ukur berkenaan dengan kemampuan alat ukur tersebut memberikan hasil yang konsisten.  Bisa dibayangkan jika kita mempunyai alat yang hasilpengukurannya berbeda-besda pada setiap kali proses pengukuran.  Sekarang diperoleh hasil 50, beberapa saat kemudian dilakukan pengukuran ulang diperoleh hasil 100. Begitu seterusnya tidak pernah konvergen.  Bagaimana kita menggunakan datanya? Hasil pengukuran mana yang kita gunakan?&lt;br /&gt;Trochim mengatakan bahwa&lt;br /&gt;In research, the term reliability means "repeatability" or "consistency". A measure is considered reliable if it would give us the same result over and over again (assuming that what we are measuring isn't changing!).&lt;br /&gt;Pada saat kita membahas kevalidan suatu alat, bisa disepakati bahwa meteran dan jengkal tangan merupakan dua alat yang valid untuk mengukur tinggi suatu objek atau benda.  Jika benda itu adalah sebuah meja, dan kita melakukan pengukuran tinggi berulang-ulang dengan menggunakan meteran, hasil yang diperoleh tidak akan jauh berbeda.  Seandainya pada pengukuran pertama diperoleh angka 1.02 meter, pengukuran selanjutnya akan memberikan hasil di sekitar nilai tersebut.  Begitu juga dengan penggunaan jengkal tangan, hasil 5 jengkal pada pengukuran pertama juga akan didapatkan pada pengukuran berikutnya.  Untuk kasus pengukuran tinggi meja, meteran dan jengkal tangan selain merupakan alat yang valid, juga alat yang RELIABLE (TERANDAL)&lt;br /&gt;Bagaimana jika objek yang diukur adalah gedung 15 lantai?  Mungkinkah jengkal tangan akan memberikan hasil yang konsisten? Kemungkinan besar TIDAK.  Dalam hal ini, jengkal tidak lagi merupakan alat yang reliable.&lt;br /&gt;Sifat-sifat ini juga harus dimiliki oleh kuesioner yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.  Yang menjadi permasalahan adalah, bagaiamana cara kita mengetahui keterandalan (reliability) dari sebuah kuesioner.&lt;br /&gt;Mari kita lihat dengan lebih detail apa yang dimaksud dengan reliable (terandal) yang mengandung pengertian kemampuan kueisoner memberikan hasil pengukuran yang konsisten.&lt;br /&gt;Kita mulai dengan terlebih dahulu mendefinisikan nilai X, yaitu sesuatu yang ingin kita ukur, ingin kita ketahui nilainya untuk suatu objek tertentu.  Ini bisa berupa tingkat kesejahteraan sebuah keluarga, tingkat kepuasan seseorang pada pelayanan tertentu dan sebagainya.  Selanjutnya, yang paling mudah untuk melihat kekonsistenan adalah dengan melakukan pengukuran sebanya dua kali, misalkan saja diperoleh X1 pada pengukuran pertama, dan X2 pada pengukuran kedua.  Jika kita mengasumsikan bahwa cara kita mengukur tidak ada perbedaan (kalimat yang digunakan, kondisi responden, dsb), kita bisa menilai sejauh mana kekonsistenan hasil yang didapatkan.  Andaikan saja setiap hasil pengukuran mengandung dua bagian, nilai yang sebenarnya (T) dan galat (e).  Gambarannya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa nilai yang kita peroleh adalah X dan kita tidak pernah tahu besarnya nilai T dan e.  Misalkan saja, seseorang mungkin memberikan nilai 85 untuk tingkat kepuasan dia terhadap jalannya pemerintahan saat ini.  Itu adalah apa yang kita peroleh, X sebesar 75.  Namun, berapa tingkat kepuasan yang sebenarnya dari orang tersebut tidak pernah kita ketahui.  Misalkan saja, yang sebenarnya adalah 89.  Ini berarti bahwa galat (error) untuk orang tersebut adalah –14.  Apa artinya?  Mungkin, meskipun tingkat kepuasan sesungguhnya adalah 89, tapi karena hari itu adalah hari yang kurang menguntungkan bagi orang tersebut maka ketiak ditanyakan kepuasan, dia hanya memberikan 75.  Faktor-faktor seperti ini yang memberikan kontribusi pada kesalahan pengukuran.&lt;br /&gt;Kembali ke masalah keterandalan.  Jika alat ukur (kuesioner) kita terandal, maka nilai X yang didapatkan dari dua kali pengukuran akan memberikan hasil yang (sangat) mirip.  Mengapa begitu?  Perhatikan kembali gambar di atas.   Satu hal yang sama pada dua kali pengukuran adalah nilai T.  Perbedaan subscript pada galat (e1 dan e2) menunjukkan bahwa keduanya berbeda nilainya.  Ini berarti bahwa kedua nilai hasil pengukuran, X1 dan X2 terhubung hanya melalui T.   Besarnya galat diasumsikan bersifat acak, kadang-kadang galat memiliki besaran yang membuat X membesar, kadangkala sebaliknya.  Namun besarnya T, tetap.&lt;br /&gt;Sekarang kita akan coba definisikan reliabilitas (keterandalan) dengan lebih jelas.  Keterandalan merupakan rasio dari dua hal, atau dituliskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Nilai sebenarnya&lt;br /&gt; Reliabilitas = ----------------------------------------------&lt;br /&gt;Nilai yang diperoleh&lt;br /&gt;Dengan kata lain, reliabilitas bisa kita anggap sebagai proporsi “kebenaran” dari hasil pengukuran.  Selanjutnya kita tidak membicarakan reliabilitas pendukuran dari satu individu, namun merupakan karakteristik alat ukur terhadap beberapa individu.  Sehingga, untuk menuju ke definisi formalnya, mari ktia coba menulis ulang dalam konteks ada segugus data hasil pengamatan.  Cara yang paling sederhana dan mudah adalah dengan menggunakan ragam nilai pengukuran.  Ingat bahwa ragam adalah ukuran penyebaran dari sekelompok nilai.  Dengan demikian, reliabilitas bisa kita tulis ulang sebagai&lt;br /&gt;Ragam nilai sebenarnya&lt;br /&gt;                    Reliabilitas = --------------------------------------&lt;br /&gt;Ragam nilai hasil pengukuran&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;Var (T)&lt;br /&gt;                    Reliabilitas = --------------------------------------&lt;br /&gt;Var (X)&lt;br /&gt;Sekarang kita sampai pada bagian yang penting. Jika diperhatikan persamaan di atas, mudah sekali mendapatkan nilai penyebutnya, tinggal menghitung nilai ragam dari skor yang diperoleh dari hasil pengukuran.  Namun, bagaimana cara menghitung ragam dari nilai skor sebenarnya ?  Yang kita peroleh hanya nilai X, nilai T tidak kita ketahui.  Hanya TUHAN yang tahu besarnya nilai T.  Dan jika kita tidak bisa memperoleh ragam dari nilai sebenarnya, maka kita tidak bisa mendapatkan rasio dari kedua ragam, ini berarti nilai reliabiltias tidak diperoleh.&lt;br /&gt;we can't compute reliability because we can't calculate the variance of the true scores&lt;br /&gt;Lalu selanjutnya bagaimana? Jika kita tidak bisa menghitung reliabilitas, mudah-mudahan kita bisa menduganya.  Mungkin saja kita bisa mendapatkan dugaan bagi ragam nilai sebenarnya.  Bagaimana melakukannya?  Masih ingat dengan hasil dua kali pengukuran, X1 dan X2?  Kita asumsikan bahwa kedua hasil pengamatan saling berkorelasi melalui besarnya nilai sebenarnya.  Dan jika kita hitung korelasi antara X1 dan X2, formula yang digunakan adalah:&lt;br /&gt;covariance(X1, X2)&lt;br /&gt;reliabilitas = ----------------------------------------------&lt;br /&gt;sd(X1) * sd(X2)&lt;br /&gt;dengan sd adalah simpangan baku.  Jika kita amati lebih teliti persamaan tersebut, adalah nilai yang mengukur kontribusi dari kedua pengukuran.  Dengan demikian, pembilang pada persamaan tersebut adalah penduga dari Var(T).  Dan karena bagian penyebutnya adalah perkalian dari dua simpangan baku, dan kita menganggap keduanya sama, maka penyebut itu tidak lain adlah Var(X).   Dari uraian ini jelas bahwa, korelasi antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua merupakan ukuran untuk menduga besarnya reliabilitas.&lt;br /&gt;Kini saatnya membuat beberapa kesimpulan.  Sudah dijelaskan bahwa kita tidak mungkin bisa menghitung besarnya reliabilitas karena tidak mampu memperoleh nilai amatan yang sebenarnya.  Namun demikian kita bisa menduga besarnya keragaman nilai yang sebenarnya melalui besarnya covariance dari kedua pengukuran.  Dengan cara berpikir seperti ini, penduga reliabilitas adalah korelasi antar kedua pengukuran.&lt;br /&gt;Berikutnya kita bahas kisaran besarnya penduga reliabilitas.  Untuk itu perhatikan kembali persamaan&lt;br /&gt;Var (T)&lt;br /&gt;                             Reliabilitas = --------------------------------------&lt;br /&gt;Var (X)&lt;br /&gt;dan ingatlah bahwa X = T + e, sehingga pada bagian penyebut bisa kita lakukan substitusi menjadi&lt;br /&gt;Var (T)&lt;br /&gt;                    Reliabilitas = --------------------------------------&lt;br /&gt;Var (T) + Var (e)&lt;br /&gt;Dengan sedikit perubahan tersebut, sekarang dengan mudah kita bisa mengetahui kisaran nilai penduga reliabilitas.  Jika sebuah pengukuran bersifat terandal sempurna, tidak ada galat (error) pada pengukuran tersebut – semua yang diamati adalah nilai yang sebenarnya, maka persamaan di atas tereduksi menjadi&lt;br /&gt;Var (T)&lt;br /&gt;                              Reliabilitas = --------------------------------------&lt;br /&gt;Var (T)&lt;br /&gt;dan nilai reliabilitas = 1.  Sedangkan untuk pengukuran yang tidak terandal sama sekali, tidak ada unsur nilai sebenarnya – semua yang teramati adalah galat, maka persamaan di atas tereduksi menjadi:&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;                    Reliabilitas = --------------------------------------&lt;br /&gt;Var (e)&lt;br /&gt;dan nilai reliabilitas = 0.  Dari sini kita dapat mengetahui bahwa besarnya nilai reliabilitas berkisar antara 0 dan 1.  Nilai reliabilitas memberikan pengertian proporsi keragaman nilai sebenarnya yang bisa diterangkan dari hasil pengukuran.  Jika diperoleh nilai reliabilitas 0.5, berarti sekitar setengah keragaman hasil pengukuran disumbang oleh nilai sebenarnya, setengah yang lain oleh galat (error). Nilai reliabilitas sebesar 0.8 berarti bahwa keragaman yang terbentuk, 80% oleh nilai sebnarnya dan 20% oleh galat.&lt;br /&gt;Sekarang kita akan coba menguraikan berbagai cara/jenis menghitung dugaan nilai keterandalan (reliabilitas).  Paling tidak ada empat kelompok besar, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inter-Rater or Inter-Observer Reliability&lt;br /&gt;Digunakan untuk menilai seberapa besar para pengukur/penilai/pengamat memberikan hasil yang konsisten pada pengukuran objek yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test-Retest Reliability&lt;br /&gt;Digunakan untuk menilai kekonsistenan pengukuran antar waktu yang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parallel-Forms Reliability&lt;br /&gt;Digunakan untuk menilai kekonsistenan hasil dari dua jenis alat ukur yang berisi materi yang sama dan mengukur hal yang sama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal Consistency ReliabilityDigunakan untuk menilai kekonsistenan internal antar butir pertanyaan yang ada dalam sebuah alat ukur (kuesioner).&lt;br /&gt;Sekarang mari kita diskusikan satu persatu dari keempat macam cara di atas.&lt;br /&gt;Inter-Rater or Inter-Observer Reliability&lt;br /&gt;Kapanpun kita menggunakan manusia sebagai bagian dari proses pengukuran, maka selalu ada kekhawatiran apakah hasilnya itu terandal atau konsisten.  Manusia cenderung melakukan ketidakkonsistenan karena mudah terpengaruh.  Misalkan saja, kita akan merasa capaek setelah melakukan pekerjaan cukup lama, ktia kadang-kadang memiliki suasana hati yang berbeda-beda, kadangkala juga antar manusia memiliki pemahaman yang berbeda terhadap suatu hal.&lt;br /&gt;Jadi bagaimana menentukan apakah dua pengamat/pengukur yang dilibatkan memiliki kekonsistenan antar mereka?  Masalah ini sering kali tidak dimasukkan langsung dalam studi (penelitian yang dilakukan).  Namun jika muncul ketidakkonsistenan, kita akhirnya terjebak karena memiliki data yang tidak bisa diandalkan.  Yang paling baik adalah melakukan studi pendahuluan untuk memeriksa hal ini.  Jika penelitian itu berlangsung dalam jangka yang cukup panjang, perlu juga diperiksa kekonsistenan para pengukur/pengamat dari waktu ke waktu untuk memerikasa ada tidaknya perubahan.&lt;br /&gt;Ada dua cara utama yang bisa digunakan untuk menduga inter-rate reliability.  Jika pengukuran yang dilakukan melibatkan pengelompokkan, yaitu petugas pengukur/pengamat melakukan pengelompokkan berdasar apa yang ia lihat, kita bisa menghitung berapa persentase kesepakatan antar petugas.  Sebagai contoh, misalkan kita memiliki 100 objek yang diamati dan dinilai/diukur oleh dua orang petugas.  Untuk setiap objek amatan, petugas harus menentukan objek tersebut masuk kedalam satu dari tiga kelompok.  Misalkan saja habwa ada 86 dari 100 objek yang dikelompokkan pada kelompok yang sama oleh kedua petugas.  Pada contoh ini, persentase kesepakatan adalah 86%.  Memang, itu adalah dugaan yang kasar, tapi memebrikan petunjuk berapa besar kesepakatan yang terjadi.  Dan ini bisa dilakukan tidak tergantung berapa banyak kelompok yang ditentukan.&lt;br /&gt;Cara yang lain untuk menduga besarnya inter-rater reliability adalah jika pengukuran yang dilakukan menghasilkan nilai yang kontinu (numerik).  Dalam hal ini, yang harus kita lakukan adalah menghitung korelasi antar rating yang dihasilkan oleh kedua petugas pengukur.  Sebagi contoh, mereka mungkin kita minta untuk memberikan penilaian terhadap keaktifan kelas kulaih, dengan memberi nilai antara 1 sampai 7.  Kedua pengamat memberikan nilai untuk beberapa kelas.  Korelasi antar nilai yang dihasilkan oleh keduanya bisa dijadikan penduga reliabilitas atau konsistensi antar petugas.&lt;br /&gt;Kita juga bisa menganggap bahwa reliabilitas jenis ini sebagai upaya “mengkalibrasi” petugas.  Ada hal-hal lain yang bisa diupayakan untuk mengevaluasi keterandalan antar petugas, namun tidak menduga berapa besar nilainya.  Misalkan, seseorang perawat yang bekerja di bagian psychiatric setiap pagi harus memeriksa pasien dengan mengajukan 10 butir pertanyaan.  Dari pertanyaan tersebut perawat menilai kondisi pasien.  Tentu saja kita tidak  bisa mengharapkan perawat tersebut ada setiap hari, sehingga kadang kala harus digantikan oleh yang lain.  Jelas bahwa harus ada kesepakatan antar perawat.  Untuk memeriksanya mungkin diperlukan pertemuan mingguan membahas hasil penilaian, sehinggga jika ada ketidaksepakatan antar perawat bisa diluruskan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test-Retest Reliability&lt;br /&gt;Kita melakukan pendugaan test-retest reliability jika kita berhadapan dengan pengukuran yang sama (mirip) terhadap objek yang sama dalam dua waktu yang berbeda.  Pendekatan ini mengasumsikan bahwa tidak ada perubahan substansial yang terjadi pada obejk yang diukur pada dua waktu yang ditentukan.  Jarak antar waktu yang digunakan sangat penting, hal ini karena kita pahami bahwa korelasi antar hasil pengamatan pada waktu yang berbeda dipengaruhi oleh jarak waktu antar pengamatan.  Semakin sempit jarak waktunya, semakin tinggi korelasinya; sebaliknya semakin panjang jarak waktu antar pengamatan, semkain kecil korelasinya.  Hal ini disebabkan pada pengamatn/pengukuran yang jaraknya sempit, faktor yagn mempengaruhi galat (error) relatif sama.  Karena itulah, penduga yang kita peroleh sangat tergantung pada selang waktu antar pengukuran.&lt;br /&gt;Parallel-Forms Reliability&lt;br /&gt;Mengenai jenis ini, pada tahap awal kita harus membuat dua form (alat ukur/kuesioner) sejenis.  Salah satu cara untuk memperolehnya adlaah dengan membuat seklompok besar pertanyaanyang mengukur/menilai hal yang sama, dan secara acak membagi menjadi dua kelompok.  Selanjutnya, kedua kelompok pertanyaan tersebut kita ajukan kepada responden.  Korelasi antara nilai hasil kedua form/kelompok pertanyaan tersebut adalah penduga dari reliabilitas.  Masalah utama dari cara ini adalah kita haurs mampu menyusun banyak pertanyaan yang mengukur satu hal.  Ini sering kali tidak mudah.  Lebih lannjut, pendekatan ini juga membuat asumsi bahwa pembagian secara acak pertanyaan tersebut mampu membuat form yang paralel (sama sifatnya). &lt;br /&gt;Kadang kala, tidak selalu, pendekatan parallel form ini sangat mirip dengan split-half reliability, yang akan didiskusikan berikutnya.  Perbedaan utamanya adalah, pada form paralel kedua kelompok pertanyaan disusun sehingga dapat digunakan secara bebas satu sama lain dan mengukur hal yang sama.  Sebagai misal, untuk mengevaluasi keberhasil program, kita bisa menggunakan form ayng satu untuk pre-test dan form yang lain untuk post-test.  Sedangkan pada split-half, kita hanya membuat satu gugus pertanyaan, satu alat ukur, hanya saja ketika akan menghitung dugaan keterandalan menggunakan proses pembagian secara acak butir-butir tersebut.&lt;br /&gt;Internal Consistency Reliability&lt;br /&gt;Jenis yang selanjutnya adalah menggunakan satu alat ukur yang diajukan kepada sekelompok responden (objek).  Pada kasus ini kita ingin mendapatkan penilaian seberapa bagus butir-butir pertanyaan yang terlibat mampu memberikan hasil yang sama.  Atau kit amelihat seberapa konsisten hasil dari butir-butir yang berbeda.  Ada banyak macam ukuran kekonsistenan yang bisa digunakan.&lt;br /&gt;Average Inter-item Correlation (rataan korelasi antar butir)&lt;br /&gt;Cara ini menggunakan semua bitir pertanyaan yang ada dalam alat ukur (kuesioner) yang didesain untuk mengukur satu hal.  Pertama kali kita harus menghitung korelasi setiap pasang butir pertanyaan, seperti diilustrasikan pada gambar.  Misalkan saja, jika ada enam butir pertanyaan maka akan ada sebanyak 15 pasang butir pertanyaan, 15 nilai korelasi yang diperoleh.  Rata-rata dari korelasi antar butir itulah yang dijadikan penduga reliabilitas.  Pada contoh di gamabr diperoelh rata-rata sebesar 0.90 dengan korelasi antar butir berkisar 0.84 hingga 0.95.&lt;br /&gt;Average Item-total Correlation (rataan korelasi antar butir-total)&lt;br /&gt;Pada pendekatan ini yang digunakan adalah korelasi antara butir pertanyaan dengan total skor (sama dengan waktu kita membicarakan validitas).  Mula-mula kita hitung total skor dari seluruh pertanyaan, kemudian dicari rata-rata setiab butir dengan total skor.  Dari sana baru kita cari rata-ratanya.  Ilustrasi pada gambar meberikan contoh kasus ada 6 butir pertanyaan, yang masing-masing korelasi dengan total skor berkisar 0.82 hingga 0.88, dan diperoelh rata-rata 0.85.  Nilai inilah yang dijadikan penduga reliabilitas.&lt;br /&gt;Split-Half Reliability (belah dua)&lt;br /&gt;Pada kasus ini kita membagi secara acak butir-butir pertnayaan menjadi dua bagian, namun setiap reaponden menjawab semua butir pertanyaan.  Selanjutnya kita mengbitung total skor dari setiap belahan.  Korealsi antara total kedua belahan itulah yang dijadikan sebagai penduga reliabilitas.  Pda contoh di gambar diperoleh penduga reliabilitas sebesar 0.87.&lt;br /&gt;Cronbach's Alpha ()&lt;br /&gt;Bayangkan kita menghitung koefisien keterandalan (reliabilitas) belah dua, karena belahan dilakukan secara acak maka kita bisa melakukannya kembali berkali-kali dan diperoleh hasil yang berbeda-beda.  Secara matematis, Cronbach’s Alpha adalah rata-rata dari semua kemungkinan nilai reliabilitas yagn dihitung dengan cara belah dua. &lt;br /&gt;Dengan menggunakan pendekatan ini kita tidak perlu menghitung semua reliabilitas belash dua, cukup menggunakan formula Cronbach’s Alpha, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;k             = banyaknya butir pertanyaan&lt;br /&gt;Si2           = ragam skor butir pertanyaan ke-i       &lt;br /&gt;ST2          = ragam skor total&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aswarni Sudjud, Pengarah Penelitian. Makalah khusus disampaikan di depan calon peneliti guru-guru Sekolah Laboratori IKIP Yogyakarta: 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT Rineka Cipta, Jakarta: 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, Cetakan IV, Yayasan Penerbit, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta: 1976&lt;br /&gt; Winarno Surakhmad, Dasar dan Teknik Research, Tarsito, Bandung: 1972&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-5450731055022494494?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/5450731055022494494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=5450731055022494494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/5450731055022494494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/5450731055022494494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/mengukur-validitas-dan-reliabilitas.html' title='Mengukur Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-2630412878040397940</id><published>2008-06-09T05:26:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T05:27:50.827-07:00</updated><title type='text'>HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian pada bab Hasil Penelitian dan Pembahasan meliputi tiga hal antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  DESKRIPSI DATA PENELITIAN&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan mendeskripsikan data adalah menggambarkan data yang ada guna memperoleh bentuk nyata dari responden, sehingga lebih mudah dimengerti peneliti atau orang lain yang tertarik dengan hasil penelitian yang dilakukan. Mendeskripsikan informasi dari responden ini ada dua macam. Jika data yang ada adalah data kualitatif, maka deskripsi data ini dilakukan dengan cara menyusun dan mengelompokkan data yang ada, sehingga memberikan gambaran nyata terhadap responden.&lt;br /&gt;Jika data tersebut dalam bentuk kuantitatif atau ditransfer dalam angka maka cara mendeskripsi data dapat dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif. Tujuan dilakukan analisis deskriptif dengan menggunakan teknik statistika adalah untuk meringkas data agar menjadi lebih mudah dilihat dan dimengerti.&lt;br /&gt;Analisis data yang paling sederhana dan sering digunakan oleh peneliti atau pengembang adalah menganalisis data yang ada dengan menggunakan prinsip-prinsip deskriptif. Dengan menganalisis secara deskriptif ini mereka dapat mempresentasikan secara ringkas, sederhana, dan lebih mudah dimengerti. Yang termasuk analisis deskriptif pada umumnya termasuk mengukur tendensi sentral, mengukur variabilitas, mengukur hubungan, mengukur perbandingan dan mengukur posisi suatu skor. Fungsi deskripsi data adalah untuk mengadministrasi dan menampilkan ringkasan yang ada sehingga memudahkan pembaca lain mengerti substansi dan makna dari tampilan data tersebut.&lt;br /&gt;B.  PENGUJIAN HIPOTESIS&lt;br /&gt;Pengujian hipotesis ini bermaksud untuk menentukan posisi penulis berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Pada bab ini tercapailah klimak pembahasan, sehingga dalam tahap ini penulis harus bisa memaparkan dengan jelas apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima. Sehingga hasil uji hipotesis pada analisis statistika, biasanya akan selalu jatuh pada dua kemungkinan diatas.&lt;br /&gt;Suatu uji hipotesis dikatakan menolak, jika dari uji statistika yang dilakukan, peneliti memperoleh hasil akhir bahwa hipotesis nihil yang diajukan oleh si peneliti ditolak pada derajat signifikan tertentu. Hasil uji statistika ini dengan kata lain dapat diartikan bahwa adanya perbedaan hasil variabel yang terjadi bukan disebabkan oleh suatu kebetulan atau ”by accident”, tetapi memang didukung dengan data yang ada di lapangan. Interpretasi uji hipotesis dapat pula diartikan dengan melihat sisi lain yang diajukan oleh peneliti, yaitu hipotesisi pendamping. Hasil testing statistika menunjukkan bahwa hipotesis riset yang telah ada didukung atau diterima sebagai hal yang benar.&lt;br /&gt;Suatu hipotesis nihil dikatakan diterima, jika hipotesis nihil yang diturunkan dari hasil kesimpulan kajian teoritis tidak ditolak atau diterima. Jika ternyata tes statistika menerima hipotesis nihil, hal ini berarti bahwa perbedaan yang dihasilkan dari proses hasil kajian pustaka, hanyalah disebabkan oleh suatu kebetulan saja atau oleh adanya kesalahan yang tidak disengaja waktu mengambil data di lapangan.&lt;br /&gt;Atau dari hasil uji testing hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa, hipotesis riset yang telah diajukan oleh si peneliti sebagai hipotesis pendamping, ditolak atau tidak didukung oleh informasi yang ada.  Ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam menentukan ditolak atau diterimannya hipotesisi nihil yang diajukan oleh peneliti muda. Pernyataan praktis tersebut adalah haruskah seorang peneliti mengulang kembali uji tesnya, jika hipotesis nihil yang diajukan diterima ?. atau tidak sesuai dengan apa yang digambarkan dalam kerangka berpikir. Jawabanya tegas, dalam hal ini bahwa para peneliti tidak diharuskan kembali ke lapangan untuk mencari data kembali,  dan mereka tidak dianggap gagal dalam melaksanakan penelitian. Para peneliti dalam hal ini, langsung dapat mengambi kesimpulan atau atau menginterprestasi hasil analisis, berdasarkan kepada hasil uji testing yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan di sini adalah proses uji testing tidak sama dengan proses  membuktikan dalam ilmu matematika. Testing hipotesis tidak sama dengan membuktikan.  Dalam membuktikan rumus atau soal yang diajukan dalam matematika, seorang siswa harus mengulang kembali, jika mereka belum bisa membuktikan formula yang diajukan. Sedangkan dalam uji hipotesis, peneliti langsung dapat  memasukkan pada dua kemungkinan yang ada yaitu diterima atau diterima.&lt;br /&gt;Ada dua kemingkian kesalahan dalam mengambil keputusan terhadap hipotesis yang diuji yaitu kesalahan tipe I dan kesalahan tipe II.  Pengambilan keputusan dikatakan kesalahan tipe I, jika seorang peneliti menolak hipotesis nihil yang dalam kenyataannya benar. Pengambilan keputusan dikatakan termasuk dalam kesalahan tipe II, jika peneliti ternyata tidak menolak hipotesis nihil yang kenyataannya adalah keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  INTERPRETASI DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya dari hasil penelitian dan pembahasan adalah menginterpretasikan dan pembahasan hasil penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.     Pemaparan hasil penelitian pada dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan penelitian atau menjawab tujuan penelitian.&lt;br /&gt;2.     Penyajian paparan hasil seharusnya berurutan sejalan dengan urutan pertanyaan penelitian/ tujuan penelitian.&lt;br /&gt;3.     Paparan data hasil penelitian pada siklus yang dilakukan&lt;br /&gt;4.     Paparan hasil pengamatan termasuk kemajuan yang dicapai&lt;br /&gt;5.     Paparan hasil refleksi termasuk berbagai perbaikan yang dilakukan&lt;br /&gt;6.     Berbagai perubahan yang terjadi perlu dicatat sebagai laporan penelitian adalah :&lt;br /&gt;a.   Siswa       : hasil belajar (harian, tengah semester, semesteran), motivasi terhadap proses belajar mengajar, aktivitas, catatan portofolio, perubahan sikap.&lt;br /&gt;b.   Guru         : peningkatan pengetahuan, pengelolan kelas, peningkatan ketrampilan hasil belajar. &lt;br /&gt;7. Pembahasan pada dasarnya menjawab secara singkat tujuan penelitian.&lt;br /&gt;8.  Paparan table antar siklus&lt;br /&gt;9. Temuan penelitian hendaknya didiskusikan dengan berbagai kajian teori yang telah dipaparkan didalam bab III : kajian pustaka  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Sukardi, (2006), Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara&lt;br /&gt;Fatchan, Achmad, 2006, Draf Meteri Kuliah Penelitian Kualitatif Pendidikan Geografi, UM : Malang&lt;br /&gt;Sukarnyana, 2000, Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas Dirjen Dikdasmen PPPG IPS dan PMP : Malang&lt;br /&gt;Supardi, 2005, Menyusun Karya Tulis Ilmiah Jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Depdiknas-Direktorat tenaga kependidikan : Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-2630412878040397940?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/2630412878040397940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=2630412878040397940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/2630412878040397940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/2630412878040397940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/hasil-penelitian-dan-pembahasan.html' title='HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-3690807848412256897</id><published>2008-06-09T05:25:00.000-07:00</published><updated>2008-06-09T05:26:40.818-07:00</updated><title type='text'>ANALISIS DATA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;ANALISIS DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Data merupakan kumpulan dari nilai-nilai yang mencerminkan karakteristik dari individu-individu dari suatu populasi. Data bisa berupa angka, huruf, suara maupun gambar. Dari data ini diharapkan akan diperoleh informasi sebesar-besarnya tentang populasi. Dengan demikian, diperlukan pengetahuan dan penguasaan metode analisis sebagai upaya untuk mengeluarkan informasi yang terkandung dalam data yang dimiliki.&lt;br /&gt;         Statistika, sebagai cabang ilmu yang memberikan berbagai macam teknik dan metode analisis, telah menyediakan berbagai metode yang memeiliki kegunaan yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang kegunaan dari berbagai teknik ini perlu dimiliki untuk menghindari penggunaan yang tidak tepat. Dua macam analisis mungkin memiliki kegunaan yang sama tapi membutuhkan tipe data yang berbeda.&lt;br /&gt;         Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara,pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi,dokumen resmi,gambar foto,dan sebagainya. Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca,dipelajari,dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti,proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada didalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategorai-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substansif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.&lt;br /&gt;         Sehubungan dengan uraian tentang proses analisis dan penafsiran data diatas, maka dapat dijelaskan pokok-pokok persoalan sebagai berikut : Konsep dasar analisis data, Pemerosotan satuan, kategorisasi termasuk pemeriksaan keabsahan data, kemudian diakhiri dengan penafsiran data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.    Konsep Dasar Analisis Data&lt;br /&gt;         Menurut Patton, 1980( dalam Lexy J. Moleong 2002:103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Taylor, (1975:79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untu menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pengorganisasian data sedangkan yang ke dua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan menjadi : Analisis data proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan stuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.&lt;br /&gt;         Dari uraian tersebut diatas dapatlah kita menarik garis bawah, analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen, berupa laporan, biografi, artikel dan lain sebagainya. Pekerjaan analisis data dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengategorikannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif.&lt;br /&gt;         Akhirnya perlu dikemukakan bahwa analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif, yaitu sudah meninggalkan lapangan. Pekerjaan manganalisis data memerlukan usaha pemusatan perhatian dan pengerahan tenaga, pikiran peneliti. Selain menganalisa data, peneliti juga perlu dan masih perlu mendalami kepustakaan guna mengkomfirmasikan teori atau untuk menjastifikasikan adanya teori baru yang barangkali ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Tahapan Persiapan Data&lt;br /&gt;         Secara umum, seperti halnya kegiatan-kegiatan yang lain, harus ada persiapan untuk berlanjut ke tahap berikutnya. Setiap metode analisis harus diawali dengan tahapan persiapan data. Tahapan persiapan data ini dilakukan dengan tujuan :&lt;br /&gt;a.       Mengetahui karakteristik umum dari data yang dimiliki, misalnya peubah apa saja yang dimiliki, tipe-tipe data dari setiap peubah dan sebagainya. Pengetahuan ini dubutuhkan untuk menentukan metode apa saja yang nanti dapat digunakan.&lt;br /&gt;b.      Menyaring data yang akan digunakan dalam analisis. Sebelum dilakukan analisis lebih jauh, kita harus bisa menyaring data yang ada, tapi hanya sebagian. Misalkan hanya untuk yang berjenis kelamin laki-laki, atau hanya data dari kelompok yang berpendidikan SMA, dan sebagainya. Atau mungkin suatu saat kita hanya akan menganalisis sebagaian pertanyaan saja dalam kuesioner, misal pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan demografi responden.&lt;br /&gt;c.       Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada pada data. Bukan hal yang jarang terjadi jika terdapat kesalahan pada data yang kita miliki. Misalnya pada peubah jenis kelamin yang harusnya hanya laki-laki atau perempuan,  tertulis pria. Kesalahan ini dalam analisis akan berujung pada ditemukannya tiga kelompok jenis kelamin. Sehingga pada tahapan persiapan data, harus dipastikan kesalahan-kesalahan seperti ini tidak terjadi.&lt;br /&gt;Semakin besar atau semakin banyak data yang dimiliki, maka waktu yang diperlukan pada tahapan persiapan data ini akan semakin lama. Antisipasi yang bisa dilakukan untuk mempersingkat atau mempermudah tahapan ini antara lain :&lt;br /&gt;1.     menyiapkan program pemasukan data yang baik.  Pada saat penelitian dilakukan, seyogyanya kita membuat suatu sistem pemasukan data (entry data) yang memiliki kemampuan untuk memeriksa kemungkinan-kemungkinan kesalahan.&lt;br /&gt;2.     Melakukan pengkodean terhadap data-data dari pertanyaan-pertanyaan yang terbuka.  Sebelum dilakukan pemasukan data, sedapat mungkin dilakukan pengkodean terhadap jawaban-jawaban pertanyaan terbuka.  Hal ini di samping menghindari pengkodean berbeda-beda dari setiap para petugas yang memasukkan data, juga mempermudah pada tahap analisis.&lt;br /&gt;3.     Melakukan briefing kepada para petugas pengentry data.&lt;br /&gt;      Jika tahapan persiapan bis dilalui dengan baik, maka besar kemungkinan kesulitan-kesulitan pada saat pengolahan (analisis) data bisa dihindari.&lt;br /&gt;IV. TEKNIK PENYAJIAN DATA&lt;br /&gt;         Sebelum kita masuk ke berbagai macam metode dan teknik analisis, ada baiknya kita mempelajari teknik-teknik penyajian data.  Teknik-teknik ini diperlukan untuk memberikan gambaran umum informasi yang terkandung data.  Di samping itu, teknik penyajian ini dimaksudkan untuk memperindah tampilan dari suatu laporan penelitian.&lt;br /&gt; Penyajian data yang umum digunakan adalah :&lt;br /&gt;-       tabel&lt;br /&gt;-       grafik&lt;br /&gt;Penyajian dalam bentuk tabel, memiliki beberapa jenis :&lt;br /&gt;1.     Tabel Ringkasan Data : Tabel ini merupak ringkasan statistik dari beberpa kelompok.  Misalkan jika kita memiliki data pendapatan keluarga di suatu propinsi, dan kita ingin menyajikan rata-rata pendapatan keluarga berdasarkan tingkat pendidikan kepala keluarganya.  Dari tabel ini ingin diperoleh informasi umum hubungan antara pendidikan dan pendapatan.  Bentuk tabelnya mungkin seperti berikut :&lt;br /&gt;Pendidikan Kepala Keluarga&lt;br /&gt;Pendapatan Keluarga (juta per bulan)&lt;br /&gt;Tidak Sekolah&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;SD&lt;br /&gt;0.8&lt;br /&gt;SMP&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;SMA&lt;br /&gt;1.1&lt;br /&gt;Diploma&lt;br /&gt;1.3&lt;br /&gt;S1/S2/S3&lt;br /&gt;1.8&lt;br /&gt;Dalam penyajian menggunakan tabel ringkasan ini, mungkin informasi akan lebih lengkap jika tidak hanya menampilkan rata-rata (ukuran pemusatan data) saja.  Tambahan informasi tentang simpangan baku akan memberikan pengetahuan yang lebih menyeluruh.  Misalmya tabel berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Kepala Keluarga&lt;br /&gt;Pendapatan Keluarga (juta per bulan)&lt;br /&gt;Simpangan Baku&lt;br /&gt;(juta per bulan)&lt;br /&gt;Tidak Sekolah&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.2&lt;br /&gt;SD&lt;br /&gt;0.8&lt;br /&gt;0.3&lt;br /&gt;SMP&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.4&lt;br /&gt;SMA&lt;br /&gt;1.1&lt;br /&gt;0.6&lt;br /&gt;Diploma&lt;br /&gt;1.3&lt;br /&gt;0.3&lt;br /&gt;S1/S2/S3&lt;br /&gt;1.8&lt;br /&gt;1.0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa pendapatan keluarga berpendidikan SMA dan S1/S2/S3 lebih beragam dibandingkan yang lain.  Keluarga yang pendidikannya tidak sekolah pendapatannya relatif sama, tapi keluarga yang pendidikannya SMA memiliki pendapatan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;2.     Tabel Frekuensi : Tabel ini merupakan gambaran frekuensi atau berapa banyak individu pada berbagai kelompok.  Misalkan saja penelitian tentang partisipasi masyarakat suatu kota dalam program Keluarga Berencana.  Kemudian kita ingin menyajikan gambaran pengguna berbagai macam alat kontrasepsi.  Dari tabel frekuensi ini kita bisa mengetahui alat kontrasepsi apa yang paling banyak diminati oleh masyarakat.  Seringkali tabel ini disajikan terurut berdasarkan frekuensi, dari yang terbesar ke yang terkecil atau sebaliknya. Bentuk tabelnya mungkin sebagai berikut :&lt;br /&gt;Alat Kontrasepsi&lt;br /&gt;Frekuensi&lt;br /&gt;Persentase&lt;br /&gt;Pil&lt;br /&gt;500&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;Kondom&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;20%&lt;br /&gt;IUD&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;15%&lt;br /&gt;Vasektomi&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;10%&lt;br /&gt;Tubektomi&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;5%&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;1000&lt;br /&gt;100%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.     Tabel Kontingensi atau Tabulasi Silang : Tabel ini hampir sama dengan tabel frekuensi namun dilihat dari dua atau lebih peubah.  Misalnya jika kita ingin mengetahui frekuensi penduduk suatu kota berdasarkan pendidikan, maka tabel frekuensi yang didapatkan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;Frekuensi&lt;br /&gt;Persentase&lt;br /&gt;Tidak Sekolah/SD&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;25%&lt;br /&gt;SMP/SMA&lt;br /&gt;300&lt;br /&gt;30%&lt;br /&gt;Diploma&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;15%&lt;br /&gt;S1/S2/S3&lt;br /&gt;300&lt;br /&gt;30%&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;1000&lt;br /&gt;100%&lt;br /&gt;Dan jika kita ingin melihat frekuensi pengguna berbagai macam alat kontrasepsi kita peroleh tabel seperti pada contoh sebelumnya.  Dua tabel ini memberikan gambaran yang terpisah dari kondisi suatu kota.  Kita bisa menyajikan dua informasi ini dalam bentuk tabel kontingensi dengan informasi yang lebih banyak.  Tabel yang diperoleh mungkin berbentuk seperti berikut :&lt;br /&gt;Alat Kontrasepsi&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;Tidak Sekolah/SD&lt;br /&gt;SMP/SMA&lt;br /&gt;Diploma&lt;br /&gt;S1/S2/S3&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;Pil&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;500&lt;br /&gt;Kondom&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;IUD&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;Vasektomi&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;Tubektomi&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;300&lt;br /&gt;150&lt;br /&gt;300&lt;br /&gt;1000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tabel di atas informasi tambahan yang diperoleh antara lain, ternyata orang yang pendidikannya S1/S2/S3 lebih menyuikai menggunakan pil atau kondom.  Informasi seperti ini tidak tertangkap oleh tabel frekuensi.&lt;br /&gt;      Catatan yang perlu diperhatikan ketika membuat tabel adalah upayakan untuk membuat nama kolom maupun baris sejelas mungkin.  Misalkan jika kolom itu berisi pendapatan keluarga per bulan, maka jangan lupa menuliskan satuan dari pendapatan itu.&lt;br /&gt;Sementara itu banyak orang yang berpendapat bahwa penyajian informasi menggunakan tabel yang berisi angka memiliki keefektifan yang kurang jika dibandingkan dengan grafik.  Pesan visual yang diberikan oleh grafik selain lebih menarik untuk dilihat juga mempermudah seseorang dalam membandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik yang banyak digunakan adalah :&lt;br /&gt;1.    Diagram Batang : Diagram ini berupa batang-batang yang menggambarkan nilai dari masing-masing kategori.  Diagram ini bisa diterapkan pada tabel ringkasan maupun tabel frekuensi dan tabel kontigensi.  Pada contoh tabel di atas, jika disajikan dalam bentuk grafik akan berupa :&lt;br /&gt;2.      Diagram Lingkaran (Pie Chart) : Diagram ini berupa lingkaran yang terbagi-bagi dalam beberapa bagian.  Masing-masing bagian merupakan representasi dari berbagai kelompok, dan luas dari bagian itu berdasarkan frekuensi masing-masing kelompok.  Jika frekuensi penggunaan alat kontrasepsi di atas disajikan dalam bentuk pie-chart, maka yang diperoleh adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;3.     Scatter Plot : Plot ini merupakan grafik yang digunakan untuk melihat hubungan antara dua buah peubah numerik.  Misalkan kita ingin tahu hubungan antara usia ibu ketika menikah dengan jarak antara menikah dan kelahiran anak pertama.  Dari plot ini kita bisa melihat apakah pasangan yang menikah pada usia lebih tua memiliki anak setelah menikah lebih lama dibandingkan pasangan yang usia ibu ketika menikah masih lebih muda.  Grafik yang diperoleh mungkin akan berupa grafik sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     Time Series Plot : Plot ini digunakan untuk melihat perkembangan nilai suatu peubah dari waktu ke waktu.  Misalkan kita ingin membuat gambaran perkembangan peserta KB Mandiri dari tahun 1980 sampai 2000. Plot yang diperoleh misalnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;V.  TEKNIK ANALISIS DATA&lt;br /&gt;         Dari berbagai macam teknik analisis data bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kegunaannya.  Pengelompokan ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.    Teknik Analisis untuk Menguji Hipotesis tentang Nilai Tengah Populasi.  Yang termasuk di dalamnya adalah Uji t-student, Uji Tanda (Sign Test) dan Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon (Wilcoxon Rank Test), Uji Proporsi&lt;br /&gt;2.     Teknik Analisis untuk Membandingkan Nilai Tengah Dua atau Lebih Populasi.  Yang termasuk di dalamnya adalah Uji t-student, ANOVA (Analysis of Variance), Uji Mann-Whitney-Wilcoxon dan Uji Kruskal-Wallis, Uji Beda Proporsi&lt;br /&gt;3.     Teknik Analisis untuk Melihat Hubungan Dua atau Lebih Peubah.  Yang termasuk di dalamnya adalah Korelasi Pearson, Korelasi Peringkat Spearman, Regresi Linear, Regresi Logistik, Tabel Kontingensi (Uji Khi-Kuadrat), ANOVA.&lt;br /&gt;4.    Teknik Analisis untuk Melakukan Pendugaan.  Yang termasuk didalamnya adalah segala bentuk analisis regresi.&lt;br /&gt; 1.     Teknik Analisis untuk Menguji Hipotesis tentang Nilai Tengah Populasi. Hipotesis nilai tengah (atau rata-rata) merupakan suatu pernyataan tentang besarnya nilai tengah suatu populasi yang ingin diuji kebenarannya.  Misalnya sebuah perusahaan air mineral mengklaim bahwa pada setiap botol produknya berisi air mineral sebanyak 500 ml.  Atau sebuah perusahaan lampu bohlam menyatakan bahwa rata-rata lama hidup lampu bohlam produknya adalah 3000 jam.&lt;br /&gt;          Pernyataan-pernyataan di atas merupakan pernyataan yang masih memungkinkan untuk di uji kebenarannya.  Pihak departemen perindustrian atau mungkin YLKI tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh produsen air mineral tersebut.  Prosedur pengujian yang dilakukan adalah, dengan mengambil beberapa botol air mineral dari berbagai tempat (secara acak) kemudian mengukur volume air di setiap botol.  Dari data yang diperoleh kemudian akan dibuat kesimpulan, mendukung atau tidak mendukung apa yang telah diklaim oleh produsen.  Jika dari 100 bohlam yang diukur ketahanannya hanya memiliki rata-rata lama hidup 1000 jam, maka ini berarti tidak mendukung apa yang diucapkan produsen.&lt;br /&gt;         Beberapa prosedur analisis yang bisa digunakan untuk tujuan ini adalah :&lt;br /&gt;Uji t-student   uji ini digunakan untuk data yang bertipe numerik; misalnya volume air, lama hidup bohlam; yang diasumsikan memiliki sebaran normal.  Uji ini menghasilkan apa yang disebut statistik uji t-hitung dengan basis penghitungan adalah selisih antara rata-rata yang didapat dari data dengan rata-rata yang dihipotesiskan, dan dibandingkan dengan nilai t-tabel dengan derajat bebas n-1, n adalah ukuran sampel.&lt;br /&gt; Uji Tanda        uji tanda (sign test) ini adalah uji yang bisa diterapkan pada data yang bertipe minimal ordinal; misalnya volume air, lama hidup bohlam, nilai ujian, IQ, tingkat kesetujuan; dan tidak ada asumsi sebaran (non-parametrik).  Dengan menggunakan uji ini, data ditransformasi menjadi dua + (plus) jika nilainya lebih besar dari nilai yang dihipotesiskan, dan – (minus) jika nilai datanya lebih kecil dari nilai yang dihipotesiskan.  Dengan melihat banyaknya tanda + dan – ini, diputuskan apakah menerima atau menolak hipotesis.&lt;br /&gt;Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon                   uji ini memiliki syarat seperti halnya uji tanda.  Basis pembandingan yang dilakukan adalah dengan terlebih dahulu menyelisihkan setiap data dengan nilai yang dihipotesiskan, kemudian membuat peringkat dari selisih tersebut.  Selanjutnya dari nilai-nilai peringkat inilah diputuskan untuk menerima atau menolak suatu hipotesis.&lt;br /&gt;Uji Proporsi    uji ini diterapkan untuk melakukan pengujian hipotesis dalam bentuk proporsi.  Misalkan benarkah ada 50% warga yang mendukung pemberlakuan undang-undang perpajakan yang baru ?  Jadi data yang ada terdiri atas dua nilai; benar-tidak, ya-tidak, laki-laki-perempuan, ikut-tidak ikut.  Basis pengujiannya adalah proporsi yang dieproelh dari data dibandingkan dengan proporsi yang dihipotesiskan.  Jika bedanya jauh maka hipotesis itu tidak didukung oleh data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Teknik untuk Membandingkan Nilai Tengah Dua Populasi atau Lebih&lt;br /&gt;Dalam banyak kesempatan, ingin diketahui ada tidaknya perbedaan nilai tengah (atau rata-rata) dua populasi atau lebih.  Misalnya seorang bupati menyatakan bahwa penduduk yang tinggal di kabupatennya memiliki tingkat kesadaran politik yang lebih tinggi dari kabupaten lain.  Atau sebuah perusahaan mobil menyatakan bahwa mobil yang diproduksi di pabriknya, memiliki efisiensi penggunaan bahan bakar yang lebih baik dari produknya yang lama.&lt;br /&gt;Tahapan pengujian yang dilakukan adalah dipilih beberapa orang dari kabupaten tersebut dan diukur kesadaran politiknya, kemudian dipilih juga beberapa orang dari kabupaten lain dan diukur kesadaran politiknya.  Dari data kedua kabupaten ini diputuskan diterima atau tidak apa yang telah dinyatakan oleh sang bupati.  Pada kasus kedua, mungkin diuji beberapa mobil produksi baru dan mobil produksi lama, kemudian dibandingkan.&lt;br /&gt;Populasi yang dimaksud di sini memiliki pengertian yang luas, bukan hanya berupa fisik.  Misalnya saja ingin dibandingkan keefektifan 3 metode pengajaran; metode pengajaran ini merupakan populasi yang abstrak.  Sehingga bentuk datanya diperoleh dari semacam percobaan.  Beberapa orang diikutsertakan dalam kelas metode 1, beberapa orang lain diikutsertakan dalam kelas dengan metode 2, dan beberapa orang lain diikutsertakan dalam kelas metode 3.  Pada awal percobaan, setiap orang memiliki kondisi yang sama.  Dari data ketiga kelas, akan diketahui seperti apa perbedaan efektifitas ketiga pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa analisis yang bisa digunakan untuk tujuan ini adalah :&lt;br /&gt;                              Uji t-student   uji ini hanya bisa digunakan untuk membandingkan nilai tengah dua populasi yang diasumsikan memiliki sebaran normal.  Dasar pengujian dari analisis ini adalah selisih rata-rata contoh yang diambil dari populasi pertama dengan rata-rata contoh dari populasi kedua.  Berdasarkan nilai selisih ini akan diperoleh keputusan menganggap sama atau berbeda kedua nilai tengah tersebut.&lt;br /&gt;ANOVA,  Analysis of Variance digunakan untuk membandingkan nilai tengah dua atau lebih populasi, dengan asumsi menyebar normal.  Dasar pengujian dengan analisis ini adalah ada atau tidaknya keragaman antar nilai tengah.  Jika keragaman nilai tengah kecil, maka dikatakan nilai-nilai tengah itu tidak berbeda, tetapi jika ragamnya besar maka berarti nilai-nilai tengah itu berbeda.&lt;br /&gt;Mann-Whitney , analisis ini hanya digunakan untuk membandingkan nilai tengah dua populasi, dan tidak ada asumsi sebaran.  Dasar pengujiannya adalah peringkat dari nilai-nilai data.  Jika tidak ada perbedaan nilai tengah maka apabila data kedua populasi dicampur dan diperingkatkan, maka rata-rata peringkat keduanya tidak akan berbeda.  Artinya data yang bernilai kecil atau besar tidak hanya berasal dari salah satu populasi, namun tersebar merata di keduanya.&lt;br /&gt;Kruskal-Wallis,  analisis ini adalah perluasan dari uji Mann-Whitney, dan bisa diterapkan untuk lebih dari dua populasi, dan tidak ada asumsi sebaran data.&lt;br /&gt;Uji Beda Proporsi, pengujian ini digunakan untuk melihat perbedaan proporsi dua populasi.  Misalnya ingin dibandingkan proporsi keluarga yang mengikuti program KB di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur.  Pengujian in berbasis pada selisih proporsi dari sebuah populasi dengan populasi lain.&lt;br /&gt;3.   Teknik Analisis untuk Melihat Hubungan Dua atau Lebih Peubah&lt;br /&gt;Sepintas ilustrasi tentang hal ini sudah diberikan ketika kita membahas tabel kontingensi, yaitu antara pendidikan dengan penggunaan alat kontrasepsi.  Hubungan antara dua peubah atau lebih, seringkali merupakan hal yang selalu ada dalam suatu penelitian.  Ada dua jenis hubungan yang harus dibedakan sejak awal, yaitu hubungan yang sekedar asosiasi yang didukung hanya oleh data yang ada dan hubungan yang bersifat sebab akibat yang didukung dengan logika dan teori.&lt;br /&gt;Ketika kita membahas hubungan jenis yang pertama, dua peubah memiliki kedudukan yang sama, tidak ada peubah yang satu mendahului peubah yang lain.  Namun pada hubungan sebab akibat ada peubah yang diposisikan sebagai sebab (peubah penjelas, peubah bebas, peubah independen) dan ada yang menjadi akibat (peubah respon, peubah tak bebas, peubah dependen).  Peubah bebas biasanya dilambangkan X, sedangkan peubah tak bebas Y.&lt;br /&gt;Analisis hubungan dua peubah ini tergantung pada tipe dari peubah yang terlibat, apakah bertipe kategorik dan bertipe numerik, serta bentuk dari hubungan yang akan dibuat.  Berikut disajikan tabel yang memberikan alat analisis apa yang bisa diterapkan pada berbagai tipe data :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Numerik&lt;br /&gt;Kategorik&lt;br /&gt;Numerik&lt;br /&gt;Korelasi Pearson, Korelasi Spearman, Regresi Linear&lt;br /&gt;ANOVA, tabel ringkasan&lt;br /&gt;Kategorik&lt;br /&gt;Regresi Logistik&lt;br /&gt;Tabel Kontingensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Penjelasan singkat mengenai alat analisis di atas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Korelasi Pearson      korelasi ini sering juga disebut sebagai korelasi produk-momen atau korelasi saja.  Besarnya koefisien menggambarkan seberapa erat hubungan linear antara dua peubah, bukan hubungan sebab akibat.  Peubah yang terlibat dua-duanya bertipe numerik, dan menyebar normal jika ingin pengujian terhadapnya sah. &lt;br /&gt;Notasi dari koefisien korelasi ini adalah r yang besarnya antara –1 hingga 1.  Jika r &lt;&gt; 0 dikatakan terjadi hubungan linear yang positif.  Misalnya pendapatan dengan konsumsi.  Jika r = 0 dikatakan tidak berkorelasi tetapi bukan berarti tidak berhubungan.  Mungkin berhubungan namun tidak linear.  Semakin dekat nilai r dengan 1 atau –1 maka semakin erat hubungan linear antar peubah tersebut.&lt;br /&gt;Korelasi Spearman,  koefisien ini mirip saja dengan korelasi Pearson, hanya saja dalam pengujian tidak mensyaratkan adanya asumsi sebaran normal.  Di samping itu data yang digunakan bisa saja berupa data numerik yang merupakan pengkodean dari data ordinal.  Misalkan hubungan antara pendapatan (numerik) dengan tingkat kesadaran politik (ordinal).  Kesadaran politik dinyatakan sebagai sebuah bilangan terurut berdasarkan tingkat kesadarannya.&lt;br /&gt;Regresi Linear ,  dalam analisis ini sudah jelas mana sebagai Y dan mana sebagai X.  Hubungan antara Y dengan X di tuliskan sebagai :&lt;br /&gt;Y = a + bX&lt;br /&gt;Interpretasi dari b adalah besarnya perubahan Y jika X naik satu satuan.  Sedangkan a adalah besarnya nilai Y ketika X bernilai 0.  Umumnya a disebut sebagi intersep dan b sebgai kemiringan/slope/gradien garis regresi. &lt;br /&gt;Ukuran kebaikan model regresi dinyatakan sebagai R2 (koefisien determinasi), yang besarnya dari 0% hingga 100%.  Semakin mendekati 100% maka model regresi yang didapatkan semakin baik.  Data yang bisa dianalisis dengan regresi linear adalah Y dan X yang bertipe numerik, dan memiliki sebaran normal.&lt;br /&gt;ANOVA, Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa ANOVA bisa digunakan untuk membandingkan nilai tengah dari dua atau lebih populasi.  Dalam berbagai kondisi, analisis ini juga bisa diinterpretasikan untuk melihat pengaruh peubah yang bertipe kategorik (bukan numerik) terhadap peubah yang bertipe numerik.  Misalnya ingin dilihat hubungan, tepatnya pengaruh, dari lokasi toko terhadap kemajuan usaha (diukur dalam rupiah).  Jika ada perbedaan kemajuan usaha antara toko di perumahan dan toko di tempat wisata, bisa dikatakan bahwa ada hubungan antara kemajuan usaha dengan lokasi toko.&lt;br /&gt;Tabel Ringkasan      tabel ini juga sudah dibahas pada bagian sebelumnya.  Dengan tabel ini juga bisa dibahas hubungan antar peubah.  Misalnya jika kita ringkas rata-rata pendapatan kepala keluarga berdasarkan pendidikannya, seperti pada contoh sebelumnya,  kita bisa mengetahui hubungan antara keduanya.  Apakah semakin tinggi pendidikan, tingkat pendapatannya juga semakin besar.&lt;br /&gt;Tabel Kontingensi    mengulang pembahasan tentang teknik penyajian data, tabel kontingensi bisa digunakan untuk melihat hubungan dua peubah kategorik.  Pada contoh sebelumnya diberikan tabel kontingensi antara pendidikan dan penggunaan alat kontrasepsi.  Dari tabel kontingensi ini bisa dibuat kesimpulan apakah ada hubungan antara pendidikan seseorang dengan alat kontrasepsi apa yang mereka sukai.  Untuk menegaskan pembahasan dari tabel kontingensi, dilakukan pengujian formal yang dikenal dengan uji Khi-Kuadrat (Chi-Square Test)&lt;br /&gt;Regresi Logistik       tipe data dalam analisis ini kebalikan dari tipe data pada ANOVA.  Yang menjadi peubah bebas (X) bisa bertipe numerik maupun kategorik, sedangkan yang menjadi peubah tak bebas (Y) bertipe kategorik.  Hasil dari analisis ini berupa peluang sebuah objek masuk ke dalam suatu kategori jika diketahui berbagai nilai peubah X-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Keabsahan Data&lt;br /&gt;         Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telah terkumpul, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan keabsahan data didasarkan pada criteria deraja kepercayaan (crebility) dengan teknik trianggulasi, ketekunan pengamatan, pengecekan teman sejawat (Moleong, 2004).&lt;br /&gt;Trianggulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yang didasarkan pada sesuatu diluar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada (Moleong,2004). Trigulasi yang digunakan adalah trigulasi dengan sumber, yaitu membandingkan data hasil observasi, hasil pekerjaan siswa dan hasil wawancara terhadap subjek yang ditekankan pada penerapan metode bantuan alat pada efektif membaca.&lt;br /&gt;Ketekunan pengamatan dilakukan dengan teknik melakukan pengamatan yang diteliti, rinci dan terus menerus selama proses pembelajaran berlangsung yang diikuti dengan kegiatan wawancara secara intensif terhadap subjek agar data yang dihasilkan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengecekan teman sejawat/kolega dilakukan dalam bentuk diskusi mengenai proses dan hasil penelitian dengan harapan untuk memperoleh masukan baik dari segi metodologi maupun pelaksanaan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acuan pustaka :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/bagusco4/mybook/7.html"&gt;http://www.geocities.com/bagusco4/mybook/7.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/teknik-analisis-data-dalam-penelitian/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-3690807848412256897?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/3690807848412256897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=3690807848412256897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/3690807848412256897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/3690807848412256897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/analisis-data.html' title='ANALISIS DATA'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-9041308155791052055</id><published>2008-06-09T05:19:00.000-07:00</published><updated>2008-06-09T05:23:32.690-07:00</updated><title type='text'>DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA</title><content type='html'>DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;            Kita ketahui bahwa sebenarnya sejak dulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.&lt;br /&gt;            Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia. Ringkas kata kemajuan IPTEK yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia.&lt;br /&gt;            Kalaupun teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti teknologi sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan . Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan masalah&lt;br /&gt;            Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah : Apakah dampak dari teknologi terhadap kehidupan manusia?&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;URAIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu  karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne “ atau cara dan  “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia.&lt;br /&gt;            Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv) memberi arti teknologi sebagai” keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia”&lt;br /&gt;Pengertian teknologi secara umum adalah:&lt;br /&gt;·            proses yang meningkatkan nilai tambah&lt;br /&gt;·            produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja&lt;br /&gt;·            Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembamngkan dan digunakan&lt;br /&gt;            Sedangkan dampak adalah suatu akibat yang ditimbulkan oleh sesuatu . Jadi dampak teknologi adalah akibat yang ditimbulkan oleh suatu teknologi, bisa akibat baik bisa juga akibat buruk dalam kehidupan manusia.                                                                                                     &lt;br /&gt;Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuanm ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini.&lt;br /&gt;Namun demikian, walaupun pada awalnya diciptakan untuk menghasilkan manfaat positif, di sisi lain juga juga memungkinkan digunakan untuk hal negatif. Karena itu pada makalah ini kami membuat dampak-dampak positif dan  negatif dari kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Perkembangan dunia iptek yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Begitupun dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia.&lt;br /&gt;  Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan  membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia.&lt;br /&gt;Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan.   Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak positif dan dampak negative dari perkembanganteknologi dilihat dari berbagai bidang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Bidang Informasi dan komunikasi&lt;br /&gt;Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat. Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positipnya antara lain:&lt;br /&gt;a.   Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui  internet&lt;br /&gt;b.   Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone&lt;br /&gt;c.   Kita mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah. Dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal-hal yang negatif, antara lain:&lt;br /&gt;a.       Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas)&lt;br /&gt;b.      Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet             yang bisa disalah gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu&lt;br /&gt;c.       Kerahasiaan alat tes semakin terancam&lt;br /&gt;Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari internet.&lt;br /&gt;d.      Kecemasan teknologi&lt;br /&gt;      Selain itu ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer. Kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam komputer inilah beberapa contoh stres yang terjadi karena teknologi. Rusaknya modem internet karena disambar petir.&lt;br /&gt;2.   Bidang Ekonomi dan Industri&lt;br /&gt;Dalam bidang ekonomi teknologi berkembang sangat pesat. Dari kemajuan teknologi dapat kita rasakan manfaat positifnya antara lain:&lt;br /&gt;1.   Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi&lt;br /&gt;2.   Terjadinya industrialisasi&lt;br /&gt;3.   Produktifitas dunia industri semakin meningkat&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvestasi yang berlangsung secara besar-besaran yang akan semakin meningkatkan produktivitas dunia ekonomi. Di masa depan, dampak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda-tanda telah menunjukkan bahwa akan segera muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan pabrik sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi, dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko.&lt;br /&gt;4.   Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;Kecenderungan perkembangan teknologi dan ekonomi, akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja yang mampu mentransformasikan pengetahuan dan skill sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang berubah tersebut.&lt;br /&gt;5.   Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komoditi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian ada pula dampak negatifnya antara lain;&lt;br /&gt;1.   terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan&lt;br /&gt;2.   Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Bidang Sosial dan Budaya&lt;br /&gt;Akibat kemajuan teknologi bisa kita lihat&lt;br /&gt;1.   Perbedaan kepribadian pria dan wanita.&lt;br /&gt;Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.&lt;br /&gt;Data yang tertulis dalam buku Megatrend for Women:From Liberation to Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene &amp;amp; John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya.&lt;br /&gt;2.   Meningkatnya rasa percaya diri&lt;br /&gt;Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri  sebagai suatu  bangsa  akan  semakin  kokoh.  Bangsa-bangsa Barat tidak lagi dapat melecehkan bangsa-bangsa Asia.&lt;br /&gt;3    Tekanan, kompetisi yang tajam di pelbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian kemajuan teknologi akan berpengaruh negatip pada aspek budaya:&lt;br /&gt;1.   Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi "kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani".&lt;br /&gt;2.   Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.&lt;br /&gt;3.   Pola interaksi antar manusia yang berubah&lt;br /&gt;      Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telpon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja.&lt;br /&gt;4.   Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara lain:&lt;br /&gt;1.   Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Dampak dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;2.   Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan bantuan teknologi bisa dibuat abstrak.&lt;br /&gt;3.   Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka&lt;br /&gt;      Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain.&lt;br /&gt;Disamping itu juga muncul dampak negatif dalam proses  pendidikan antara lain:&lt;br /&gt;1.   Kerahasiaan alat tes semakin terancam&lt;br /&gt;Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut.&lt;br /&gt;2.   Penyalah gunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal.&lt;br /&gt;      Kita tahu bahwa kemajuan di badang pendidikan juga mencetak generasi yang berepngetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu komputer yang tingi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbangkan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Bidang politik&lt;br /&gt;1.   Timbulnya kelas menengah baru&lt;br /&gt;      Pertumbuhan teknologi dan ekonomi di kawasan ini akan mendorong munculnya kelas menengah baru. Kemampuan, keterampilan serta gaya hidup mereka sudah tidak banyak berbeda dengan kelas menengah di negara-negera Barat. Dapat diramalkan, kelas menengah baru ini akan menjadi pelopor untuk menuntut kebebasan politik dan kebebasan berpendapat yang lebih besar.&lt;br /&gt;2.   Proses regenerasi kepemimpinan.&lt;br /&gt;      Sudah barang tentu peralihan generasi kepemimpinan ini akan berdampak dalam gaya dan substansi politik yang diterapkan. Nafas kebebasan dan persamaan semakin kental.&lt;br /&gt;3.   Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh berkembangnya regionalisme. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi telah menghasilkan kesadaran regionalisme. Ditambah dengan kemajuan di bidang teknologi transportasi telah menyebabkan meningkatnya kesadaran tersebut. Kesadaran itu akan terwujud dalam bidang kerjasama ekonomi, sehingga regionalisme akan melahirkan kekuatan ekonomi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini.&lt;br /&gt;Namun manusia tiudak bisa menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa teknologi mendatangkan berbagai efek negatif bagi manusia.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu untuk mencegah atau mengurangi akibat negatif kemajuan teknologi, pemerintah di suatu negara harus membuat peraturan-peraturan atau melalui suatu konvensi internasional yang harus dipatuhi oleh pengguna teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alisyahbana, Iskandar. 1980. Teknologi dan perkembangan. Jakarta : Yayasan Idayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amiruddin, Dampak Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK) Terhadap Kehidupan Manusia Dan Sistem Pendidikan  http://www.e-dukasi.net/karyaanda/viewkarya.php?kid=16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lenijuwita.wordpress.com/2007/03/10/"&gt;http://lenijuwita.wordpress.com/2007/03/10/&lt;/a&gt; potensi-teknologi-informasi-dan-komunikasi : Teknologi Informasi dan Komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tekkomdik-sumbar.org/problematika_sptr_guru_24.html"&gt;http://www.tekkomdik-sumbar.org/problematika_sptr_guru_24.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Usaha Sia-sia Mengurangi Dampak Negatif Kemajuan Teknologi, Senin 28 Mei 2007&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;OLEH:&lt;br /&gt;R a k i m                       (NIM 0805136192)&lt;br /&gt;Bintari Noorsjam         (NIM 0805136169)&lt;br /&gt;Anik Suwarti                (NIM 0805136166)&lt;br /&gt;Eko Mulyono              (NIM 0805136172)&lt;br /&gt;Eko Yuli Atmanto       (NIM 0805136174)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siti Chusuning             (NIM 0805136196&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-9041308155791052055?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/9041308155791052055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=9041308155791052055' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/9041308155791052055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/9041308155791052055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/dampak-teknologi-terhadap-kehidupan.html' title='DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-2539175873793929240</id><published>2008-05-15T19:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T19:35:19.976-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Ulasan:</title><content type='html'>Sebuah Ulasan:&lt;br /&gt;The Challenges of Online Language Learning: A German Perspective&lt;br /&gt;Sumber         : http://www.whirligig.com.au/GlobalEducatorWeb/articles/ChristelSchneider2004.pdf&lt;br /&gt;Penulis       : Christel Schneider&lt;br /&gt;Oleh           : Drs. Rakim&lt;br /&gt;Pembelajaran Bahasa secara Berjaringan yang Menantang&lt;br /&gt;Teknologi Internet mempunyai peranan penting dalam pembelajaran bahasa. Hal ini bisa dilihat dengan adanya peningkatan penguasaan media internet oleh para guru dalam menyampaikan materi kepada siswanya. Meskipun pada awalnya banyakpihak yang meragukan system pembelajaran online (berjaringan) dikarenakan guru tidak percaya diri karena tidak mahir menggunakan computer dan berpikir mereka akan menghabiskan waktu ekstra untuk membuat materi pelajaran.&lt;br /&gt;Beberapa keuntungan belajar berjaringan lewat internet, diantaranya:&lt;br /&gt;1.      Belajar lebih dapat focus, cepat, dan lebih lengkap dariada media tradisional karena siswa dapat mengulang pelajaran dengan segera mendapat umpan balik.&lt;br /&gt;2.      Aktivitas belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa&lt;br /&gt;3.      Sumber belajarnya sangat banyak dan dalam bidang apapun, seperti; budaya, sejarah dan politik yang asli dan terbaru.&lt;br /&gt;Hal yang terpenting adalah membuat siswa tertarik dan termotivasi untuk berinteraksi satu sama lainnya. Karena itu pembelajaran berjaringan harus disertai dengan gaya belajar yang bervariasi dan kemampuan guru yang baik.&lt;br /&gt;Pembelajaran berjaringan yang sukses adalah pendekatan yang menggabungkan kegiatan belajar tatap muka disertai dengan penggunaan buku, CD Rom dan CD audio yang sesuai. Hal ini juga disesuaikan dengan target pembelajaran, level belajar dan kompetensi yang dibutuhkan. Pembelajaran berjaringan memerlukan komunikasi khusus, jika dalam belajar secara tatap muka komunikasi dapat dilakukan dengan perbincangan dan raut muka, namun dalam pembelajaran berjaringan komunikasi diungkapkan dalam bentuk tulisan atau simbol-simbol.&lt;br /&gt;Dengan bantuan guru, siswa dapat mengembangkan bahasa yang sesuai untuk berkomunikasi dalam diskusi berjaringan yang bermakna. Seperti cara untuk:&lt;br /&gt;-          Setuju atau tidak setuju dengan sopan&lt;br /&gt;-          Menyanyakan/klarifikasi&lt;br /&gt;-          Mendukung teman&lt;br /&gt;-          Menunjukkan ketertarikan&lt;br /&gt;-          Meminta kepastian&lt;br /&gt;-          Membuat kesimpulan, dll.&lt;br /&gt;Hal tersebut di atas berdasarkan perbedaan gaya berkomunikasi dan latar belakang budaya siswa.&lt;br /&gt;            Untuk meningkatkan motivasi siswa, belajar berjaringan harus digabungkan dengan variasi belajar, termasuk penggunaan audio,video, internet juga adanya sesi tatap muka. Halyang terpenting adalah menyediakan suasana belajar yang baik disertai dengan tuntutan guru yang terlatih dan bermotivasi.&lt;br /&gt;Hal-hal positif:&lt;br /&gt;-             Perkembangan teknologi informatika dan komunikasi (TIK) luar biasa pesatnya, menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan baru dalam pembelajaran. Kesempatan, fasilitas pembelajaran yang luar biasa karena “dunia” sebagai sumber, perpustakaan,  dan ruang belajar.&lt;br /&gt;-             Perkembangan ilmu pengetahuan secara global di seluruh penjuru dunia dapat diketahui, dipelajari dan diikuti. Peserta ajar luwes dan terbuka untuk memilih materi yang akan dipelajari.&lt;br /&gt;-             Bidang ilmu yang akan diperdalam sangat luas, bebas dan mendalam&lt;br /&gt;-             Tidak mengenal batas waktu dan ruang, untuk negara Indonesia sebagai Negara kepulauan e-learning sangat menjawab kebutuhan dimana peserta didik dengan sumber belajar bias terselenggara dengan jarak jauh.&lt;br /&gt;Hal negatif/kendala:&lt;br /&gt;-             Perubahan paradigma belajar harus secara bertahap dan sistematis, belajar secara konvensional adalah suatu interaksi langsung antara peserta didik dan guru, seringkali kualitas pembelajaran ditentukan oleh upaya memotivasi dan disiplin dari pihak guru. E-learning menuntut disiplin, peningkatan kemauan belajar dari diri si peserta didik dan peningkatan keterampilan peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain.&lt;br /&gt;-             Perkembangan teknologi informatika dan komunikasi (TIK) luar biasa pesatnya, Perlu pendewasaan “membuat melek internet (TIK)” untuk masyarakat ajar&lt;br /&gt;-             Penyediaan sarana parasarana secara bertahap dan berkesinambungan: listrik, elektronika, telepon, jaringan internet, dan infrastruktur yang lain.&lt;br /&gt;-             Perlu adanya kebijakan pemrintah yang mendukung terkondisinya  e-learning dalam hal: sarana prasarana, legalitas formal, dan daya serap lingkungan kerja&lt;br /&gt;-             Perlu peningkatan SDM masyarakat ajar di bidang TIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE CHALLENGES OF ONLINE&lt;br /&gt;LANGUAGE LEARNING:&lt;br /&gt;A GERMAN PERSPECTIVE&lt;br /&gt;Christel Schneider&lt;br /&gt;Language Department&lt;br /&gt;Landesverband der Volkshochschulen&lt;br /&gt;Schleswig-Holstein, Germany&lt;br /&gt;Christel.Schneider@virtualcollege.co.uk&lt;br /&gt;Christel Schneider is head of the language department for the Landesverband der Volkshochschulen Schleswig-&lt;br /&gt;Holsteins e.V. (&lt;a href="http://www.vhs-sh.de/"&gt;www.vhs-sh.de&lt;/a&gt;) an umbrella organisation of 170 adult education centres in Schleswig- Holstein.&lt;br /&gt;She has over six years experience of introducing Computer Mediated Language Learning in national and international organizations and has successfully designed, planned and delivered many online training  rogrammes.&lt;br /&gt;Christel holds the position of a Local Secretary for the ESOL Cambridge examination and is also oral examiner for the main suite Cambridge examinations. She has supervised a two year project with the Cornelsen publishing house, trained the trainers and developed online teaching material for the virtual classroom and has led numerous workshops in and outside Germany. Christel has been visiting lecturer at the Institute of Education, University of&lt;br /&gt;London, and Northern Illinois University. Christel is also the German Representative and Online Trainer for Abacus Learning Systems based in the UK.&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;The Web provides an inexhaustible and stimulating source of teaching and learning aterial. However, to create successful and creative computer mediated language courses,  appropriate technology needs to be selected according to the learner's individual needs.How effective computers are in the language classroom will depend on the way the teacher and students use them. Successful online courses need to have motivated and well-trained online tutors. Even though there is still a degree of disquiet and disbelief among language  teachers and students that a language can be learnt online, there seems to be an increasing number of teachers engaged by the possibilities of new technology, willing to implement new media into their everyday teaching to enhance their lessons. In order to get the best learning outcomes, a mix of face-to face sessions, self study and collaborative tutor assisted online learning appears to be the answer. In this article, the author highlights the benefits and constraints of computer mediated language learning. She underlines the potential of new media in an online learning environment and of the necessity for creative online course management.&lt;br /&gt;The Challenges of Online Language Learning Page 2 of 4 GlobalEducator February, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introduction&lt;br /&gt;New technologies have enhanced language teaching in many ways. The Web&lt;br /&gt;provides an inexhaustible resource of language material for teachers and students&lt;br /&gt;with the great advantage that the material is culturally authentic and up-to-date.&lt;br /&gt;The integration of the Internet into language teaching and learning helps to&lt;br /&gt;overcome national and international boundaries, because users are able to&lt;br /&gt;communicate with other users around the world. The Internet plays a prominent&lt;br /&gt;role in language acquisition and teaching.&lt;br /&gt;In spite of the fact that the purchase and use of new technology in schools and&lt;br /&gt;universities has been promoted and supported by the German Federal Ministry of&lt;br /&gt;Education, the euphorically estimated rapid increase of computer based language&lt;br /&gt;training in the new century has not as yet occurred.1&lt;br /&gt;Even though this might sound disheartening, some interesting projects in the field&lt;br /&gt;of Computer Assisted Second Language Learning have been developed and&lt;br /&gt;successfully carried out in various educational sectors in recent years.&lt;br /&gt;There are an increasing number of teachers who are eager to get involved with and&lt;br /&gt;implement new media in their language teaching and this will have its effect on the&lt;br /&gt;structure of courses and their delivery. Traditional face-to-face courses will always&lt;br /&gt;have their standing, but they will be influenced and complemented by new&lt;br /&gt;technology. How effective computers are in language course delivery, will depend&lt;br /&gt;on the way teachers and students use them.&lt;br /&gt;Benefits and Constraints of Online Course Delivery&lt;br /&gt;A great number of people in Germany are still sceptical about learning online.&lt;br /&gt;Some find hard to believe, that communicative language learning can be delivered&lt;br /&gt;online. Quite a few teachers don't feel confident enough to use computers in the&lt;br /&gt;classroom, because they don't want to expose themselves to students who might&lt;br /&gt;be able to handle the computer more skillfully. Others fear the extra amount of&lt;br /&gt;work they'll have to manage on top of everything else, when having to design new&lt;br /&gt;courses. Employees often resent to work at the computer outside the office if they&lt;br /&gt;have to use the computer all day. However, in spite of all resentments, those&lt;br /&gt;people who started an online course with initial scepticism, often report that they&lt;br /&gt;were taken by surprise to find how different roles are perceived and what kind of&lt;br /&gt;strong reactions and emotions can be triggered online.&lt;br /&gt;From the experience gained in developing and tutoring Online Language Courses2&lt;br /&gt;over the last four years, I have observed that asynchronous text based&lt;br /&gt;communication helped students to become more confident in their speaking skills.&lt;br /&gt;People who have to reply to somebody spontaneously in a real-time conversation&lt;br /&gt;(in chats or on the phone), often seem to struggle or even fail to produce a&lt;br /&gt;comprehensible reply, because they either 'have a blank' or are searching for&lt;br /&gt;words. In an asynchronous virtual learning environment, the learners have more&lt;br /&gt;time to reflect on their responses and access reference material, like dictionaries or&lt;br /&gt;course books. Hence, learners develop an ability to engage in planning and&lt;br /&gt;monitoring their output, gaining more confidence.&lt;br /&gt;Computer mediated language learning has its great advantages, because with the&lt;br /&gt;help of computers, learning can be more focused, faster and more complex than&lt;br /&gt;with traditional media. Computers assist teachers by taking some of the workload&lt;br /&gt;off them, like grammar practice for example. Students can practise in a nonthreatening&lt;br /&gt;environment as long and whenever they wish as the exercises are&lt;br /&gt;The Challenges of Online Language Learning Page 3 of 4 GlobalEducator February, 2004&lt;br /&gt;available whenever needed. Learners can repeat exercises whenever necessary and&lt;br /&gt;get instant feedback. Another benefit of computer mediated language training is&lt;br /&gt;that activities can be adapted and tailored to a student's individual needs. Hence,&lt;br /&gt;facilitators can address individual problems either in private tutorials or address&lt;br /&gt;specific problems like grammar or spelling mistakes in an extra forum in order not&lt;br /&gt;to distract the flow of communication or embarrass individuals.&lt;br /&gt;Another great advantage of the Internet for language learning is the endless&lt;br /&gt;amount of resources whether they are of cultural, historical and political nature,&lt;br /&gt;which are up-to-date, authentic and immediately available.&lt;br /&gt;These benefits for online learning become even more relevant for those languages&lt;br /&gt;that are less commonly taught, where good and authentic print material often is not&lt;br /&gt;available. Good face-to-face trainers usually have excellent and inspiring models of&lt;br /&gt;face-to-face teaching to base courses on. The challenge, however, is to find new&lt;br /&gt;inspiring and creative solutions for online delivery.&lt;br /&gt;Most of the published language course material is designed for face-to-face&lt;br /&gt;teaching or self study. Very little material has been published yet for the use of&lt;br /&gt;online course delivery. Hence, when using a course book, the challenge for the&lt;br /&gt;average online tutor is to design tasks around specific lessons that are meaningful&lt;br /&gt;to be covered online. It is essential to design the tasks in a way that they trigger&lt;br /&gt;online interaction. Most important is to keep students interested and motivated in&lt;br /&gt;carrying out the tasks and interact with each other. This requires a diversified&lt;br /&gt;repertoire of creative online teaching skills.&lt;br /&gt;Online course material should be sufficiently flexible to cater for a variety of&lt;br /&gt;learning styles, personal skills and interests. In order to collaborate successfully&lt;br /&gt;students must understand that they need to take an active part in their learning.&lt;br /&gt;Hence, they must be willing to interact, experiment with language and reflect their&lt;br /&gt;own learning progress.&lt;br /&gt;The most successful approach for online language course delivery is a blended&lt;br /&gt;approach including face-to-face sessions, synchronous and asynchronous sessions&lt;br /&gt;with the appropriate course material (books, CD-ROM, Audio CD). A precondition&lt;br /&gt;always is, that the tutors are all well trained online facilitators.3&lt;br /&gt;The amount that should be delivered online and how much should be delivered&lt;br /&gt;face-to face will depend on the target group, the learning level and the skills&lt;br /&gt;required. The distance that students might have to travel to a central location will&lt;br /&gt;also be an important consideration.&lt;br /&gt;Managing Discourse&lt;br /&gt;Successful online discussion and collaboration require specific communication skills&lt;br /&gt;and so it is essential for trainers to establish appropriate discourse strategies at the&lt;br /&gt;early stages of a course.&lt;br /&gt;Breakdown in collaborative communication often results from a lack of knowledge&lt;br /&gt;of how to use communication skills or discourse strategies appropriately. In a faceto-&lt;br /&gt;face discussion a simple nod, a smile or even just a look of approval is often&lt;br /&gt;sufficient to encourage someone or indicate interest. A puzzled face or a frown&lt;br /&gt;might indicate that clarification is necessary. In an online environment, a simple&lt;br /&gt;nod or frown must be expressed in words or symbols.&lt;br /&gt;The Challenges of Online Language Learning Page 4 of 4 GlobalEducator February, 2004&lt;br /&gt;Since online discourse techniques in an asynchronous learning environment differ&lt;br /&gt;from face-to- face conventions, they require special practice in order to facilitate&lt;br /&gt;cohesion in discussions and to enhance collaboration online. With a tutor's&lt;br /&gt;assistance, learners will develop their personal online style and learn to use the&lt;br /&gt;appropriate language and strategies to master meaningful discussions online. It is&lt;br /&gt;therefore useful to collect data about various discourse functions including how to:&lt;br /&gt;• agree or disagree politely;&lt;br /&gt;• ask for clarification;&lt;br /&gt;• support others;&lt;br /&gt;• show interest;&lt;br /&gt;• ask for reassurance;&lt;br /&gt;• refer to what has been said:&lt;br /&gt;• summarize etc.&lt;br /&gt;According to students' different communication styles and varied cultural&lt;br /&gt;backgrounds, it is vital to raise awareness with regard to different perceptions.&lt;br /&gt;Effective communication requires the enhancement of appropriate discourse&lt;br /&gt;management in an intercultural context.&lt;br /&gt;Conclusion&lt;br /&gt;The innovative potential of new technology in language course delivery is changing&lt;br /&gt;the ways we teach a language and indeed is changing the language itself.4 Because&lt;br /&gt;of the lack of facial and physical interaction online, a good mix of online course&lt;br /&gt;material needs to be designed in a way that it caters for opportunities to interact,&lt;br /&gt;practise and expose the learner to authentic material and situations.&lt;br /&gt;In order to keep the students' motivation levels high and to cater for a variety of&lt;br /&gt;learning styles, a blended approach seems to be the ideal way to deliver language&lt;br /&gt;courses online. This includes asynchronous and synchronous sessions, self study&lt;br /&gt;materials (language software, audio and video, Internet) as well as face-to-face&lt;br /&gt;sessions. Most important however is to provide a learning environment with&lt;br /&gt;guidance/facilitation by a creative tutor/teacher to keep students engaged and&lt;br /&gt;motivated.&lt;br /&gt;A successful online course also needs the online tutors to be properly trained&lt;br /&gt;and motivated. They need to have experienced online training as a student&lt;br /&gt;themselves in order to understand the subtleties of this exciting medium.5&lt;br /&gt;1 Schulen ans Netz, (an initiative of the Federal Ministry of Education and Research and the&lt;br /&gt;German Telecom, 1999. http://www.schulen-ans-netz.de&lt;br /&gt;2 www.abacus-uk,com&lt;br /&gt;3 Primetime, An English Course for Primary School Teachers, Cornelsen 2001-2003.&lt;br /&gt;4 Barnett, B. &amp;amp; Sharma, P., (2003).The Internet &amp;amp; Business English. Summertown Publications.&lt;br /&gt;5 Prendergast, G., (2003). Keeping Online Student Dropout Numbers Low. In GlobalEducator.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-2539175873793929240?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/2539175873793929240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=2539175873793929240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/2539175873793929240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/2539175873793929240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/05/sebuah-ulasan.html' title='Sebuah Ulasan:'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-6524921027618217637</id><published>2008-04-26T20:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:18:54.348-07:00</updated><title type='text'>Multimedia Dalam Pembelajaran</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;                  Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan  ini berkembang dengan pesat, sehingga hal ini mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi yang lain  diantaranya melalui jaringan internet.&lt;br /&gt;                  Salah satu bidang yang mendapat dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan. Berbagai cara telah dikenalkan serta digunakan dalam proses belajar mengajar (PBM) dengan harapan pengajaran guru akan lebih berkesan  dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga mutu pendidikan seiring dengan  perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;                  Perkembangan teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan lain-lain. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehinggga mendapatkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi pelajar, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi, karena tidak terfokus pada teks dari buku. Kemampuan teknologi multimedia yang telah terhubung internet akan semakin menambah kemudahan dalam mendapatkan informasi  untuk kepentingan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDIA PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam proses belajar mengajar di kelas perlu diperhatikan dua komponen utama yaitu metode mengajar dan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah media yang dibuat guna memenuhi berbagai kebutuhan dalam pembelajaran. AECT (Association for Education and Communicatian Technology) dalam Harsoyo (2002) memaknai media sebagai segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi. NEA (National Education Association) memaknai media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Raharjo (1991) menyimpulkan beberapa pandangan tentang media, yaitu Gagne yang menempatkan media sebagai komponen sumber, mendefinisikan media sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar.” Briggs berpendapat bahwa media harus didukung sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar, yang mendefinisikan media sebagai wahana fisik yang mengandung materi instruksional. Wilbur Schramm mencermati pemanfaatan media sebagai suatu teknik untuk menyampaikan pesan, di mana ia mendefinisikan media sebagai teknologi pembawa informasi/pesan instruksional. Yusuf hadi Miarso memandang media secara luas/makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.&lt;br /&gt;Harsoyo (2002) menyatakan bahwa banyak orang membedakan pengertian media dan alat peraga. Namun tidak sedikit yang menggunakan kedua istilah itu secara bergantian untuk menunjuk alat atau benda yang sama (interchangeable).&lt;br /&gt;Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan komponen yang saling berkaitan, sehingga penggunaan salah satu metode mengajar mempunyai konsekuensi pada peggunaan jenis media pembelajaran yang sesuai.&lt;br /&gt;                  Ciri-ciri umum media pembelajaran yaitu :&lt;br /&gt;1.      Media pembelajaran memiliki pengertian fisik dikenal dengan istilah perangkat keras (hadware)  yaitu suatu benda yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panca indera.&lt;br /&gt;2.      Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal dengan istilah perangkat lunak (software) yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang akan disampaikan kepada siswa.&lt;br /&gt;3.      Penekanan media pembelajaran terdapat pada audio dan visual&lt;br /&gt;4.      Media pembelajaran memiliki pengertian  alat bantu pada proses belajar baik didalam maupun diluar kelas.&lt;br /&gt;5.      Media pembelajaran digunakan dalam rangka  komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;6.      Media pembelajaran dapat digunakan secara masal atau perorangan.&lt;br /&gt;Dalam proses belajar mengajar media pembelajaran berfungsi sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.      Media dapat menyiarkan informasi penting&lt;br /&gt;2.      Media dapat digunakan untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran&lt;br /&gt;3.      Media dapat menambah pengayaan dalam belajar&lt;br /&gt;4.      Media dapat menunjukkan hubungan-hubungan antar konsep&lt;br /&gt;5.      Media dapat menyajikan pengalaman-pengalaman yang tidak dapat ditunjukkan guru&lt;br /&gt;6.      Media dapat membantu belajar perorangan&lt;br /&gt;7.      Media dapat mendekatkan hal-hal yang ada diluar kelas ke dalam kelas.&lt;br /&gt;Umar Hamalik (1986) dan Sadiman, dkk (1986) mengelompokkan media berdasarkan jenisnya dalam beberapa kelompok:&lt;br /&gt;1.      Media auditif yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti tape recorder.&lt;br /&gt;2.      Media visual yaitu media yang hanya mengandalkan indera penglihatan dalam wujud visual.&lt;br /&gt;3.      Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.&lt;br /&gt;Diantara ketiga media pembelajaran diatas yang paling baik adalah media audiovisual. Salah satu contoh media audiovisual adalah multimedia.&lt;br /&gt;Menurut  Raharjo (1991) media pembelajaran dikelompokkan menjadi : &lt;br /&gt;1.      Media Audio : radio, piringan hitam, pita audio, tape recorder, dan telepon&lt;br /&gt;2.      Media Visual :&lt;br /&gt;a.       Media visual diam : foto, buku, ansiklopedia, majalah, surat kabar, buku referensi dan barang hasil cetakan lain, gambar, ilustrasi, kliping, film bingkai/slide, film rangkai (film stip) , transparansi, mikrofis, overhead proyektor, grafik, bagan, diagram, sketsa, poster, gambar kartun, peta, dan globe.&lt;br /&gt;b.      Media visual gerak : film bisu .&lt;br /&gt;3.        Media Audio-visual&lt;br /&gt;a.       Media audiovisual diam : televisi diam, slide dan suara, film rangkai dan suara , buku dan suara.&lt;br /&gt;b.      Media audiovisual gerak : video, CD, film rangkai dan suara, televisi, gambar dan suara.&lt;br /&gt;4.       Media Serba aneka :&lt;br /&gt;a.       Papan dan display : papan tulis, papan pamer/pengumuman/majalah dinding, papan magnetic, white board, mesin pangganda.&lt;br /&gt;b.      Media tiga dimensi : realia, sampel, artifact, model, diorama, display.&lt;br /&gt;c.       Media teknik dramatisasi : drama, pantomim, bermain peran, demonstrasi, pawai/karnaval, pedalangan/panggung boneka, simulasi.&lt;br /&gt;d.      Sumber belajar pada masyarakat : kerja lapangan, studi wisata, perkemahan.&lt;br /&gt;e.       Belajar terprogram&lt;br /&gt;f.       Komputer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULTI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;1.      PENGERTIAN MULTIMEDIA&lt;br /&gt;Menurut Wikipedia Indonesia ensiklopedia berbahasa Indonesia pengertian multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool)  dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat bernavigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Sedangkan Jamaluddin dan Zaidatun  menerangkan bahwa multimedia sebagai proses komunikasi interaktif berasaskan teknologi komputer yang menggabungkan penggunaan unsur-unsur media dalam persembahan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM MULTIMEDIA&lt;br /&gt;Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam multimedia yang baik adalah :&lt;br /&gt;a.             Pengoperasian yang mudah dan familiar&lt;br /&gt;b.            Mudah untuk install ke computer yang akan digunkanan&lt;br /&gt;c.             Media pembelajaran yang interaktif dan komunikatif&lt;br /&gt;d.            Sistem pembejaran yang mandiri artinya siswa dapat belajar dengan mandiri baik disekolah maupun dirumah tanpa bimbingan dari guru.&lt;br /&gt;e.             Sedapat mungkin dengan biaya yang ringan dan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      JENIS-JENIS MULTIMEDIA&lt;br /&gt;Berdasarkan kegunaannya multimedia pembelajaran ada 2 macam yaitu:&lt;br /&gt;a.       Multimedia presentasi pembelajaran . &lt;br /&gt;      Multimedia presentasi pembelajaran adalah alat bantu guru dalam proses pembelajaran dikelas dan tidak menggantikan guru secara keseluruhan. Contohnya Microsoft Power Point.&lt;br /&gt;b.      Multimedia pembelajaran mandiri.&lt;br /&gt;                  Multimedia pembelajaran mandiri adalah sofware pembalajaran yang dapat dimanfaatkan oleh siswa secara mandiri tanpa bantuan guru. Multimedia pembelajaran mandiri harus dapat memadukan explicit knowledge dan tacit knowledge , mengandung fitur assemen untuk  latihan,ujian  dan simulasi termasuk tahapan pemecahan masalah.Contohnya Macromedia Authorware atau Adobe Flash.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERLUNYA MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;                  Didalam kegiatan proses belajar mengajar (PBM) sering kali dihadapkan pada materi yang abstrak dan diluar pengalaman siswa sehari-hari,sehingga  materi ini sulit untuk diajarkan oleh guru dan dipahami oleh siswa..Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dalam  proses belajar mengajar. Visualisasi pada proses pembelajaran berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia diharapkan membuat visualisasi lebih menarik.&lt;br /&gt;Edgar Dale dalam Rahardjo (1991) menggambarkan pentingya visualisasi dan verbalistis dalam pengalaman belajar yang disebut “Kerucut pengalaman Edgar Dale” dikemukakan bahwa ada suatu kontinuum dari konkrit ke abstrak antara pengalaman langsung, visual dan verbal dalam menanamkan suatu konsep atau pengertian. Semakin konkrit pengalaman yang diberikan akan lebih menjamin terjadinya proses belajar. Namun, agar terjadi efisiensi belajar maka diusahakan agar pengalaman belajar yang diberikan semakin abstrak (“go as low on the scale as you need to ensure learning, but go as high as you can for the most efficient learning”). Raharjo (1991 menyatakan bahwa visualisasi mempermudah orang untuk memahami suatu pengertian.&lt;br /&gt;Dalam hal ini computer dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multideminsional secara interaktif. Visualisasi tersebut akan mempermudah dalam memilih, mensintesa dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahami. Multimedia hanya salah satu sarana yang mempermudah proses belajar mengajar tetapi belum tentu sesuai untuk menyajikan semua pokok bahasan dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELEBIHAN MULTIMEDIA DALAM PENDIDIKAN&lt;br /&gt;1.            Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif&lt;br /&gt;2.            Mampu menimbulkan rasa senang selama PBM berkangsung sehingga akan menambah motivasi siswa.&lt;br /&gt;3.            Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung sehingga tercapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;4.            Mampu menvisualisasikan materi yang abstrak.&lt;br /&gt;5.            Media penyimpanan yang relative gampang dan fleksibel&lt;br /&gt;6.            membawa obyek yang sukar didapat atau berbahaya ke dalam lingkungan belajar&lt;br /&gt;7.            menampilkan obyek yang terlalu besar kedalam kelas&lt;br /&gt;8.            menampilkan obyek yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEKURANGAN MULTIMEDIA DALAM PENDIDIKAN&lt;br /&gt;1.            Biaya relative mahal untuk tahap awal&lt;br /&gt;2.            Kemampuan  SDM dalam penggunaan multimedia masih perlu ditingkatkan.&lt;br /&gt;3.            Belum memadainya perhatian dari pemerintah&lt;br /&gt;4.            Belum memadainya infrastruktur untuk daerah tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;A.                                                                Kesimpulan&lt;br /&gt;Multimedia merupakan salah satu sarana yang akan mempermudah proses belajar mengajar.Hadirnya multimedia di dunia pendidikan akan menjadi tanpa makna jika tidak dipergunakan, sehingga kompetensi warga belajar terhadap multimedia harus senantiasa ditingkatkan. Pada era sekarang ini muncul kebutuhan software yang dapat mempermudah dan merperindah tampiran presentasi dalam pengajaran. Kebutuhan ini dapat kita peroleh dari produk program Microsoft Power Point yang merupakan salah satu dari paket Microsoft office. Pogram ini menyediakan banyak fasilitas untuk membuat suatu presentasi.tas untuk membuat suatu presentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.                 Evaluasi&lt;br /&gt;1.            Mengapa kita perlu menggunakan multimedia dalam pembelajaran? Jelaskan!&lt;br /&gt;2.            Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan multimedia dalam pembelajaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsyad, Azhar, 1996,Media Pembelajaran , Jakarta, Raja Grafindo Persada&lt;br /&gt;Adri Muhammad, 2003, Ilmu Komputer, http://muhammadadri.wordpress.com&lt;br /&gt;Hamalik, Oemar, 1986, Media Pendidikan, Bandung,Penerbit Alumni&lt;br /&gt;R. Bambang Aryan Soekisno,2007, Pengembangan ICT Dalam Pembelajaran di SMA, Bogor&lt;br /&gt;Ouda Teda Ena, Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi, Yogyakarta&lt;br /&gt;Pusat Perkembangan Kurikulum Kementerian Pendidikan Malaysia,2000, Produksi Multimedia&lt;br /&gt;Marsel Ruben Payong, 2001, Beberapa Masalah dalam Pembelajaran multimedia, Harian Sinar Harapan&lt;br /&gt;Siswo Saroso, Upaya Pengembangan Pendidikan Melalui Pembelajaran Berbasis Multimedia&lt;br /&gt;Sadiman, Arief S, dkk, 2002, Media Pendidikan, Jakarta, Puteskom Diknas &amp;amp; PT Raja Grafindo Perkasa&lt;br /&gt;            http: // ms. Wikipedia .org/wiki/Multimedia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-6524921027618217637?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/6524921027618217637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=6524921027618217637' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/6524921027618217637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/6524921027618217637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/04/multimedia-dalam-pembelajaran.html' title='Multimedia Dalam Pembelajaran'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-4909617471046107455</id><published>2008-04-24T05:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T05:35:27.302-07:00</updated><title type='text'>LANDASAN DAN ALIRAN PENDIDIKAN</title><content type='html'>LANDASAN DAN ALIRAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluaan&lt;br /&gt;Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Yang sudah barang tentu dalam menjalankan kelanjutan pendidikan tersebut harus ada alat sebagai pegangan yang salah satunya adalah adanya kurikulum.&lt;br /&gt;Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu:&lt;br /&gt;(1) filosofis;&lt;br /&gt;(2) psikologis;&lt;br /&gt;(3) sosial-budaya; dan&lt;br /&gt;(4) ilmu pengetahuan dan teknologi..&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.&lt;br /&gt;1.      Landasan Filosofis&lt;br /&gt;Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. (keterangan lebih lanjut pada bab Uraian)&lt;br /&gt;2.      Landasan Psikologis&lt;br /&gt;Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu :&lt;br /&gt; (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar.&lt;br /&gt;Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;3.      Landasan Sosial-Budaya&lt;br /&gt;Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.&lt;br /&gt;Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.&lt;br /&gt;Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.&lt;br /&gt;Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.&lt;br /&gt;Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.&lt;br /&gt;4.      Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi&lt;br /&gt;Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang, Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.&lt;br /&gt;Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian..&lt;br /&gt;Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.&lt;br /&gt;II. Uraian&lt;br /&gt;Lembaga pendidikan pada umumnya adalah sarana bagi proses pewarisan maupun transformasi pengetahuan dan nilai-nilai antar generasi. Dari sini dapat terpahami bahwa pendidikan senantiasa memiliki muatan ideologis tertentu yang antara lain terekam melalui konstruk filosofis yang mendasarinya.&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka dalam membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurangnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.&lt;br /&gt;Perspektif O’neil (H.A.R. Tilaar)  memandang titik tolak pedagogik dari tindakan pemanusiaan. Sehingga pendidikan tidak bisa dilepaskan dari filsafat manusia. Jadi, justru perbedaan persepsi tentang manusia inilah yang kemudian melahirkan berbagai aliran dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Di dunia dikenal beberapa aliran utama filsafat pendidikan yang di antaranya dapat diuraikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perenialisme&lt;br /&gt;Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.&lt;br /&gt;Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:&lt;br /&gt;Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)&lt;br /&gt;Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)&lt;br /&gt;Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)&lt;br /&gt;Beberapa tokoh lain pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.&lt;br /&gt;Adapun norma fundamental pendidikan menurut  J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.&lt;br /&gt;Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.&lt;br /&gt;Aliran perennialisme meliputi&lt;br /&gt;a) seni dan sains dengan dimensi perennial yang bersifat integral dengan sejarah manusia,&lt;br /&gt;b) Pertama yang harus diajarkan adalah tentang manusia, bukan mesin atau teknik. Sehingga tegas aspek manusiawinya dalam sains dan nalar dalam setiap tindakan&lt;br /&gt;c)  mengajarkan prinsip-prinsip dan penalaran ilmiah, bukan fakta,&lt;br /&gt;d) mencari hukum atau ide yang terbukti bernilai bagi dunia yang kita        diami,&lt;br /&gt;e) Fungsi pendidikan adalah untuk belajar hal-hal tersebut dan mencari kebenaran baru yang mungkin,&lt;br /&gt;f) Orientasi bersifat philosophically-minded (fokus pada perkembangan personal),&lt;br /&gt;g) memiliki dua corak, yaitu&lt;br /&gt;(1) Perennial Religius&lt;br /&gt;Membimbing individu kepada kebenaran utama (doktrin, etika dan penyelamatan religius). Memakai metode trial and error untuk memperoleh pengetahuan proposisional.&lt;br /&gt;(2) Perennial Sekuler&lt;br /&gt; Promosikan pendekatan literari dalam belajar serta pemakaian seminar dan diskusi sebagai cara yang tepat untuk mengkaji hal-hal yang terbaik bagi dunia (Socratic method). Disini, individu dibimbing untuk membaca materi pengetahuan secara langsung dari buku-buku sumber yang asli sekaligus teks modern. Pembimbing berfungsi memformulasikan masalah yang kemudian didiskusikan dan disimpulkan oleh kelas. Sehingga, dengan iklim kritis dan demokratis yang dibangun dalam kultur ini, individu dapat mengetahui pendapatnya sendiri sekaligus menghargai perbedaan pemikiran yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Essensialisme&lt;br /&gt;Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.&lt;br /&gt;Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.&lt;br /&gt;Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.&lt;br /&gt;•         Esensialisme adalah suatu filsafat dalam aliran pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda.&lt;br /&gt;Aliran pendidikan esensialisme secara umum menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.&lt;br /&gt;Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresivisme&lt;br /&gt;Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;Aliran Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.&lt;br /&gt;Aliran pendidikan progresivisme melihat manusia sebagai&lt;br /&gt;(a) Pemecah persoalan (problem-solver) yang baik.&lt;br /&gt;(b) Oposisi bagi setiap upaya pencarian kebenaran absolut.&lt;br /&gt;(c) Lebih tertarik kepada perilaku pragmatis yang dapat berfungsi dan berguna dalam hidup.&lt;br /&gt;(d) Pendidikan dipandang sebagai suatu proses.&lt;br /&gt;(e) Mencoba menyiapkan orang untuk mampu menghadapi persoalan aktual atau potensial dengan keterampilan yang memadai.&lt;br /&gt;(f) Mempromosikan pendekatan sinoptik dengan menghasilkan sekolah dan masyarakat bagi humanisasi.&lt;br /&gt;(g) Bercorak student-centered.&lt;br /&gt;(h) Pendidik adalah motivator dalam iklim demoktratis dan menyenangkan. (i) Bergerak sebagai eksperimentasi alamiah dan promosi perubahan yang berguna untuk pribadi atau masyarakat.&lt;br /&gt;Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksionisme&lt;br /&gt;Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.&lt;br /&gt;Aliran Pendidikan rekonstruksionisme Merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.&lt;br /&gt;Fokus dalam aliran pendidikan Rekonstruksionisme adalah berikut ini.&lt;br /&gt;(a) Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak   harus dirangkaikan   dengan penyelesaian problema sosial yang signifikan.&lt;br /&gt;(b) Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para    Progresivist&lt;br /&gt;(c)  Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan.&lt;br /&gt;(d) Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan.&lt;br /&gt;(e)  Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya.&lt;br /&gt;(f) Learn by doing! (Belajar sambil bertindak).&lt;br /&gt;Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keempat aliran pendidikan di atas, sebenarnya masih ada beberapa aliran yaitu:&lt;br /&gt;1. Idealisme yang memandang bahwa realitas akhir adalah roh bukan materi maupun fisik. Pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah.&lt;br /&gt;2. Realisme yang memandang realitas adalah dualitis yang terdiri dari atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian yaitu&lt;br /&gt; a) subyek yang menyadari dan      mengetahui &lt;br /&gt; b) realita diluar manusia  yang  dijadikan obyek pengetahuan manusia&lt;br /&gt;3. Materialisme yang berpandangan bahwa hakekat realisme adalah materi bukan ruhani, spiritual ataupun supernatural.&lt;br /&gt;4. Pragmatisme yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami&lt;br /&gt;5. Eksistensialisme yang memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Analisis dan Pembahasan&lt;br /&gt;Dari uraian yang telah dikemukakan diatas dapatlah diambil sebuah analisis bahwa&lt;br /&gt;Aliran Perenialisme adalah sebuah aliran yang berlatar belakang sebuah pandangan bahwa dunia ini sudah kacau, maka untuk menyelamatkan dunia perlu mengembalikan nilai filsafat yang berpegang teguh nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kokoh, kuat dan teruji. Namur demikian dalam mengikuti perkembangan zaman, agak kaku.&lt;br /&gt;Aliran Perenialisme  berkembang di kawasan Eropa yang pada saat itu pendidikan hanya berlaku dikalangan ningrat yang menanamkan masalah nilai-nilai klasik bukan hal-hal yang praktis. Mak dari penulis menganggap aliran ini kurang berkeadilan.&lt;br /&gt;Aliran Essensialisme adalah sebuah aliran yang secara umum menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia secara realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Penutup&lt;br /&gt;Simpulan&lt;br /&gt;Setiap orang, pasti menginginkan hidup bahagia. Salah satu diantaranya yakni hidup lebih baik dari sebelumnya atau bisa disebut hidup lebih maju. Hidup maju tersebut didukung atau dapat diwujudkan  melalui pendidikan. Dikaitkan dengan penjelasaan diatas, menurut pendapat saya filsafat pendidikan yang sesuai atau mengarah pada terwujudnya kehidupan yang maju yakni filsafat yang konservatif yang didukung oleh sebuah idealisme, rasionalisme (kenyataan). Itu dikarenakan filsafat pendidikan mengarah pada hasil pemikiran manusia mengenai realitas, pengetahuan, dan nilai seperti yang telah disebutkan diatas.&lt;br /&gt; Masing-masing aliran pendidikan memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga para pelaku pendidikan harus mempelajari semua aliran dan mengkolaborasikannya sehingga akan diperoleh suatu sistem pendidikan atau pola pembelajaran  yang baik&lt;br /&gt;      Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Sumber&lt;br /&gt;Admin, 2006. Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan, Situs informasi Indonesia Serba serbi Dunia Pendidikan, &lt;a href="http://edu-articel.com/" target="_parent"&gt;http://edu-articel.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Hidayanto, D.N, 2000. Diktat Landasan Pendidikan, Untuk Mahasiswa, Guru dan Praktisi Pendidikan, Forum Komunikasi Ilmiah FKIP Universitas Mulawarman, Samarinda&lt;br /&gt;3.   Pasti, Y. Priyono, 2007, Menuju Pendidikan Demokratis Humanistik, &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/23/Didaktika/1916660.htm" target="_parent"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/23/Didaktika/1916660.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4.  Gunarto, H, 2004. Mengusung Pendidikan Humanistik,&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.freelists.org/archives/ppi/05-2004/msg00284.html" target="_parent"&gt;http://www.freelists.org/archives/ppi/05-2004/msg00284.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5.   O’neil, F. William, 2001. Ideoligi-Ideologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta&lt;br /&gt;6.   Tjaya, Thomas Hidya, 2004. Mencari Orientasi Pendidikan,   &lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/04/Bentara/824931.htm" target="_parent"&gt;http://www.kompas.com/kompas-&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/04/Bentara/824931.htm" target="_parent"&gt;cetak/0402/04/Bentara/824931.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhmad Sudrajat, 2006, Landasan Pendidikan,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com/"&gt;http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;      8.  Filosofis Pendidikan          http://pakguruonline.pendidikan.n&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-4909617471046107455?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/4909617471046107455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=4909617471046107455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/4909617471046107455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/4909617471046107455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/04/landasan-dan-aliran-pendidikan.html' title='LANDASAN DAN ALIRAN PENDIDIKAN'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-1582702505978964230</id><published>2008-04-01T17:51:00.002-07:00</published><updated>2008-04-01T17:52:48.333-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Ulasan Tentang Globalisasi</title><content type='html'>Sebuah Ulasan Tentang Globalisasi&lt;br /&gt;Globalisasi adalah suatu proses penyebaran hasil karya dan pemikiran suatu budaya sehingga melembaga dalam kebudayaan di seluruh dunia. Era globalisasi membawa berbagai perubahan yang menyentuh sampai pada dasar kehidupan manusia. Perubahan tersebut disebabkan oleh peningkatan kualitas hidup, pelestarian lingkungan hidup serta perjuangan hak asasi manusia.&lt;br /&gt;Kemajuan bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, serta makin menonjolnya kepentingan ekonomi dan perdagangan yang telah mendorong terwujudnya globalisasi, menjadi peluang terjadinya infiltrasi budaya barat sebagai ukuran tata nilai dunia.  Tidak jarang terjadi, demi kepentingan ekonomi, suatu negara terpaksa menerima masuknya budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi negara itu sendiri dan berakibat pada pola pikir dan pola tindak yang ditandai dengan pemikiran Negara Federasi, menurun-nya rasa sosial dan semangat ke-bhineka-an yang mengarah pada disintegrasi bangsa dan pelanggaran hukum serta pola hidup individualisme dan konsumerisme yang bertentangan dengan pola hidup sederhana dan semua itu bertentangan dengan nilai-nilai budaya asli bangsa Indonesia. Sebagai contoh pada saat ini semua generasi baik muda maupun tua, baik di desa maupun di perkotaan, baik masyarakat berstatus sosial ekonomi rendah maupun tinggi pada umunya mengalami ketergantungan untuk memiliki hand phone. Kepemilikan hand phone tersebut apakah dengan motivasi nilai guna ataupun gengsi/prestise dengan berbagai alasan masing-masing pemakainya.&lt;br /&gt;Kita tidak mungkin menghindari globalisasi dan kita tidak dapat menghalangi dampak globalisasi karena penyebab utama ikut arus globalisasi adalah dari diri kita sendiri. Apalagi dalam kehidupan modern manusia selalu bersentuhan dengan wahana-wahana pemicu globalisasi seperti tekinfo, transportasi, paraiwisata, pergaulan global, dll.&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang tangguh. Budaya nasional perlu dibina dan dikedepankan agar dapat berfungsi sebagai pemersatu anak bangsa, karena tidak ada bangsa yang berhasil maju kecuali maju sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak terpecah-pecah dalam mempertahankan jati diri dan budayanya.&lt;br /&gt;Sebagai pribadi warga Indonesia dituntut untuk dapat membentengi dan memilah dampak globalisasi yang negative dengan beberapa hal di antaranya:&lt;br /&gt;1. Pendidikan agama yang kuat sebagai dasar untuk melawan prinsip hedonistic&lt;br /&gt;2. Pendidikan nilai moral yang baik untuk mencegah dan menyaring hal-hal yang buruk&lt;br /&gt;3. Menambah dan mempertinggi tingkat pendidikan  sehingga mempunyai ilmu dan wawasan untuk memamfaatkan dampak globalisasi demi kemaslahatan hidup dan menyaring hal yang tidak baik&lt;br /&gt;4. Menambah dan mempertinggi tingkat ekonomi&lt;br /&gt;Oleh: Drs. Rakim (Pasca Sarjana Unmul (Bontang) Teknologi Pendidikan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-1582702505978964230?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/1582702505978964230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=1582702505978964230' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/1582702505978964230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/1582702505978964230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/04/sebuah-ulasan-tentang-globalisasi.html' title='Sebuah Ulasan Tentang Globalisasi'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3057904469009217045.post-378874635497213273</id><published>2008-04-01T17:51:00.001-07:00</published><updated>2008-04-01T17:51:14.737-07:00</updated><title type='text'>test</title><content type='html'>test&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3057904469009217045-378874635497213273?l=rakim-ypk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/feeds/378874635497213273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3057904469009217045&amp;postID=378874635497213273' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/378874635497213273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3057904469009217045/posts/default/378874635497213273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/04/test.html' title='test'/><author><name>Rakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00232687990710687384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_QSAUB1vSiQE/SBPvbJOhvSI/AAAAAAAAAAU/TvsxWzgLQ8A/S220/PAS+POTO.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
